Daftar Isi

Selasa, 23 April 2013

BAHAYA RACUN TEMBAKAU


ADAPTASI NASKAH THE DANGERS OF TOBACCO
KARYA ANTON CHEKOV: OLEH COK SAWITRI
BAHAYA ‘RACUN’ TEMBAKAU – Monologue
Panggung dibangun sebagai ruang seminar yang khas mengesankan sebagai ruang seminar  klub intelektual, atau di sebuah klub elit social di sebuah kota kecil. Ical Nyukhin melangkah masuk dengan penampilan yang mengesankan; berkumis rapi dengan cabang yang seperti disisir serta jenggot yang jelas terawat, kumisnya rapi dan dia mengenakan mantel, celana panjang yang kencang dan dasi yang nampak dibalik rompi. Langkah-langkah Ical Nyukhin seperti meniru bentuk salib: maju mundur, ke kiri dan ke kanan, sebelum akhirnya terhenti di ujung tengah ruangan, di dekat sebuah mimbar, dengan meja kecil di sebelahnya, sebuah laptop dan layar lcd setengah menyala dan ical nyukhin segera membuka mantelnya dan menyesuaikan rompinya agar jasnya nampak tak kusut.

ICAL NYUKHIN (tersenyum LEBAR): Hadirin, kaum ibu (kemudian memandang ke arah para lelaki) juga kaum bapak! (MERAPIKAN KUMIS, DENGAN UJUNG JARI MANIS) Seseorang telah menyarankan kepada istri saya bahwa mungkin lebih baik jika saya memberikan semacam ceramah di sini pada hari ini; yang sifatnya terbuka untuk masyarakat umum, dengan tujuan pengumpulan dana. No problemo! No Problemo! Tidak ada masalah dengan saya. Mengajar bak dosen? Mengapa tidak? Ceramah? Sungguh, sama sekali tidak memberatkan saya. Tentu saja, Anda semua mengerti, saya bukan profesor, saya tidak memiliki gelar akademis, tapi selama hampir tiga puluh tahun saya dikenal sebagai orang yang bekerja dengan pikiran! Dan katanya, itu beresiko besar bagi kesehatan saya, sebab saya bekerja dengan pikiran yang berat sebab katanya pikiran saya itu selalu bersifat ilmiah! Ilmiah! Berpikir keras! Merenungkan apa saja! Dan memang kadang-kadang saya juga menulis artikel ilmiah, jika Anda bisa percaya, dan jika Anda pernah sempat membaca bahwa … Apa yang saya maksud adalah:…. Tidak! (agak celingukan) Tidak persis ilmiah! Tapi jika Anda mengunakan sebutan bahwa pengungkapannya adalah sejenis jenis gaya ilmiah. Mungkin itu maksudnya! Contohnya, saya bicara soal fakta; Nah, saya telah menulis sebuah artikel yang sangat menarik berjudul “Masalah dengan Serangga.” Putri saya menyukai sekali artikel itu, terutama bagian kutu busuk! Saya membacakan artikel itu kepada mereka, berulang-ulang: kutu busuk! Tentu saja, anda, siapa saja dapat menulis tentang semua soal kutu busuk seperti yang Anda inginkan, seperti yang pernah anda alami jika pernah bergaul dengan kutu busuk, yang satu-satunya dipercayai dapat mengusir kutu busuk adalah dengan menyemprotkan obat nyamuk sebanyak-banyaknya ke sarang mereka! Sampai mereka membusuk!….. Dan bahkan kutu busuk ini juga dapat ditemukan di piano, tidak cuma dilipitan bantal dan kasur, kutu busuk juga bisa ditemukan dalam otak kita! Harus juga sesekali disemprot obat nyamuk! Ini yang membuat putri saya tertawa terpingkal-pingkal; lalu melompat-lompat: kutu busuk dalam otak kita!
Sebagai subyek ceramah kali ini, saya telah memilih-(terdiam, mendekati laptop, lalu memandang kiri kanan)….Saya pikir, saya dapat menempatkan seperti itu: ….Hm….Efek berbahaya yang dapat diamati pada manusia sebagai akibat langsung dari kegemaran terhadap tembakau!…..Hm Iya, Saya sendiri seorang perokok, perokok berat bahkan! Perokok aktif, nah, itu istilahnya! Itu sebutannya. Kebiasaan yang kata orang di zaman globalisasi ini sebagai; itu kebiasaan berbahaya! Tapi apa boleh buat, istri saya mengatakan, bahwa saya harus berbicara hari ini tentang bahaya tembakau! Bahaya racun tembakau! Dan saya orang yang jujur, maaf: saya sendiri penggemar racun tembakau itu….Maaf. (MEMPERBAIKI KUMISNYA, TERSENYUM DENGAN BAHU TERANGKAT)
Jadi tentu saja, saya tidak mengelak, saya tahu apa yang saya sampaikan kepada sidang ilmiah ini? Saya selalu berkeyakinan; ceramah saya ini, di klub sosial paling elite ini; pastilah hadirin adalah orang-orang beradab dan intelek yang sangat perhatian kepada kesehatan. (menoleh kiri kanan): istri saya memang mengagumkan, dia tahu bagaimana caranya meyakinkan anda semua untuk nantinya mau menjadikan amal ini sebagai kehormatan. Dia tahu, sekarang sedang trend: semua orang menuduh rokok itu sebagai salah satu sebab penyakit serangan jantung! Kemudian penyakit paru-paru….Penyakit jantung yang dikenal sebenarnya baru-baru juga; itu penyakit yang katanya juga penyakit elit, berbeda dengan penyakit paru-paru; TBC itu penyakit kaum jelata….Iya khan? …Istri saya memang pintar, cerdik dan juga sedikit licik….Tidak sedikit, dia kadang culas dan telengas. Dia tahu; emosi kaum elit dan intelek untuk persoalan ini; kemarin malam saya melihat di televisi, beberapa orang yang dulunya perokok, menyerukan puji sukur kepada tuhan, telah terbebas dari rokok, terbebas dari serungan racun tembakau. Saya juga membaca bagaimana pemerintah pun sibuk memasang tanda larangan merokok; dengan tanda silang yang merah; kesannya marah dan berdarah. Tanda kematian yang sakit. Para perokok disingkirkan dari tempat tempat umum: dari ruang-ruang publik…..tiba-tiba saja ada kesan jika anda tidak merokok; anda lebih beradab. Lebih gilanya, ada sekelompok orang mengira; merokok akan menghalangi masuk surga; perokok menjadi pendosa….(TERKEKEH-KEKEH): ini sangat tidak ilmiah. Iya, sangat tidak ilmiah… Tapi istri saya memesan tema ini, jelas dia ada motivasinya: meyakinkan klub sosial ini nantinya mengumpulkan dana untuk kegiatannya, memenuhi seleranya…. Cerdik; sebab Negara ini selalu dipenuhi oleh orang-orang emosional, yang sering ketakutan jika sudah berhadapan dengan soal moral… Ada lagi yang mengira merokok itu melanggar hak asasi manusia: ini sudah tidak tahu, mesti saya persoalkan apa….agak seram menurut saya pikiran ini. Cobalah pikir mengurangi emosional anda: asap rokok di tepi jalan, asap rokok di dalam ruangan; tetapi membiarkan asap kendaraan meletup dalam kemacetan transportasi kita yang sakit; Maaf, saya tidak tengah meniru pembicaraan politis. Ada wakil rakyat yang berusaha bicara soal merokok…..tidak merokok, boleh….tidak boleh: lalu berusaha nampak beradab; tetapi canggung; sebab wakil rakyat ini dipilih oleh manusia, yang rata-rata perokok, dan sialnya sebagian besar gajinya dari hasil pajak rokok! Pajak! Pajak! Istri saya tahu benar bagaimana caranya menghindari Pajak…sebab anda tahu: terlalu bodoh jika percaya uang yang dikumpulkan melalui pajak itu akan mensejahterakan: semua tahu; bagaimana seorang anak muda bernama: Maaf: saya memakai inisial, menghormati praduga tak bersalah:G yang didakwa; menggelapkan uang pajak….Tidak main-main, kelas pegawai rendahan saja, menggelapkan pajak sebesar itu….Dan anak muda itu masih bisa menonton tennis juga masih bisa jalan-jalan ke luar negeri….Itu tidak akan dikomentari soal moral; apalagi fatwa….tidak akan. Tapi istri saya yakin; itu malah jadi inspirasi bagus; apakah anak muda itu berbahaya? Sama seperti saya bertanya:  Apakah kebiasaan merokok saya itu yang berbahaya? Atau saya yang berbahaya? Kenapa Tidak? Mari terbuka saja atau apa yang saya peduli dengan segala macam peringatan berbahaya itu! Pernah saya perhatikan: apanya yang berbahaya? Mengisap tembakau yang sudah dilinting sebagai rokok dengan cukai yang memperkaya kas Negara; lalu mengisap pajak itu dengan gaya melinting juga? (CELINGUKAN, SUARA LANGKAH KAKI TERDENGAR MENDEKATI).
Kaum Ibu dan Kaum Bapak….Saya harap, mari mencurahkan perhatian serius untuk apa yang akan saya katakan. Kalau tidak, saya benar-benar tidak berpikir kita mencapai pencerahan, kita telah tahu meditasi, kursus yoga, kursus sufi, olah raga di pagi atau senja hari: berdoa, sembahyang; semuanya untuk ketenangan hati. Jika ada seseorang atau lebih dalam ruangan ini, yang memiliki keraguan untuk kesahihan ceramah gaya ilmiah saya ini, yang memang harus sekering tembakau, segaring mulut di pagi hari yang tak diizinkan mengisap rokok: siapa yang tidak menyukai ceramah ini? Saya orangnya sangat demokratis, karena itu, saya membebaskan untuk tidak mendengarkan, atau pergi jika anda tidak nyaman. Hm…..Saya merasa sebenarnya ruangan yang adem seperti ini, bicara soal ini itu enaknya dengan merokok! …. (Mengatur rompinya, mencoba laptopnya, lcd memperlihatkan tanaman tembakau)
Mari, saya akan bicara sangat ilmiah; membuat titik khusus yang kelak bisa diuji: mengingatkan setiap dokter yang mungkin ada dalam ruangan ini, saya cuma mengatakan nikotin itu banyak gunanya. Nikotin memang sifatnya adiktif. (LAYAR LCD MENAMPAKAN POTRET KENTANG, TOMAT, PAPRIKA, KEMBANG KOL, TOMAT, TERUNG, CABAI DAN TEH): Bahkan, nikotin merupakan bagian dari rantai makanan alami dan kebanyakan dari kita mengkonsumsinya setiap hari, dengan elemen ditemukan dalam makanan yang umum, seperti: Kentang, tomat, paprika, kembang kol, terung, cabai, dan teh. Aneh, kenapa kemudian nikotin itu dijadikan si tertuduh: tembakau si penyebab.
Bukankah nikotin itu juga digunakan dalam pengobatan? Dimakan setiap saat? Pada titik khusus ini, saya menjadi curiga dan merasa sangat malang. Saya dididik untuk selalu curiga atas apa saja himbauan di negeri ini. Sejak lama. Disuruh bayar pajak, ternyata pajak itu dihisap. Disuruh ikut pemilu, ternyata hanya untuk memilih wakil dan pemimpin yang tidak jelas pekerjaannya…..saya curiga, dididik untuk selalu curiga: pada larangan ini itu, apalagi kalau sudah ada kalimat demi moral dan urusan masuk surga…..(TERKEJUT DAN MELONGOK KE ARAH PENONTON, LALU MENARIK NAFAS)
Tembakau! Tembakau! Nikotin. Nikotin. Kenapa pikiran tidak diarahkan kepada mencari manfaat bau tembakau? Marilah berpikir positif dan tepat, lurus dan jujur. Jauhkan dari prasangka, arif dan bijaksana. Bukankah, itu air tembakau ditakuti oleh lintah dan pacet? Juga kalau ada kumbang nakal, yang kalau mencium bau tembakau akan seketika menjadi kejang dan gugup, nah itu! (NAMPAK KEGIARANGAN) Itu pasti membuat kaum ibu dan kaum bapak sekarang menyadari secara nyata, secara fakta; merasakan manfaat tembakau, iya kan? Iya bukan? Tembakau! Tembakau! Mari bicara soal Tembakau sebagai tanaman….. Tembakau di negara kita adalah produk pertanian, berkaitan dengan dunia tani; kaum sederhana! Tanaman ini yang diproses, dikeringkan diangin-anginkan, jarang orang tahu itu dari genusNicotiana. Nah, jarang juga ada yang tahu Tembakau dapat dikonsumsi, digunakan sebagai pestisida, dan dalam bentuk nikotin tartrat dapat digunakan sebagai obat! Sekali lagi saya ulangi: dapat dijadikan obat! Jika dikonsumsi, pada umumnya tembakau dibuat menjadi rokok, tembakau kunyah, dan sebagainya. Tembakau telah lama digunakan sebagai entheogen di Amerika. Maaf, jika saya salah baca! Maaaf! Sejarah tidak dapat menghapus bahwa Bartolome de Las Casas, pada tahun 1552…..ini soal kata tembakau atau bisa juga dari kata “tabago”, sejenis pipa berbentuk y untuk menghirup asap tembakau, atau menurut Oviedo, daun-daun tembakau dirujuk sebagai Cohiba, sebagaimana Sp. tabaco juga It. tobacco umumnya digunakan buat mendefinisikan tumbuhan obat-obatan, dan itu sudah sejak tahun 1410! Katanya itu berasal dari Bahasa Arab “tabbaq”, yang dikabarkan ada sejak abad ke-9, sebagai nama dari berbagai jenis tumbuhan! Jadi, saya ingat saat menonton televisi; ada orang saleh yang berusaha memelintirkan lidahnya supaya lidahnya kearab-araban atau seperti artis yang menginggriskan bahasa indonesianya; Kata tobacco (MENIRU LIDAH BULE) itu bahasa Inggris bisa jadi berasal dari Eropa! Dan pada akhirnya diterapkan untuk tumbuhan sejenis yang asalnya dari Amerika: ah, amerikaaaa……saya tak paham, tapi berusaha paham: tembakau dari sana, nah….nah…(CELINGUKAN, MONDAR-MANDIR DENGAN GELISAH): baiklah, kembali ke soal Daun tembakau yang kerap diidentikkan dengan rokok ternyata dapat dimanfaatkan bagi kesehatan manusia! Menurut penelitian, bukan penelitian saya, saya hanya seorang perokok! Tembakau bisa digunakan sebagai reaktor penghasil protein Growth Colony Stimulating Factor (GCSF)! (KEMBALI KE MEJA, MEMERIKSA CATATAN) suatu hormon yang sangat penting dalam menstimulasi produksi darah. Seorang ahli menjelaskan tentang khasiat daun tembakau, dia menyatakan: protein dibuat oleh DNA dalam tubuh. Jika DNA dalam tubuh dipindahkan ke tembakau melalui bakteri, maka saat masuk kemudian tumbuhan itu akan membuat protein sesuai DNA yang telah dimasukkan tersebut. Kemudian, jika tumbuhan itu dipanen, maka akan didapatkan protein. Protein inilah yang bisa dipakai sebagai protein antikanker. Selain untuk protein antikanker, GSCF bisa juga untuk menstimulasi perbanyakan sel tunas (stem cell) yang bisa dikembangkan untuk memulihkan jaringan fungsi tubuh yang sudah rusak!
Kaum ibu dan Kaum bapak; bukankah di bidang kedokteran terdapat produk-produk farmasi yang sekarang ini banyak digunakan, yaitu obat maupun vaksin yang berbentuk protein??? (CELINGUKAN, MENGERUTKAN DAHI, LALU MONDAR MANDIR KEMBALI MAJU MUNDUR) …..Saya curiga, kenapa istri saya menyuruh saya membawakan ceramah ini; dia itu otaknya selalu penuh dengan konspirasi…..semua tahu, pabrik rokok, buruh rokok, pajak rokok:….itu semua adalah bisnis besar, orang kaya dan terkaya selalu dikalkulasi dari bisnis ini, dan kita hampir tahu pula, bahwa nikotin dan tembakau bisa jadi obat; nah, sepanjang hidup manusia, dari bayi sampai tua renta memerlukan obat; bisnis yang kaya raya adalah obat-obatan…..krak! krak!…Istri saya ini memang jenius licik!
… .. Setiap kali saya memberikan kuliah, mata kanan saya suka berkedut sedikit. Maaf. Harap tidak membuyarkan perhatian, itu hanya persoalan saraf!  Saya sebenarnya orang yang mudah gugup; secara umum, mata saya mulai berkedut di tahun 1998, pada tanggal 13  mei, sebenarnya, itu adalah hari dimana istri saya melahirkan Megawati-itu putri keempat kami. Semua anak saya lahir pada tanggal tiga belas. Meskipun demikian (MELIHAT JAM TANGAN), karena waktu kita pendek, saya rasa kita lebih baik tetap berpegang pada subyek ceramah ini. Saya harus menunjukkan……ah, bagaimanapun, bahwa istri saya, itu punya sanggar atau semacam kursus musik dan punya rumah kontrakan; kost-kostan! – itu, mungkin istilah yang saya pakai belum tepat secara ilmiah, iya, itu semacam sekolah tetapi sesuatu … … yang seperti sekolah. Ah, ini saya sampaikan diantara kita: off the record. Istri saya suka mengeluh, terus menerus merasa kekurangan uang! Tidak pernah merasa cukup, padahal kenyataannnya dia itu kaya, banyak punya rekening; dia tahu bagaimana membuat dirinya terkesan perlu dibantu. Seperti hari ini, di tempat pengumpulan dana ini: dia dapat menjadi mahluk memelas yang patut dikasihani dan dihormati! Istri saya itu punya nama baik, sehingga sekolahnya itu, semacam sekolahnya: menjadi tujuan anak-anak dan orangtua menyerahkan kepercayaan berpendidikan yang elitis. Sekali berbicara, maksud saya sekali berlatih, memasuki sekolah istri saya, minimal anda mesti membayar mungkin empat atau lima puluh ribu bahkan seratus sampai dua ratus ribu. Tentu saja, saya tidak punya andil sepeser pun untuk semua pendapatannya itu! …. Tapi apa gunanya berbicara tentang hal itu? (TERDIAM, MENGERUTKAN DAHI): Coba saya bandingkan, negeri ini katanya punya sedikitnya 3.800 pabrik rokok, ini sudah termasuk kelas rumahan. Jumlah itu terbesar di seluruh dunia. Cukai dari produksi seluruh pabrik rokok berdasarkan tingkat produksi totalnya sepanjang tahun lalu mampu menghasilkan Rp 56,4 triliun sebagai penerimaan negara. Kondisi itu hanya kalah dari penerimaan yang diperoleh negara dari pajak PPN sebesar Rp 700 triliun. Jumlah itu juga jauh lebih besar daripada cukai minuman beralkohol yang besarnya Rp 1 triliun. Belum lagi menghidupi sekian rumah tangga pekerjanya; buruhnya. Saya ini juga buruh. (TERCENUNG, MEMBUKA MULUTNYA, TERDIAM LAMA)
Di rumah kost-kostan milik istri saya, saya bertugas semacam departemen housekeeping. Saya membuat semua pembelian, merawat membantu, mencatat rekening, manufaktur, mengabsen siswa, juga menjaga kutu busuk di tempat duduk, piano, lalu mengajak anjing istri saya berjalan-jalan, kadang menangkap tikus …. dan di akhir pekan tugas saya adalah menimbang tepung dan mentega untuk memasak, karena setiap pagi saya juga bertugas menyiapkan kue serabi untuk sarapan bagi seisi rumah.
Pernah suatu hari, serabi sudah siap, eh istri saya mengirim berita ke dapur bahwa tiga dari penghuni rumah tidak akan makan serabi karena mereka sakit tenggorokan yang akut, hingga kelenjar leher mereka bengkak….saya ingat, pernah juga rokok dituduh sebagai penyebab kanker kelenjar leher! Saya merokok tidak sebungkus sehari, saat saya menulis, saya pup di kamar mandi….rokok justru membuat saya tetap hidup menghadapi istri saya, yang lebih menghisap dari saya yang menghisap rokok; saya bukan majikan di rumah itu, saya itu buruh yang merokok….. Hari itu, kita memiliki sisa beberapa potong serabi, lalu saya tanyakan kepada seluruh isi rumah, apa yang mesti kita lakukan dengan sisa kue serabi ini??
Nah, istri saya memerintahkan agar sisa serabi itu disimpan di kulkas, dan kemudian entah mengapa dia mengubah pikirannya lalu, “Oh, kamu, kamu yang akan makan kan?  Kamu itu semacam tong sampah tua, atau kadang-kadang seperti ular di rumput, atau kadang-kadang setan, iya kan? Sekarang, saya meminta kamu melakukan seperti yang saya pikirkan, kadang-kadang itu; seperti setan, dan istri saya memang selalu dalam mood yang buruk! Tidak pernah tenang, selalu gelisah dan bercuriga. Yah, saya tidak hanya makan sisa kue serabi, saya melahap serabi itu tanpa mengunyah, karena sangat lapar. Sebab kemarin malamnya istri saya tidak mengizinkan saya makan malam; istri saya berkata, buat apa makan malam, kamu harus lebih kurus agar nampak intelek, sebab dengan kerutan di wajah kamu akan memberi tampang serius saat memberi ceramah! Kamu akan kelihatan sebagai pemikir; bukan si gendut yang bodoh. Dimana-mana jika gendut, apalagi tinggi; apalagi bongsor….itu kesannya; bodoh!
Namun (KEMBALI MELIHAT JAM TANGAN), kita tampaknya bergosip, dan saya pikir telah mendapatkan sedikit dari topik penting itu. Mari kita lanjutkan: seperti kebiasaan para penjilat di negeri ini akan berseru; lanjutkan! Lanjutkan! Atau pasti BISA!!!….. Walaupun saya yakin anda semua lebih suka saya ajak bernyanyi beberapa bait lagu yang terkenal…. (BERNYANYI LAGU POP DENGAN SUARA NYARING) “bapak-bapak….ibu ibu, siapa yang punya anak…..tralalla….lilili…..aku yang malu… …” ah, saya lupa bait lagunya…… Oh, by the way, saya lupa memberitahu anda bahwa di sanggar, semacam sekolah musik istri saya, saya tidak hanya bertanggung jawab atas pekerjaan rumah tangga tapi saya juga mengajar semua mata pelajaran: dari matematika, fisika, kimia, geografi, sejarah, sastra, dan sebagainya. Kami juga menawarkan pelajaran tari, olah vokal, dan menggambar: nah, untuk itu istri saya akan mengambil biaya ekstra dari mereka, walaupun pengajar bukan orang lain, sayalah instruktur menari dan suara itu, tapi tetap kena bayaran ekstra. Sanggar, semacam sekolah musik istri saya itu terletak di Jalan Protokol, nomor tiga belas. Mungkin serba angka tiga belas itu penyebab hidup saya sial terus, kegagalan yang terus menerus menghantui saya, hidup saya lakukan ini adalah seperti nujum sial nomor tiga belas! Dan semua anak-anak perempuan saya lahir pada hitungan tanggal ketiga belas, dan rumah kami memiliki tiga belas jendela. Ah, tidak ilmiah! Apa gunanya berbicara tentang hal itu? Jika Anda ingin membahas semua ini dengan istri saya, Anda dapat singgah ke tempat kami, kapan saja: katalognya selalu tersedia di depan pintu, seorang pegawai dengan mata memelas akan menyodorkan kepada anda dan meminta ganti ongkos cetak sebesar lima belas ribu rupiah! (Membawa beberapa brosur dari sakunya)
Nomor tiga belas! Angka tiga belas! Sial benar hidup saya, saya tak pernah memiliki pencapaian apapun; Saya kini sudah tua dan mulai bodoh, tepatnya mulai pikun! Dan di sinilah saya memberikan ceramah. Saya tampak sangat bahagia, bukan? Tapi tahukah anda, apa yang saya sebenarnya ingin saya lakukan adalah berteriak, ini terasa sumbatan tengah menyesak di bagian atas paru-paru: dan jangan berpikir ini karena kebiasaan saya merokok! Tidak sama sekali. Ini karena perasaan tertekan saya kepada istri saya, yang lebih beracun daripada racun tembakau…..(TERSENGAL, TERDIAM, MATANYA MELIAR)  Atau  saya melarikan diri ke tempat di mana tidak ada yang bisa menemukan saya. Bukankah di sini, tak pernah ada telinga yang mau mendengar keluh kesah saya, bahkan disaat saya sudah sesak, ingin meraung menangis dalam isakan yang menderak……. Orang-orang akan berkata: anda hidup baik, keluarga anda baik-baik, putri-putri anda bersih, cantik dan berpendidikan….. Apa putri? Ah, Saya mencoba berbicara dengan anak-anak saya, mereka hanya menertawai saya. Istri saya memiliki tujuh anak perempuan. Kadang saya selalu berpikir, anaknya saya itu enam orang….. (TERCENGANG LALU TERTAWA) Tidak, tujuh! Anna, yang tertua, dia 27 dan yang termuda adalah tujuh belas.
Ladies and gentlemen! Kaum ibu, kaum bapak…..halllo???  (meLihat sekeliling) Saya tidak bahagia, berpura-pura senang selama ini. Saya telah tumbuh menjadi manusia diluar akal, tidak logis, kurang akal, hampir tidak normal, tapi pada dasarnya apa yang Anda lihat: saya adalah seorang ayah yang sangat berbahagia. Iya? Nampak seperti visual di televisi, pencitraaan keluarga bahagia, ayah yang sukses dan beradab! Kalau saja Anda tahu! Saya telah tinggal bersama istri saya selama tiga puluh tiga tahun, dan saya dapat mengatakan bahwa itu periode adalah tahun-tahun terbaik dalam hidup saya …… dengan baik, bukan yang terbaik! Anda tahu, saya bisa memberi ceramah, menjadi contoh, sanggup bicara karena citra saya. Sejujurnya, semua itu sudah lalu, sekarang tinggal lalu lalang, bahagia yang semu, citra yang memuakan sesungguhnya dan terus terang saya sudah merasa sangat brengsek! (MENGAMATI SEKITARNYA DENGAN SEDIH).
Anyway, saya tidak berpikir dia ada di sini sebelum-ya, dia tidak ada di sini – sehingga saya bisa mengatakan apapun yang saya ingin katakan  (TERDIAM, CELINGUKAN, DAN MENUNDUK)…. Saya benar-benar takut. Dia menakuti saya setiap kali dia menatap saya. Dan inilah hal-hal lain: semua anak perempuan saya belum menikah, mereka harusnya sudah menikah, beberapa tahun yang lalu, tapi mungkin karena mereka malu-malu atau tetapi juga karena laki-laki tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan mereka! Hah! Ini sebabnya anak-anak saya tidak laku (MENGGUMAM LAGU:…) Istri saya tidak akan memberikan kesempatan siapa saja untuk singgah ke rumah, seingat saya, dia tidak pernah mengundang siapa pun untuk makan malam, dan dia begitu pelit: dia benci terjebak dalam percakapan panjang, dia itu seperti tikus kesturi tua; melimpir di halaman dan terus mengesankan dirinya sibuk dan prihatin. Dan itulah sebabnya tidak ada yang pernah datang untuk melihat kami, melihat putri-putri saya tapi …. Sekarang ini rahasia, hanya antara anda dan saya (MELANGKAH KE UJUNG PANGGUNG, MELIHAT KE SEMUA ARAH DENGAN MATA MENINGGI) ….. Anda bisa bertemu putri istri saya pada semua hari-hari besar di Kota ini, mereka biasanya diizinkan istri saya mengunjungi bibi mereka- perempuan rematik, yang selalu memakai gaun kuning dengan titik-titik hitam kecil, yang membuatnya tubuhnya seolah-olah digayuti kecoa, yang merayap di seluruh tubuhnya yang nyeri menahan rematik. Tapi bibi anak-anak ini selalu menyajikan sesuatu untuk dimakan, dan istri saya pasti tidak ada….. Anda dapat juga ……. (SEOLAH MENGAMBIL MINUMAN, MENUANGKANNYA) tentu saja, saya ingin menunjukan kepada anda bahwa hanya dibutuhkan satu shot sedikit untuk mendapati saya mabuk, yang membuat saya merasa membaik, tapi pada saat yang sama saya begitu sedih, tidak tahu apa-apa: kadang, saya berpikir,  ketika aku masih muda, kemudian entah darimana datangnya tekanan itu, membuat saya ingin lari! (Dengan intensitas) lari! Lari! Lari! dan tidak pernah melihat ke belakang. Dimana? Saya tidak peduli di mana! hanya melarikan diri dari kehidupan ini: iya, seperti seruan pemerintah soal tembakau itu; menurut saya hidup saya itu: murahan dan vulgar! Pikiran yang kotor telah mengutuk saya menjadi sebuah kecelakaan dimasa tua yang menyedihkan, menyedihkan sebagai manusia hilang akal, bermimpi melarikan diri dari yang kikir, bodoh, sangat jahat! Jahat! Seperti racun yang dipikirkan oleh mereka yang paranoid terhadap rokok, yang disetir oleh otak konspirasi untuk meraih keuntungan; itu dari seorang perempuan, yang saya nikahi dengan gugup dan penuh nafsu, tapi kini, saya ingin melarikan diri dari seorang istri yang menyiksa saya selama tiga puluh tiga tahun lebih….sepuluh tahun, sejak tahun 1998: saya tidak mau lagi dari pelajaran musik dan urusan dapur, sialan, istri saya memiliki semua uang, duhai, kenapa saya harus hidup dengan …… Lari! Lari! Hingga saya tiba ke suatu tempat yang jauh, dan maka saya akan berhenti di lapangan di suatu tempat, pasti bukan di negeri ini, saya akan berdiri di sana seperti pohon atau tiang pagar, seperti orang-orangan sawah, dan menatap ke langit besar, berdiri di sana sepanjang malam hanya melihat bulan, cukup, bulan bersinar, dan melupakan semuanya! Kalau saja saya bisa keluar dari jas jelek ini. Bangsat!! saya menikah di tiga puluh tiga tahun yang lalu (air mata ical nyuhkhin melepas mantel dan melemparkannya ke lantai), saya memberi ceramah di klub sosial yang elit untuk keperluan amal. Ambil itu! (Stomps pada mantel) dan itu! Saya tahu, saya Tua, miskin, menyedihkan, seperti rompi ini – semua dipakai dan berantakan. (Putar untuk menunjukkan punggungnya) tapi saya tidak perlu apa-apa! Saya lebih baik dari semua ini dan saya orang yang jujur, saya dulu muda, pintar, saya pergi ke universitas, saya punya mimpi, saya ingin menjadi manusia yang layak …. Sekarang saya tidak ingin apa-apa! Satu-satunya hal yang saya butuhkan adalah kedamaian dan ketenangan! Saya memerlukan seisap rokok, rokok adalah teman dan sahabat saya dari tekanan hidup ini, pencitraaan yang aneh, rasa simpati saya kepada kaum buruh….
(MELihat ke dalam sayap PANGGUNG dan cepat menempatkan DIRI DENGAN AGUNG, MENGANGKAT BAHU) Namun, istri saya sekarang menunggu di sayap…… (MULAI NAMPAK GUGUP) Dia ada di sini. Dia sedang menunggui saya. (meLihat jam tangan) dengan baik, saya melihat waktu saya tentang tatap muka ilmiah dan bertujuan mulia; pengumpulan amal hampir habis…. Jika dia bertanya, maukah anda mengatakan bahwa ceramah…. Saya akan sangat berterima kasih jika anda tidak keberatan mengatakan bahwa si tua ini maksudku telah bertindak … dengan martabat (memandang ke arah sayap panggung, dan terbatuk TANDA TELAH BERTATAP MUKA DENGAN ISTRINYA).
(Mengangkat suaranya, terkesan ragu namun tetap mengeraskan suaranya) sebagai konsekuensi hal-fakta, maksudku, tembakau yang mengandung agen racun yang kuat, seperti yang telah saya jelaskan-kita melihat bahwa merokok itu tidak berarti dianjurkan; perhatikan selalu dalam bungkus: merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin. Jangan lupa, korupsi, kemunafikan, dan seluruh akrobat kebijakan negeri ini perlu pula mencantumkan hal sama, disetiap bungkusan apa saja; bahkan harus ada area khusus bagi kaum koruptur dan keluarganya…..seperti memperlakukan para perokok! Dan saya berharap (TERBATUK DENGAN PANDANGAN MELIAR)… sehingga untuk berbicara, bahwa ceramah saya di sini hari ini tentang bahaya tembakau akan menghasilkan efek yang menguntungkan bagi yang sadar, tembakau itu dapat dimanfaatkan sebagai obat; anti kanker dan nikotin…. racun yang ditakutkan itu, saya rasa adalah mulai memasuki kekacuan pikiran, yakni hidup yang munafik itu! Itu saja yang saya katakan. Sekian dan terima kasih…..sebagai penutup: hidup tembakau…..maaf, hidup hidup yang sehat, bersih pikiran….. (ICal NYUKHIN SETENGAH BERLARI MENINGGALKAN PANGGUNG). LAMPU PADAM, MUSIK NYARING BERDEBAM. SAYUP TERDENGAR RAUNGAN.
ADAPTASI NASKAH THE DANGERS OF TOBACCO
KARYA ANTON CHEKOV: OLEH COK SAWITRI

Read more »»  

Senin, 21 Januari 2013


Angkatan 50-an
Angkatan 50-an ditandai dengan terbitnya majalah sastra Kisah asuhan H.B. Jassin. Ciri angkatan ini adalah karya sastra yang didominasi dengan cerita pendek dan kumpulan puisi. Majalah tersebut bertahan sampai tahun 1956 dan diteruskan dengan majalah sastra lainnya, Sastra.
Pada angkatan ini muncul gerakan komunis dikalangan sastrawan, yang bergabung dalam Lembaga Kebudajaan Rakjat (Lekra) yang berkonsep sastra realisme-sosialis. Timbullah perpecahan dan polemik yang berkepanjangan diantara kalangan sastrawan di Indonesia pada awal tahun 1960; menyebabkan mandegnya perkembangan sastra karena masuk kedalam politik praktis dan berakhir pada tahun 1965 dengan pecahnya G30S di Indonesia.
Penulis dan karya sastra Angkatan 50-60-an
1. Nh. Dini (Nurhayati Dini) adalah sastrawan wanita Indonesia lain yang menonjol pada akhir dekade 80-an dengan beberapa karyanya antara lain: Pada Sebuah Kapal, Namaku Hiroko, La Barka, Dua Dunia (1950), Pertemuan Dua Hati, dan Hati Yang Damai (1960). Salah satu ciri khas yang menonjol pada novel-novel yang ditulisnya adalah kuatnya pengaruh dari budaya barat, di mana tokoh utama biasanya mempunyai konflik dengan pemikiran timur.

2. Ajip Rosidi
·         Di Tengah Keluarga (1956)
·         Pertemuan Kembali (1960)
·         Sebuah Rumah Buat Hari Tua
·         Tahun-tahun Kematian (1955)
3. Ali Akbar Navis
·         Bianglala: kumpulan tjerita pendek (1963)
·         Hudjan Panas (1963)
·         Robohnja Surau Kami: 8 tjerita pendek pilihan (1950)
4. Bokor Hutasuhut
·         Datang Malam (1963)
5. Enday Rasidin
·         Surat Cinta

6. Nugroho Notosusanto
·         Hujan Kepagian (1958)
·         Rasa Sajangé (1961)
·         Tiga Kota (1959)

7. Ramadhan K.H
·         Api dan Si Rangka
·         Priangan si Djelita (1956)

8. Sitor Situmorang
·         Dalam Sadjak (1950)
·         Djalan Mutiara: kumpulan tiga sandiwara (1954)
·         Pertempuran dan Saldju di Paris (1956)
·         Surat Kertas Hidjau: kumpulan sadjak (1953)
·         Wadjah Tak Bernama: kumpulan sadjak (1955)
9. Subagio Sastrowardojo
·         Simphoni (1957)
10. Titis Basino
·         Pelabuhan Hati (1978)
·         Dia, Hotel, Surat Keputusan (cerpen) (1963)
·         Lesbian (1976)
·         Bukan Rumahku (1976)
·         Pelabuhan Hati (1978)
·         Di Bumi Aku Bersua di Langit Aku Bertemu (1983)
·         Trilogi: Dari Lembah Ke Coolibah (1997); Welas Asih Merengkuh Tajali (1997);
·         Menyucikan Perselingkuhan (1998)
·         Aku Supiah Istri Wardian (1998)
·         Tersenyumpun Tidak Untukku Lagi (1998)
·         Terjalnya Gunung Batu (1998)
·         Aku Kendalikan Air, Api, Angin, dan Tanah (1998)
·         Rumah Kaki Seribu (1998)
·         Tangan-Tangan Kehidupan (1999)
·         Bila Binatang Buas Pindah Habitat (1999)
·         Mawar Hitam Milik Laras (1999)
11. Toto Sudarto Bachtiar
·         Suara : kumpulan sadjak 1950-1955 (1962)
·         Etsa, sadjak-sadjak (1958)
12. Trisnojuwono
·         Angin Laut (1958)
·         Dimedan Perang (1962)
·         Laki-laki dan Mesiu (1951)
13. W.S. Rendra
·         Balada Orang² Tertjinta (1957)
·         Empat Kumpulan Sajak (1961)
·         Ia Sudah Bertualang dan tjerita-tjerita pendek lainnja (1963)
dan banyak lagi karya sastra lainnya
Read more »»  

Senin, 07 Januari 2013

Sinopsis Film Habibie Ainun

Rudy Habibie seorang jenius ahli pesawat terbang yang punya mimpi besar: berbakti kepada bangsa Indonesia dengan membuat truk terbang untuk menyatukan Indonesia. Sedangkan Ainun adalah seorang dokter muda cerdas yang dengan jalur karir terbuka lebar untuknya.

Pada tahun 1962, dua kawan SMP ini bertemu lagi di Bandung. Habibie jatuh cinta seketika pada Ainun yang baginya semanis gula. Tapi Ainun, dia tak hanya jatuh cinta, dia iman pada visi dan mimpi Habibie. Mereka menikah dan terbang ke Jerman.

Punya mimpi tak akan pernah mudah. Habibie dan Ainun tahu itu. Cinta mereka terbangun dalam perjalanan mewujudkan mimpi. Dinginnya salju Jerman, pengorbanan, rasa sakit, kesendirian serta godaan harta dan kuasa saat mereka kembali ke Indonesia mengiringi perjalanan dua hidup menjadi satu.

Bagi Habibie, Ainun adalah segalanya. Ainun adalah mata untuk melihat hidupnya. Bagi Ainun, Habibie adalah segalanya, pengisi kasih dalam hidupnya. Namun setiap kisah mempunyai akhir, setiap mimpi mempunyai batas. Kemudian pada satu titik, dua belahan jiwa ini tersadar; Apakah cinta mereka akan bisa terus abadi?
Read more »»  

Peradilan Rakyat


Peradilan Rakyat
Cerpen Putu Wijaya
Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya, seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum.

"Tapi aku datang tidak sebagai putramu," kata pengacara muda itu, "aku datang ke mari sebagai seorang pengacara muda yang ingin menegakkan keadilan di negeri yang sedang kacau ini."

Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu, tidak terkejut. Ia menatap putranya dari kursi rodanya, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung.

"Apa yang ingin kamu tentang, anak muda?"
Pengacara muda tertegun. "Ayahanda bertanya kepadaku?"
"Ya, kepada kamu, bukan sebagai putraku, tetapi kamu sebagai ujung
tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang dicabik-cabik korupsi ini."
Pengacara muda itu tersenyum.
"Baik, kalau begitu, Anda mengerti maksudku."

"Tentu saja. Aku juga pernah muda seperti kamu. Dan aku juga berani, kalau perlu kurang ajar. Aku pisahkan antara urusan keluarga dan kepentingan pribadi dengan perjuangan penegakan keadilan. Tidak seperti para pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang. Bahkan tidak seperti para elit dan cendekiawan yang cemerlang ketika masih di luar kekuasaan, namun menjadi lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan untuk menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya. Kamu pasti tidak terlalu jauh dari keadaanku waktu masih muda. Kamu sudah membaca riwayat hidupku yang belum lama ini ditulis di sebuah kampus di luar negeri bukan? Mereka menyebutku Singa Lapar. Aku memang tidak pernah berhenti memburu pencuri-pencuri keadilan yang bersarang di lembaga-lembaga tinggi dan gedung-gedung bertingkat. Merekalah yang sudah membuat kejahatan menjadi budaya di negeri ini. Kamu bisa banyak belajar dari buku itu."

Pengacara muda itu tersenyum. Ia mengangkat dagunya, mencoba memandang pejuang keadilan yang kini seperti macan ompong itu, meskipun sisa-sisa keperkasaannya masih terasa.

"Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. Meskipun bukan bebas dari kritik. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih, kau yang selalu berhasil dan sempurna, tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri."

Pengacara tua itu meringis.
"Aku suka kau menyebut dirimu aku dan memanggilku kau. Berarti kita bisa bicara sungguh-sungguh sebagai profesional, Pemburu Keadilan."
"Itu semua juga tidak lepas dari hasil gemblenganmu yang tidak kenal ampun!"
Pengacara tua itu tertawa.
"Kau sudah mulai lagi dengan puji-pujianmu!" potong pengacara tua.
Pengacara muda terkejut. Ia tersadar pada kekeliruannya lalu minta maaf.

"Tidak apa. Jangan surut. Katakan saja apa yang hendak kamu katakan," sambung pengacara tua menenangkan, sembari mengangkat tangan, menikmati juga pujian itu, "jangan membatasi dirimu sendiri. Jangan membunuh diri dengan diskripsi-diskripsi yang akan menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam, karena kamu sangat diperlukan oleh bangsamu ini."

Pengacara muda diam beberapa lama untuk merumuskan diri. Lalu ia meneruskan ucapannya dengan lebih tenang.

"Aku datang kemari ingin mendengar suaramu. Aku mau berdialog."
"Baik. Mulailah. Berbicaralah sebebas-bebasnya."

"Terima kasih. Begini. Belum lama ini negara menugaskan aku untuk membela seorang penjahat besar, yang sepantasnya mendapat hukuman mati. Pihak keluarga pun datang dengan gembira ke rumahku untuk mengungkapkan kebahagiannya, bahwa pada akhirnya negara cukup adil, karena memberikan seorang pembela kelas satu untuk mereka. Tetapi aku tolak mentah-mentah. Kenapa? Karena aku yakin, negara tidak benar-benar menugaskan aku untuk membelanya. Negara hanya ingin mempertunjukkan sebuah teater spektakuler, bahwa di negeri yang sangat tercela hukumnya ini, sudah ada kebangkitan baru. Penjahat yang paling kejam, sudah diberikan seorang pembela yang perkasa seperti Mike Tyson, itu bukan istilahku, aku pinjam dari apa yang diobral para pengamat keadilan di koran untuk semua sepak-terjangku, sebab aku selalu berhasil memenangkan semua perkara yang aku tangani.

Aku ingin berkata tidak kepada negara, karena pencarian keadilan tak boleh menjadi sebuah teater, tetapi mutlak hanya pencarian keadilan yang kalau perlu dingin danbeku. Tapi negara terus juga mendesak dengan berbagai cara supaya tugas itu aku terima. Di situ aku mulai berpikir. Tak mungkin semua itu tanpa alasan. Lalu aku melakukan investigasi yang mendalam dan kutemukan faktanya. Walhasil, kesimpulanku, negara sudah memainkan sandiwara. Negara ingin menunjukkan kepada rakyat dan dunia, bahwa kejahatan dibela oleh siapa pun, tetap kejahatan. Bila negara tetap dapat menjebloskan bangsat itu sampai ke titik terakhirnya hukuman tembak mati, walaupun sudah dibela oleh tim pembela seperti aku, maka negara akan mendapatkan kemenangan ganda, karena kemenangan itu pastilah kemenangan yang telak dan bersih, karena aku yang menjadi jaminannya. Negara hendak menjadikan aku sebagai pecundang. Dan itulah yang aku tentang.

Negara harusnya percaya bahwa menegakkan keadilan tidak bisa lain harus dengan keadilan yang bersih, sebagaimana yang sudah Anda lakukan selama ini."

Pengacara muda itu berhenti sebentar untuk memberikan waktu pengacara senior itu menyimak. Kemudian ia melanjutkan.

"Tapi aku datang kemari bukan untuk minta pertimbanganmu, apakah keputusanku untuk menolak itu tepat atau tidak. Aku datang kemari karena setelah negara menerima baik penolakanku, bajingan itu sendiri datang ke tempat kediamanku dan meminta dengan hormat supaya aku bersedia untuk membelanya."

"Lalu kamu terima?" potong pengacara tua itu tiba-tiba.
Pengacara muda itu terkejut. Ia menatap pengacara tua itu dengan heran.
"Bagaimana Anda tahu?"

Pengacara tua mengelus jenggotnya dan mengangkat matanya melihat ke tempat yang jauh. Sebentar saja, tapi seakan ia sudah mengarungi jarak ribuan kilometer. Sambil menghela napas kemudian ia berkata: "Sebab aku kenal siapa kamu."

Pengacara muda sekarang menarik napas panjang.
"Ya aku menerimanya, sebab aku seorang profesional. Sebagai seorang pengacara aku tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar aku melaksanakan kewajibanku sebagai pembela. Sebagai pembela, aku mengabdi kepada mereka yang membutuhkan keahlianku untuk membantu pengadilan menjalankan proses peradilan sehingga tercapai keputusan yang seadil-adilnya."

Pengacara tua mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.
"Jadi itu yang ingin kamu tanyakan?"
"Antara lain."
"Kalau begitu kau sudah mendapatkan jawabanku."
Pengacara muda tertegun. Ia menatap, mencoba mengetahui apa yang ada di dalam lubuk hati orang tua itu.
"Jadi langkahku sudah benar?"
Orang tua itu kembali mengelus janggutnya.

"Jangan dulu mempersoalkan kebenaran. Tapi kau telah menunjukkan dirimu sebagai profesional. Kau tolak tawaran negara, sebab di balik tawaran itu tidak hanya ada usaha pengejaran pada kebenaran dan penegakan keadilan sebagaimana yang kau kejar dalam profesimu sebagai ahli hukum, tetapi di situ sudah ada tujuan-tujuan politik. Namun, tawaran yang sama dari seorang penjahat, malah kau terima baik, tak peduli orang itu orang yang pantas ditembak mati, karena sebagai profesional kau tak bisa menolak mereka yang minta tolong agar kamu membelanya dari praktik-praktik pengadilan yang kotor untuk menemukan keadilan yang paling tepat. Asal semua itu dilakukannya tanpa ancaman dan tanpa sogokan uang! Kau tidak membelanya karena ketakutan, bukan?"
"Tidak! Sama sekali tidak!"
"Bukan juga karena uang?!"
"Bukan!"
"Lalu karena apa?"
Pengacara muda itu tersenyum.
"Karena aku akan membelanya."
"Supaya dia menang?"

"Tidak ada kemenangan di dalam pemburuan keadilan. Yang ada hanya usaha untuk mendekati apa yang lebih benar. Sebab kebenaran sejati, kebenaran yang paling benar mungkin hanya mimpi kita yang tak akan pernah tercapai. Kalah-menang bukan masalah lagi. Upaya untuk mengejar itu yang paling penting. Demi memuliakan proses itulah, aku menerimanya sebagai klienku."
Pengacara tua termenung.
"Apa jawabanku salah?"
Orang tua itu menggeleng.

"Seperti yang kamu katakan tadi, salah atau benar juga tidak menjadi persoalan. Hanya ada kemungkinan kalau kamu membelanya, kamu akan berhasil keluar sebagai pemenang."

"Jangan meremehkan jaksa-jaksa yang diangkat oleh negara. Aku dengar sebuah tim yang sangat tangguh akan diturunkan."

"Tapi kamu akan menang."
"Perkaranya saja belum mulai, bagaimana bisa tahu aku akan menang."

"Sudah bertahun-tahun aku hidup sebagai pengacara. Keputusan sudah bisa dibaca walaupun sidang belum mulai. Bukan karena materi perkara itu, tetapi karena soal-soal sampingan. Kamu terlalu besar untuk kalah saat ini."

Pengacara muda itu tertawa kecil.
"Itu pujian atau peringatan?"
"Pujian."
"Asal Anda jujur saja."
"Aku jujur."
"Betul?"
"Betul!"

Pengacara muda itu tersenyum dan manggut-manggut. Yang tua memicingkan matanya dan mulai menembak lagi.
"Tapi kamu menerima membela penjahat itu, bukan karena takut, bukan?"

"Bukan! Kenapa mesti takut?!"
"Mereka tidak mengancam kamu?"
"Mengacam bagaimana?"
"Jumlah uang yang terlalu besar, pada akhirnya juga adalah sebuah ancaman. Dia tidak memberikan angka-angka?"

"Tidak."
Pengacara tua itu terkejut.
"Sama sekali tak dibicarakan berapa mereka akan membayarmu?"
"Tidak."
"Wah! Itu tidak profesional!"
Pengacara muda itu tertawa.
"Aku tak pernah mencari uang dari kesusahan orang!"
"Tapi bagaimana kalau dia sampai menang?"
Pengacara muda itu terdiam.
"Bagaimana kalau dia sampai menang?"
"Negara akan mendapat pelajaran penting. Jangan main-main dengan kejahatan!"
"Jadi kamu akan memenangkan perkara itu?"
Pengacara muda itu tak menjawab.
"Berarti ya!"
"Ya. Aku akan memenangkannya dan aku akan menang!"

Orang tua itu terkejut. Ia merebahkan tubuhnya bersandar. Kedua tangannya mengurut dada. Ketika yang muda hendak bicara lagi, ia mengangkat tangannya.

"Tak usah kamu ulangi lagi, bahwa kamu melakukan itu bukan karena takut, bukan karena kamu disogok."
"Betul. Ia minta tolong, tanpa ancaman dan tanpa sogokan. Aku tidak takut."

"Dan kamu menerima tanpa harapan akan mendapatkan balas jasa atau perlindungan balik kelak kalau kamu perlukan, juga bukan karena kamu ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusiaan di mancanegara yang benci negaramu, bukan?"

"Betul."
"Kalau begitu, pulanglah anak muda. Tak perlu kamu bimbang.

Keputusanmu sudah tepat. Menegakkan hukum selalu dirongrong oleh berbagai tuduhan, seakan-akan kamu sudah memiliki pamrih di luar dari pengejaran keadilan dan kebenaran. Tetapi semua rongrongan itu hanya akan menambah pujian untukmu kelak, kalau kamu mampu terus mendengarkan suara hati nuranimu sebagai penegak hukum yang profesional."

Pengacara muda itu ingin menjawab, tetapi pengacara tua tidak memberikan kesempatan.
"Aku kira tak ada yang perlu dibahas lagi. Sudah jelas. Lebih baik kamu pulang sekarang. Biarkan aku bertemu dengan putraku, sebab aku sudah sangat rindu kepada dia."

Pengacara muda itu jadi amat terharu. Ia berdiri hendak memeluk ayahnya. Tetapi orang tua itu mengangkat tangan dan memperingatkan dengan suara yang serak. Nampaknya sudah lelah dan kesakitan.

"Pulanglah sekarang. Laksanakan tugasmu sebagai seorang profesional."
"Tapi..."

Pengacara tua itu menutupkan matanya, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Sekretarisnya yang jelita, kemudian menyelimuti tubuhnya. Setelah itu wanita itu menoleh kepada pengacara muda.
"Maaf, saya kira pertemuan harus diakhiri di sini, Pak. Beliau perlu banyak beristirahat. Selamat malam."

Entah karena luluh oleh senyum di bibir wanita yang memiliki mata yang sangat indah itu, pengacara muda itu tak mampu lagi menolak. Ia memandang sekali lagi orang tua itu dengan segala hormat dan cintanya. Lalu ia mendekatkan mulutnya ke telinga wanita itu, agar suaranya jangan sampai membangunkan orang tua itu dan berbisik.

"Katakan kepada ayahanda, bahwa bukti-bukti yang sempat dikumpulkan oleh negara terlalu sedikit dan lemah. Peradilan ini terlalu tergesa-gesa. Aku akan memenangkan perkara ini dan itu berarti akan membebaskan bajingan yang ditakuti dan dikutuk oleh seluruh rakyat di negeri ini untuk terbang lepas kembali seperti burung di udara. Dan semoga itu akan membuat negeri kita ini menjadi lebih dewasa secepatnya. Kalau tidak, kita akan menjadi bangsa yang lalai."

Apa yang dibisikkan pengacara muda itu kemudian menjadi kenyataan. Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta kembang api semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi. Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Hakimnya diburu-buru. Pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat. Tetapi itu pun belum cukup. Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah.

Pengacara tua itu terpagut di kursi rodanya. Sementara sekretaris jelitanya membacakan berita-berita keganasan yang merebak di seluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk, air mata menetes di pipi pengacara besar itu.

"Setelah kau datang sebagai seorang pengacara muda yang gemilang dan meminta aku berbicara sebagai profesional, anakku," rintihnya dengan amat sedih, "Aku terus membuka pintu dan mengharapkan kau datang lagi kepadaku sebagai seorang putra. Bukankah sudah aku ingatkan, aku rindu kepada putraku. Lupakah kamu bahwa kamu bukan saja seorang profesional, tetapi juga seorang putra dari ayahmu. Tak inginkah kau mendengar apa kata seorang ayah kepada putranya, kalau berhadapan dengan sebuah perkara, di mana seorang penjahat besar yang terbebaskan akan menyulut peradilan rakyat seperti bencana yang melanda negeri kita sekarang ini?" ***

Read more »»