Daftar Isi

Tampilkan postingan dengan label Naskah Monolog. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Naskah Monolog. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 April 2013


MASMIRAH
Karya : Arthur S. Nalan
TERDENGAR GENDING JAWA LALER MENGENG SEBAGAI ILUSTRASI. MUNCUL MASMIRAH YANG TENGAH HAMIL TUA. IA TAMPAK BAHAGIA SAMBIL MEMBAWA WAYANG KULIT GATOTKACA. TERDENGAR PUISI YANG DILANTUNKAN MASMIRAH SENDIRI DALAM BENTUK TEMBANG JAWA.
Masmirah
Masmirah
Kamu hamil aneh
Kandungan tanpa bayi
Hanya ada bunyi detak jantung dan angin puyuh
Masmirah
Masmirah
Kata dokter kamu sakit
Kata Kiai kamu mendapat anugrah Gusti Allah
Masmirah
Masmirah
Biar umpatan dan fitnahan datang menghampiri
Bayi setan atau bayi siluman
Kamu tak pedulikan
Hingga bintang kemukus datang
Bayi lahir bercahaya
Tapi mati muda.
Masmirah
Masmirah
Berkat anak yang pernah kau kandung
Kamu jadi Mbok Pagedhongan
Paranormal yang terkenal
MASMIRAH
Saya sudah bilang kamu itu hanya hamil-hamilan, anak yang kamu anggap ada itu hanya karang-karangan, anak lanang yang kamu cita-citakan hanya baying-bayang wajah Raden Gatotkaca idolamu saja! Sudahlah Mirah, berhenti kau berkhayal tentang bayimu itu, kalau tidak aku akan pergi jauh.
( PADA PENONTON ) begitu kalimat pahit yang keluar dari mulut Mas Mardowo, suami kedua. Ketika ia tak kuat lagi mendengar caci maki dan umpatan para tetangga, seisi kampung, tetangga kampung yang  kebetulan bertemu dengannya di pasar dawetan. Sambil menunggu tamu yang dating, saya ingin berbagi kisah. ( DIAM MENGINGAT ) Suamiku itu mungkin lupa, kalau yang namanya ibu atau Mbok itu harus pasrah, tabah, sumarah, iman, eling dan tentu saja tawakal pada gusti allah, apapun yang terjadi dengan bayi yang kukandung waktu itu, aku tak akan pernah mendengar omongan orang Kang, biar saja mereka mengumpati aku semau mereka, jinah silumanlah, jinah memedilah, ngelmu demitlah, karena aku sudah terima nasibku, aku yakin seyakin-yakinnya bahwa Gusti Allah maha adil, maha welas asih, dan tidak main-main. Jangan lupa Kang, anak adalah titipan Allah, jadi aku hanya pengasuhnya. Eh, Mas Mardowo tambah kenceng ngomongnya, begini katanya: Tapi Mirah, mimpi kamu dengan Raja Mojopahit itu apa tidak keterlaluan, kamu berhayal yang bukan-bukan, katanya dia mau menikahimu, kamu bilang sudah punya suami…itu bagus, tapi akhirnya kamu mau juga, lalu kamu hamil. Jadi hamil bukan anaku, tapi anak Raja Mojopahitmu itu. Aku gak tahan, aku mau pergi. Aku akan datang lagi kalau kamu sudah insyaf. ( DIAM ) Saya hanya melongo, saya dikiranya melakukan perbuatan jahat. Lalu suamiku pergi sambil menyambar jaket kulitnya, yang terdengar motornya nyaring lalu menghilang, dia tidak pulang, karena jadi penghuni rehabilitasi narkoba. Begitulah dia, maklum pemuda ndeso, mudah tergoda, mudah terhasut para tetangga yang tak mau tahu apa yang terjadi pada seorang perempuan seperti saya, janda beranak satu, ditinggal mati suami. Oh ya, suamiku dulu namanya Kang Kasmino, tukang sumur bor dari Blawong yang terkenal itu. Sudah banyak sumur yang dia hasilkan, airnya jernih-jernih, namun suatu ketika Kang Kasmino mengalami mimpi aneh, ketika bikin sumur bor di dekat hutan Karang Kekot. Katanya ia dimarahi Mbahurekso disana, berani-beraninya dia bikin sumur di makam cucunya yang dia kasihi, lalu dia jatuh sakit, lalu dia jadi meninggal. Tapi dokter yang memeriksa Kang Kasmino mengatakan, suamiku kena serangan jantung karena kecapaian saja, tubuhnya yang tambun tapi ototnya kuat dan karismanya itu lho, ia punya sepuluh anak buah. Oh ya, anaku perempuan, namanya hampir seperti namaku, Maswidari, sekarang ikut ibuku membantu praktek pijit bayi di Srondol. ( PADA PENONTON ) Jangan tertawa, pijit bayi saja heran, pijit bayi itu penting untuk kelancaran darah si Bayi. Ibuku biasa dipanggil Mbok Polatan yang artinya air muka, memang Mboku tak pernah masam air mukanya, selalu tersenyum, ramah, cerah secerah matahari,jarang marah, satu-satunya yang membuatku tak habis piker darinya adalah susur tembakau yang digular-gulir dimulutnya, kadang ke kiri, kadang ke kanan. Lalu air serapannya, dia ludahkan di Tempolong Kuningan. Warnanya sudah hitam, sementara Tempolong Kuningan di sampingnya sudah kenyang menampung ludahnya. Tapi itu ciri khasnya, suatu hari aku tanya Mbok apa enaknya nyusur? Dengan air muka yang tenang, ia menjawab: Nduk, kamu harus tahu, nyusur adalah tradisi putra putri Mojopahit, sejak Dara Petak dan Dara Jingga yang dari Sabrangan jadi istri Raden Wijaya, sejak saat itulah makan sirih dan nyusur jadi budaya istana. Mbok hanya melanjutkan warisan leluhur saja, Nduk.
( TERTAWA ) Jangan percaya saya, itu hanya karangan Mboku saja. Oh ya, kini anaku Maswidari berumur sepuluh tahun, wajahnya bulat seperti bapaknya, tapi air mukanya cerah seperti Mboku. Apa air muka saya juga cerah?  Waktu itu kandunganku sudah mencapai satu tahun. Kata orang-orang tua saya harus diruwat, tapi waktu aku bilang lewat surat pada Mboku, lalu balasannya dituliskan, Maswidari anaku. Dia Cuma bilang: Lakoni saja Nduk, Gusti Allah tidak main-main, hanya orang-orang yang cupet saja yang menuduhmu aneh-aneh. Begitu singkat, tapi membesarkan hatiku, karena itu saya jalani seperti ini. ( MENGAMBIL AIR KENDI LALU MEMASUKKAN BUNGA SETAMAN KE DALAM KENDI ) Aneh ya? Bagi tetangga-tetanggaku ini aneh, ini gendeng. Masmirah minumannya air kembang, yang suka kembang kan Cuma memedi. Mereka itu sembarangan, mereka bilang yang suka kembang itu cuma memedi, siapa bilang? Memedi gak ada urusannya dengan kembang, justru semua perempuan normal pasti suka kembang. Pada mulanya aku tidak sengaja minum air kembang dari kendi ini. Kebetulan aku memetik mawar dari halaman. Oh ya, rumahku kecil, tapi Mboku ,mewanti-wanti apa saja yang harus ditanam di halaman rumah, apa saja yang tidak boleh ditanam. Sewaktu aku mau menaruh setangkai bunga mawar di vas bunga diatas meja, seperti biasa ada kendi besar yang dibalur semen biar adem airnya, eh tangkai bunganya patah lalu bunganya masuk ke dalam kendi, plos, begitu saja. Mau tak ambil lagi yo gak mungkin, mosok harus memecahkan kendi demi bunga, ah sudahlah. Akhirnya aku meminum air kendi bercampur bunga mawar di dalamnya, eh malahan rasanya segar dan air kendi jadi harum. Sejak itu aku minum air kembang. Dan anehnya, tubuhku rasanya segar terus, bahkan aku merasa tenagaku berlipat ganda. Melihat begitu, para tetangga mulai bergunjing saya mengandung memedi.
( DUDUK LALU BICARA PADA PENONTON ) Oh ya, karena penasaran, saya diantar Mas Mardowo, sebelum dia kabur. Kami pergi ke Rumah Sakit Kabupaten. Saya diperiksa dokter kandungan, kalau tidak salah namanya Bob, setelah diperiksa selama kurang lebih setengah jam, dokter Bob hanya bilang: Ibu tidak mengandung, ini hanya pusaran angin yang tinggal di rahim ibu. Saya dan suami saya saling pandang, tanpa sadar bicara bareng: Hanya angin? Mosok angin? Emangnya masuk angin bias tinggal di rahim? ( DIAM ) Dokter Bob angkat tangan, lalu tiba-tiba perutku sakit. Dokter Bob malah menyarankan kami pulang, dia bilang: apa yang bisa saya bantu? Wong kandungannya cuma pusaran angin? Kami pulang, saya kecewa ama dokter itu. Kemudian saya coba ke Kiayi Mauludin di Botekan, seorang Kiayi baik hati, terkenal bias ngobatin penyakit yang aneh-aneh, saya masih diantar suamiku. Kiayi Mauludin diam tenang memandang kandunganku, mulutnya komat kamit, aku diberi air bening satu gelas. Emm, rasanya segar, saya bersemangat sekali ketika disuruh menceritakan pengalamanku sebelum mengandung yang kata orang kandungan memedi ini. Saya ceritakan bagaimana saya mimpi ketemu Raja Mojopahit, bagaimana dia mengajakku menikah, bagaimana dia mengajakku keliling kerajaan, dan akhirnya saya terbuai. Mungkin kurang kasih sayang suami, suami penyayang Kang Kasmino pendek umurnya, sementara Mas Mardowo hanya mau saya kalau saya punya uang hasil panenan. Setelah itu habis dimeja judi. ( DIAM ) setelah itu Kiayi Mauludin mendekatkan tangannya, lalu menyentuh perutku. Dia diam tapi tampak seperti sedang mengobrol, entah mengobrol dengan siapa. Setelah itu dia berkata: Nduk, Masmirah anaku, kamu mendapat anugerah Gusti Allah. Kamu mengandung, aku sudah bicara dengan bayimu. Dia bersedia lahir kr dunia, nanti kalau bintang kemukus datang. Tunggu saja dengan sabar, banyak berdoa. Jangan dengarkan omongan yang bukan-bukan. Gusti Allah punya cara yang berbeda memberikan anugerah pada umatnya. ( BERDIRI ) Sejak itu saya semakin optimis, saya percaya Kiai Mauludin tidak bohong, saya yakin mengandung. Biarlah kutunggu bintang kemukus dating. Karena itu setiap malam, aku bergadang di pekarangan rumah, tidak terasa dingin, malahan gerah dan gairah menunggu bintang kemukus datang. Hingga pada suatu malam, sampailah ucapan Kiayi jadi kenyataan, bintang kemukus datang. Saya menyaksikan dengan hati berdebar, jantung saya dagdigdug, karena tiba-tiba kandunganku bergolak, seperti meronta-ronta, ada tinju-tinju kecil memukul-mukul dinding perutku, aku segera berteriak memanggil-manggil Mas Mardowo : Mas Dowo…! Mas Dowo…! Saya mau melahirkan! Kejadiannya sangat cepat, ketika Mas Mardowo datang, saya dibantu masuk rumah lalu ditidurkan di ranjang, Mbok Sepen, dukun beranak yang kebetulan tidak jauh tinggalnya, yang awalnya menolak, karena takut kena tulah dan dia menganggap sama pada bayi yang kukandung, anak memedi. Tapi akhirnya setelah melihat aku tampak menahan sakit dan meringis-ringis sebagai tanda sebuah kelahiran, Mbok Sepen turun tangan. Malam itu, ketika bintang kemukus datang, saya melahirkan seorang bayi laki-laki, Putra Raja Mojopahit. Hanya sesaat tangisan bayi itu, seakan-akan memanggiku : terimakasih ibu. Setelah itu, bayi laki-laki yang belum kuberi nama itu meninggal. Kulitnya yang kuning, rambutnya yang hitam, senyumnya menarik hatiku. Malam itu juga bayi itu kuberi nama Sembodo yang artinya serba lengkap. Malam itu juga, ia dimandikan dibawah cahaya bintang kemukus, lalu dikafani dan dikubur di belakang rumah. Anehnya saya tidak menangis. Malam itu juga, saya bermimpi bertemu Raja Mojopahit, didampingi seorang anak persis Sembodo, tetapi berpakaian Kerajaan. Raja Mojopahit itu berkata : Masmirah, kamu wanita yang baik hati, anak kita sudah kau lahirkah dengan hati yang tulus, kau beri nama Sembodo. Anak ini memang bernama Ken Sembodo. Dan kamu, sejak sekarang orang-orang akan memanggilmu Mbok Pagedhongan, Pagedhongan artinya cerita dalang ketika wayang belum dikeluarkan, bisa juga artinya pedoman. Kamu akan menjadi penolong sesama. ( DIAM ) sejak saat itulah saya tak pernah bermimpi lagi, tapi sejak saat itu pula saya mampu mengobati tetangga yang sakit, orang-orang bicara getok tular, pada berdatangan. Saya tidak mengobati, hanya member air kendi yang diberi mawar, kesukaannya Sembodo. Sejak saat itu saya menjadi Mbok Pagedhongan yang kata orang kota, saya ini Paranormal. Padahal, saya orang normal saudara-saudara. Karena ini hanya sandiwara yang saya mainkan.
——-T A M A T——-
Di ketik ulang untuk keperluan monolog kelompok satukosongdelapan 2010.
Curex.

Read more »»  

MARSINAH MENGGUGAT – 1
Karya Ratna Sarumpaet (Satu Merah Panggung)
ALAM DILUAR ALAM KEHIDUPAN. DISEBUAH PERKUBURAN.
MARSINAH SEORANG PEREMPUAN MUDA, USIA 24 TAHUN, SEORANG BURUH KECIL DARI SEBUAH PABRIK  ARLOJI DI PORONG, JAWA TIMUR, TANGGAL 9 MEI 1993 DITEMUKAN MATI TERBUNUH., DIHUTAN JATI DI MADIUN. DARI HASIL PEMERIKSAAN  OTOPSI, DIKETAHUI KEMATIAN PEREMPUAN MALANG INI DIDAHULUI PENJARAHAN KEJI, PENGANIAYAAN DAN PEMERKOSAAN DENGAN MENGGUNAKAN BENDA TAJAM.  KASUS KEMATIAN PEREMPUAN INI KEMUDIAN RAMAI DIBICARAKAN. BANYAK HAL TERJADI. ADA KEPRIHATINAN YANG TINGGI YANG MELAHIRKAN BERBAGAI PENGHARGAAN. TAPI PADA SAAT BERSAMAAN BERBAGAI PELECEHAN  JUGA TERJADI DALAM PROSES MENGUNGKAP SIAPA PEMBUNUHNYA.  SETELAH MELALUI PROSES YANG AMAT PANJANG DAN TAK MEMBUAHKAN APA-APA, KASUS  UNTUK JANGKA WAKTU CUKUP PANJANG, DAN SEKARANG., SETELAH  MARSINAH SEBENARNYA SUDAH MENGIKHLASKAN KEMATIANNYA MENJADI KEMATIAN YANG SIA-SIA, TIBA-TIBA SAJA KASUS INI DIANGKAT KEMBALI. MENDENGAR HAL ITU MARSINAH SANGAT TERGANGGU, DAN MEMUTUSKAN UNTUK MENENGOK SEBENTAR KE ALAM KEHIDUPAN, TEPATNYA, PADA SEBUAH ACARA PELUNCURAN SEBUAH BUKU YANG DI TULIS BERDASARKAN KEMATIANNYA.   INILAH UNTUK PERTAMA KALINYA MARSINAH MENGUNJUNGI ALAM KEHIDUPAN. KAWAN-KAWAN SENASIB DI ALAM KUBUR TAMPAKNYA KEBERATAN. DAN DARI SITULAH MONOLOG INI DIMULAI.


____________________________________________________________________



ADA SUARA-SUARA MALAM. PERTUNJUKAN INI TERJADI DI SEBUAH PERKUBURAN. MARSINAH TAMPAK MERINGKUK DI SEBUAH BALE, GELISAH.
DIA TERTEKAN, RAGU AKAN KEPUTUSAN YANG DIBUATNYA.

Kalau saja dalam kesunyian mencekam yang dirasuki hantu- hantu ini aku dapat merasakan kesunyian yang sebenar-benarnya   sunyi.  Kalau saja dalam kesunyian ini aku dapat menutup telingaku dari  pekik mengerikan, raung dari rasa lapar, derita yang tak habis-habis.  Kalau saja sesaat saja aku diberi kesempatan merasakan betapa  diriku adalah milikku sendiri….

DIKEJAUHAN, TERDENGAR SUARA ORANG-ORANG YANG SEDANG MEMBACAKAN AYAT-AYAT, YANG SEMAKIN LAMA TERASA SEMAKIN DEKAT DAN SEMAKIN ENGGEMURUH. MARSINAH BANGKIT PERLAHAN, MURUNG.

Apa gerangan kata Ayahku tentang waktu yang seperti ini…. Kejam rasanya seorang diri, diliputi amarah dan rasa benci. Tersekap rasa takut yang tak putus-putus menghimpit….. Ketakutan yang tak bisa diapa-apakan….. Tidak bisa bunuh, atau dilawan…..

MARSINAH SEPERTI MENDENGAR SUARA-SUARA DARI MASA LALUNYA, SUARA-SUARA DERAP SEPATU, YANG MEMBUATNYA GUSAR.

Suara-suara itu…. Dia datang lagi…. Seperti derap kaki seribu serigala menggetar bumi….
Mereka datang menghadang kedamaiku…..  mereka mengikuti terus….. Bahkan sampai ke liang kubur ini mereka mengikutiku terus….

Kalau betul maut adalah tempat menemu kedamaian….. Kenapa aku masih seperti ini?
Terhimpit ditengah pertarungan-pertarrungan lama….   Kenapa pedih dari luka lamaku masih terasa menggerogoti hati dan   perasaanku…… Kenapa amarah dan kecewaku masih seperti kobaran api  membakarku ?

TERDENGAR SUARA SESEORANG NEMBANG, LIRIH….. TEMBANG ITU SESAAT SEOLAH MENGENDURKAN KETEGANGAN MARSINAH. DIA BICARA, LIRIH.

Dengan berbagai cara nek Poeirah, nenekku,   mengajarkan kepadaku tentang  kepasrahan…..  Dia mengajarkan kepadaku bagaimana menjadi anak yang menerima dan pasrah……  Pasrah itu yang kemudian menjadi kekuatanku…..  Yang membuatku selalu tersenyum menghadapi kepahitan  yang bagaimanapun.  Kemiskinan keluargaku yang melilit…… Pendidikanku yang harus terputus ditengah jalan…..

Perempuan ini jugalah yang mengajarkan kepadaku betapa hidup membutuhkan kegigihan……   Tapi kegigihan seperti apa yang bisa kuberikan sekarang……   Pada saat mana aku sudah menjadi arwah seperti ini, dan mereka masih mengikutiku terus ?

Sulit mungkin membayangkan bagaimana dulu kemiskinan melilit keluargaku…… Bagaimana setiap pagi dan sore hari aku harus berkeliling  menjajakan kue bikinan Nenekku, demi seratus duaratus perak. Aku nyaris tak pernah bermain dengan  anak-anak sebayaku. Kebahagiaan masa kecilku hilang…… Tapi aku ikhlas…… Karena dengan uang itu aku bisa menyewa sebuah buku  dan membacanya sepuas- puasnya.

Berupaya meningkatkan pendidikanku yang pas-pasan….. Merindukan kehidupan yang lebih layak…. Berlebihankah itu ? Memiliki cita-cita….. Memiliki harapan-harapan….. Berlebihankah itu ?

Lalu kenapa cita-citalah yang akhirnya memperkenalkanku pada arti kemiskinan   yang sesungguhnya. Kenapa harapan-harapanku justru menyeretku berhadapan dengan ketidak berdayaan yang tak terelakan ?

DERAP SEPATU DARI MASA LALU ITU KEMBALI MENGGEMURUH MEMBUAT MARSINAH KEMBALI TEGANG.

Itulah kali teakhir aku datang ke Nganjuk. Ketika Nenekku, tidak seperti biasanya, berkeras menahanku. Dia bicara banyak tentang firasat. Aku tahu dia membaca kegelisahanku…… Tapi aku terlalu gusar untuk menggubris nasehat-nasehatnya….. Dan sampai akhirnya aku meningggalkan Nganjuk, aku tidak pernah menjelaskan kepadanya, kenapa saat itu Sidoarjo    menjadi begitu penting untukku…..

MARSINAH MENDADAK SEDIH LUAR BIASA.

Apa yang harus kukatakan ? Apa yang dimengerti perempuan tua itu tentang hak bicara ?   Tentang pentingnya memperjuangkan hak? Dia hanya mengerti turun ke sawah sebelum matahari terbit, dan meninggalkannya setelah matahari terbenam, karena perut tiga orang cucu     yang diasuhnya harus selalu terisi.

MARSINAH MULAI GUSAR HALUS, SUARA-SUARA DI MASA LALUNYA DULU  MULAI MENGIANG DITELINGANYA.

Barangkali kalian menganggap apa yang kulakukan ini tidak masuk akal….. Barangkali kalian menganggapnya perbuatan sinting…. Tapi aku harus pergi…… Dengan atau tanpa kalian, aku akan pergi…..

Setelah empat tahun lebih aku merasa mati sia-sia, mereka tiba-tiba kembali mengungkit-ungkit kematianku. Kematian  Marsinah murni kriminal. Kematian Marsinah tidak ada hubungannya dengan  pemogokan buruh. Kematian Marsinah berlatar belakang balas dendam.Dan hari ini, sebuah buku yang ditulis atas kematianku, diluncurkan. Gila !

Aku ? siapa aku ? Seorang perempuan miskin yang dimasa hidupnya tidak punya kemampuan membeli sebuah bukupun untuk dibaca atau dibanggakan…..

Apa yang mereka inginkan dariku? Mereka menggali tulang-tulangku. Dua kali mereka membongkar kuburanku, juga untuk sia-sia, terkontaminasi….. Bangsat!
Ini mungkin bagian yang paling aku benci. Mereka selalu menganggap semua orang bodoh.  Mereka selalu menganggap semua orang bisa dibodohi.

HENING LAGI…..

Tapi itulah mungkin betapa aku, kita-kita ini,  sesungguhnya adalah orang-orang pilihan.   Orang-orang yang dipilih untuk sebuah rencana besar, dan sekaranglah saatnya. Pada saat kita sudah tidak eksist.   Pada saat kita sudah tidak mungkin dibunuh  karena kita toh sudah terbunuh.   Mereka boleh dongkol atau mengamuk sekalian  mendengar apa yang kita ucapkan. Tapi menggebuk kita ?  Masa arwah mau digebuk juga ?

SUARA -SUARA MASA LALU ITU KEMBALI TERDENGAR. BEBERAPA SAAT
MARSINAH TAMPAK TEGANG DAN TERGANGGU, TAPI DIA MELAWANNYA.
MELANGKAH SATU-SATU, IA MENGADAHKAN MUKANYA  BICARA PADA
SUARA-SUARA YANG MENGGANGGUNYA ITU.

Suara-suara itu….  Mereka mengikutiku terus….. Aku tahu mereka akan menggangguku lagi.   Aku tahu mereka akan terus menggangguku. Aku tidak takut dan aku tidak akan berhenti…..  Aku akan berdiri ditengah peluncuran buku itu, dan aku akan menghadapi mereka disana.

Algojo-algojoku….. Orang-orang yang dulu begitu bernafsu menghabisi hidupku. Berbaur dengan mereka yang dengan gigih telah berusaha menegakan keadilan atas kematianku. Lalu aku akan menikmati bagaimana mereka satu demi satu berpaling menghindari tatapanku, atau menundukkan kepala; atau lari lintang pukang di kejar dosanya sendiri. Dan sebuah peluncuran buku yang lazimnya dipenuhi tawa, tepuk tangan dan sanjungan itu akan berubah menjadi sebuah  upacara mencekam, Marsinah, muncul menggugat’ Belati berlumur darah itu muncul didepan matamu,  setelah sekian lama kau mengira, kau telah berhasil  melenyapkannya dari tuntutan keadilan.

KETIKA SUARA-SUARA DI MASA LALU ITU MEREDA, MARSINAH JUSTRU
TAMPAK SEMAKIN MURUNG DAN GUSAR. IA MENJATUHKAN TUBUHNYA
DILANTAI, LETUH. IA BICARA SEPERTI PADA DIRINYA SENDIRI.

Aku melihat begitu banyak tangan berlumuran darah…..Aku melihat bagaimana keserakahan boleh terus berlangsung, para pemilik modal boleh terus mengeruk keuntungan, para Manager dan para pemegang kekuasaan boleh terus-menerus bercengkerama diatas setiap tetes keringatku.  Tapi seorang buruh kecil seperti diriku berani membuka mulutnya menuntut kenaikan upah ?   Nyawanya akan terenggut.

Dan sekarang lihat bagaimana mereka menjadikan kematianku bagai jembatan emas demi kemanusiaan; Demi ditegakkannya keadilan; Demi perbaikan nasib buruh.

MARSINAH TERTAWA, GETIR.

Memperbaiki nasib buruh…. Dari 1500 menjadi 1700, dari 1700 menjadi 1900…. Satu gelas teh manis dipagi hari, satu mangkok bakso disiang hari,  lalu satu mangkok lainnya di malam hari.   Itu takaran mereka tentang kebahagiaan seorang buruh, yang dituntut untuk memberikan seluruh tenaga dan pikirannya, tanpa boleh mengeluh.

Mereka bermain diantara angka-angka. Mereka tidak pernah mempertimbangkan apakah sejumlah angka mampu memanusiakan seorang buruh. Dan mereka menepuk dada karena itu.

Memperbaiki nasib buruh…. Mana mungkin kematian seorang buruh kecil seperti diriku mampu   memanusiakan buruh di tengah sebuah bangsa yang sakit ?

SUARA DARI MASA LALU ITU   KEMBALI MENGHENTAK, MENGEJUTKAN MARSINAH. TAPI DIA TIDAK TAKUT.

Aku tidak takut. Aku tidak takut. (KE KAWAN-KAWANNYA) Aku tidak takut. (KE SUARA-SUARA) Aku bisa mempertanggung jawabkan semua itu….. Masa hidupku yang terhempas-hempas yang terus – menerus dihantui rasa takut bisa mempertanggung jawabkan semua itu.   Kematianku yang menyakitkan. Tulang-tulangku yang remuk; darahku yang berceceran membasahi tumit kalian ……. Bisa mempertanggung jawabkan semua itu.

Bangsa yang bagaimana yang kalian harapkan aku menyebutnya? Aku mengais-ngais mencari sesuap nasi disana. Sambil terus-menerus tersandung-sandung, dikejar-kejar  gertakan dan ancaman-ancaman kalian.

Aku disiksa disana….. Aku diperkosa disana, dibunuh dengan keji….. Begitu kalian telah mematikanku.   Begitu kalian merenggut seluruh hak hidupku…… Bangsa yang bagaimana kalian pikir aku menyebutnya? Bangsa yang bagaimana?

KETIKA SUARA DARI MASA LALU  ITU MENGHILANG, MARSINAH LAGI-
LAGI GUSAR. IA DUDUK SAMBIL MEMELUK KEDUA LUTUTNYA, SEPERTI
MERINGKUK.

Apa sebenarnya yang sedang  kulakukan ini ? Aku kembali mengorek luka itu…. Tuhan, ini menyakitkan. Tidak ! Ini terlalu menyakitkan. Aku tidak akan melakukan ini. Tidak ! Persetan dengan sebuah buku yang terbit. Persetan dengan calon-calon korban yang sekarang ini mungkin   telah berdiri ditepi liang lahat dan segera akan menelannya. Aku arwah, dengan air mata yang tak habis-habis…. Arwah yang terus menerus gusar digelayuti beban lama….. Apa yang bisa kulakukan ? Tidak !

MARSINAH KEMBALI MENENGADAHKAN KEPALA, SEPERTI BICARA PADA
SUARA-SUARA ITU.

Sampaikan pada mereka, Marsinah tidak akan datang! Marsinah yang lemah….. Yang lemah lembut…..  Perempuan miskin yang tak berdaya dan tidak tahu apa-apa….. Tidak! Dia tidak akan datang. Dia akan menunggu hingga peradilan agung itu tiba, dan dia akan berdiri disana sebagai saksi utamanya.

SUASANA TIBA-TIBA BERUBAH, CAHAYA MENJADI MERUANG.
MARSINAH BANGKIT HERAN.
MARSINAH BERPUTAR MENGAMATI SEKELILINGNYA.

Aku disini sekarang….. Sebuah ruangan yang megah….. Dan disini, sekelompok manusia berkumpul…..

MARSINAH SURUT KE BALE, MENGAMBIL SELENDANGNYA.

Aku akan menghadapi ini dengan sebaik-baiknya…..Aku akan membuat mereka terperangah.   Aku akan mengecohkan mereka dari setiap sudut yang tidak mereka duga sama sekali.

MARSINAH BERGERAK KE HADAPAN HADIRIN, SAMBIL MENATAP SEKELILING.

Aku disini sekarang…..

TATAPAN MARSINAH TERHENTI PADA SATU KELOMPOK HADIRIN.

Dan kalian…..  Aku mengenali betul siapa kalian….. Sebuah generasi, yang seharusnya ceria dan merdeka, duduk disini dengan tatapan mengandung duka……

MARSINAH BERGERAK KEARAH KELOMPOK ITU.

Demi Tuhan. Bagiku, kalian adalah fakta paling menyakitkan. Kemarahan kalian itu adalah kemarahanku dulu. Harapan dan cita-cita kalian itu adalah harapan dan cita-citaku dulu. Cita-cita yang terlalu sederhana sebenarnya untuk mengorbankan satu kehidupan.

Satu saat, ditengah sebuah arak-arakan, aku menyaksikan kalian menengadahkan muka ke langit, marah….. Dengan mulut berbuih, kalian memekik menuntut perubahan Setiap kali aku melihat kalian meronta seperti itu, perasaanku terguncang. Aku ingin sekali berkata, “Jangan!”

Aku adalah korban dari kemarahan seperti itu. Dan tidak satupun dari kita bisa mengelak, kalau kematianku adalah lambang kematian kalian. Lambang kematian sebuah generasi. Kematian dari setiap cita-cita yang merindukan perubahan.

MARSINAH BERHENTI BEBERAPA SAAT  SEPERTI SEDANG MENJERNIHKAN PIKIRANNYA. IA LALU MENATAP KELANGIT, DAN MULAI BICARA.

Kalian mungkin tidak akan memahami ini …… Tapi aku ya. Aku memahaminya betul.  Didalam matiku aku telah melakukan perjalanan mundur. Sebuah penjelajahan berharga yang kemudian membuka mataku tentang berbagai hal.

Dari situ aku jadi tahu banyak….. Aku jadi tahu kalau dunia dimana dulu aku dilahirkan;   Dunia yang kemudian dengan dingin telah merenggut hak hidupku; adalah dunia yang sakit, sakit sesakit-sakitnya. Dunia dimana kebenaran-kebenaran dibungkus,  dimasukkan ke dalam peti lalu dikubur dalam-dalam……

Didunia seperti itulah aku dibungkam. Tidak cukup hanya dengan gertakan,  dengan penganiayaan dan pemerkosaan yang dengan  membabi buta telah mereka lakukan. Untuk yakin mulutku tidak lagi akan terbuka,  mereka mencabut nyawaku sekaligus.

Sekarang, apa yang harus kukatakan pada kalian? Aku tahu menolak adalah hak kalian. Hak paling azasi dari setiap umat. Tapi lihat, pelajaran apa sekarang yang kalian peroleh  dari apa yang aku alami?

MARSINAH MENGAMBIL SEBUAH  KORAN, LALU MEMBUKA-BUKANYA,
SESAAT.

Kalian pasti tidak bisa membayangkan seberapa banyak  kebenaran yang aku ketahui, yang seharusnya kalian ketahui  karena sebagai warga masyarakat kalian berhak untuk itu. Aku tidak membaca apa-apa disini. Berita yang kalian dapatkan hanya berita yang boleh kalian dapatkan,   bukan yang berhak kalian dapatkan.

Itu sebab kalian baru heboh setelah kebakaran hutan merambat  kemana-mana dan mulai menelan korban. Sementara aku…..

Aku sudah mengetahui semua itu lama sebelum api pertama disulut. Aku tahu siapa yang menyulut api, dan aku tahu persis kenapa. Semua kalian heboh membicarakan kebakaran hutan.  Semua kalian marah dan resah….. Koran-koran, seminar-seminar, pertunjukan-pertunjukan kesenian meradang membicarakan kebakaran hutan,  seolah kebakaran hutan itu bencana yang datang  begitu saja dari langit dan hanya mungkin ditangiskan pada Tuhan. Kehebohan yang tak bertenaga dan tak punya gigi…..

MARSINAH MEMBACA KORAN

Pemulihan kondisi moneter akan terus diupayakan.  Jangan aku dikultuskan….. Tapi bukan berarti aku menolak untuk dikultuskan….. Namun, renungkanlah….. Waou….

MARSINAH MELEMPAR KORAN ITU KASAR. TAPI TIBA-TIBA JADI TERPERANJAT ATAS ULAHNYA.

Sebentar! Apakah diruangan ini ada intel atau aparat? Alhamdulillah….. Dan tolong dicatat baik-baik. Marsinah sebenarnya tidak sungguh-sungguh ingin menggugat. Dia hanya takjub…..   Rakyat yang mana yang sempat memikirkan pemulihan kondisi  moneter? Apa yang mampu mereka pikirkan dengan perut melilit? Mereka terseok-seok terancam kelaparan. Pikiran dan perasaan meraka tercekam mendengar ratusan orang mati karena kelaparan justru ditempatkan dimana uang sedang terus ditambang.

Didunia seperti itulah kalian dilahirkan. Dunia dimana serigala-serigala berkeliaran mengejar nama dan kemuliaan, dan untuk itu kebodohan dan kelaparan kalian penting terus dipertahankan.   Dunia dimana kemiskinan kalian dijadikan aset penting, demi lahirnya seorang Pahlawan,  Pahlawan Pengentasan Kemiskinan.

Didunia seperti itulah kalian tumbuh sebagai generasi penerus. Dunia dimana diatas pundak kalian masa depan sebuah bangsa dipercayakan, sambil pada saat yang sama, kedalam rongga hidung kalian serbuk yang mematikan akal sehat, terus menerus ditiupkan. Generasi tumbal…..
Generasi yang malang….

MARSINAH MEMBUANG PANDANGAN KE ARAH LAIN.

Lalu kalian…. Entah apa yang aku katakan pada kalian? Terus terang, berhadapan dengan kalian adalah bagian yang paling aku takutkan. Lengan kananku biru kejang-kejang dicengkram dengan kasar oleh seorang satpam yang mencoba menjaili izin haidku dengan merogoh kasar celana dalamku.
Berminggu-minggu si Kuneng, buruh dibawah usia itu dibelenggu rasa takut ketika satpam lain dengan kasar meremas susunya yang belum tumbuh, yang masih melekat ditulang rusuknya.   Satpam-satpam itu sama melaratnya dengan kami. Sama menderitanya. Hanya karena mereka laki-laki dan punya pentungan….. Mereka merasa berhak ikut-ikutan melukai kami…… Ikut-ikutan memperlakukan kami bagai bulan-bulanan. Tapi bukan Subiyanto.

Bagi kami Subiyanto adalah kekecualian. Subiyantolah yang membawa Kuneng ke ahli jiwa, ketika perempuan itu satu saat betul-betul terguncang. Dia mencari pinjaman kesana kemari untuk itu. Bagi kami Subiyanto selalu menjadi pelindung…. Dan dia dituduh sebagai salah satu pembunuhku ? Gila….. Lalat hinggap dimakan malamnya dia tidak akan mengusirnya.   Itulah Subiyanto.

MARSINAH MEMBUANG PANDANGANNYA, JAUH. SINIS.

Aku menyaksikan bagaimana Lembaga Peradilan berubah menjadi lembaga penganiayaan. Aku menyaksikan bagaimana saksi-saksi utama dibungkam, dilenyapkan….. Menyaksikan saksi-saksi palsu berdiri seperti boneka, remuk dan ketakutan…. Dan Subiyanto ada disana….. Lelaki berhati lembut itu disiksa disana. Dianiaya, ditelanjangi, disetrum kemaluannya, dan dipaksa mengakui telah ikut membunuhku. Mereka menciptakan cerita-cerita bohong; Mereka memfitnah; Mereka menghakimi orang-orang yang tidak pernah ada.

Kalian semua tahu itu bohong. Kalian tahu persis itu rekayasa. Aku tahu kalian akhirnya berhasil membebaskan Subiyanto dari rekayasa sinting itu. Lalu bagaimana dengan aku? Bagaimana mungkin nyawaku lepas begitu saja dari tubuhku tanpa seorang pelaku?

Apa yang akan kalian katakan tentang itu? Bahwa Hukum itu gagap? Bahwa Lembaga Peradilan itu gagap? Bahwa diatas meja, dimana mestinya ditegakkan disitulah, uang, darah dan peluru lebih dahulu saling melumuri? Demi Tuhan. Aku tidak bisa membayangkan, bagaimana kelak   kalian akan mempertanggungjawabkan itu pada anak cucu kalian….. Lembaga Peradilan adalah harapan terakhir bagi  orang-orang kecil seperti kami. Satu-satunya tempat yang seharusnya memberikan pada kami perlindungan.

Tapi apa yang kami dapatkan? Apa yang kami dapatkan?

MARSINAH TIBA-TIBA BERHENTI, MENGALIHKAN TATAPANNYA KE ARAH
LAIN.

Nanti dulu. Aku seperti menyaksikan sebuah pemandangan bagus.

MARSINAH MENGAMBIL TEROPONG  DARI MEJA PERLENGKAPANNYA, UNTUK BISA MELIHAT DENGAN JELAS.

Bukankah bapak yang duduk di pojok itu adalah  seorang anggota DPR? Atau….. Jangan-jangan, beliau ini adalah anggota DPR dari Partai terlarang itu? Hm…. Lagi-lagi Kuneng…. Lagi-lagi perempuan malang itu mengingatkanku betapa menyakitkannya menjadi orang tak berdaya.   Satu tahun Kuneng berhasil menunda pengosongan
kampung Ijo itu. Kampung dimana Orangtuanya memiliki sepetak kecil tanah yang dibeli dengan cara cicilan.

Bulak-balik Kuneng ke kantor DPR. Dia yakin betul para wakil Rakyat itu mampu membelanya   memperoleh ganti rugi yang lebih layak.
 Selesai
Read more »»  

KUCING HITAM
Karya : Edgar Allan Poe

DALAM SEBUAH SEL, DUDUK SEORANG SETENGAH  BAYA. IA NAMPAK MURUNG. WAJAHNYA MISTERIUS, GARIS-GARIS WAJAHNYA DIPERTAJAM OLEH PENDERITAAN BATIN YANG BERAT. SUASANA SANGAT SEPI. TIBA-TIBA IA BANGKIT MENGAMATI SEKITAR, LALU DUDUK LAGI.
Untuk cerita amat ajaib ini, yang terjadi dalam rumahku dan hendak kami paparkan, sama sekali aku tidak mengharap bahwa orang-orang akan percaya. Gila rasanya mengharap begitu, dimana aku sendiri tidak percaya dengan indraku sendir. Namun gila pun aku tidak sama sekali aku tidak bermimpi. Tapi besok, besok aku akan mati, maka sekarang harus kubuang beban yang menghimpit jiwaku ini. Tak ada keinginanku untuk memaparkan pada dunia serangkaian peristiwa dirumah secara sederhana dan pendek, tanpa dibumbui.
Oleh akibat-akibatya, peristiwa itu telah mengejutkan hati, menganiaya bahwa memusnahkan direiku. Namun aku tidak bermaksud menafsirkannya. Bagiku tak ada hasilnya kecuali kengerian. Bagi orang lain mungkin bukan mengerikan, tapi aneh. Nanti mungkin akan ada orang pandai yang akan berhasil menafsirkan keanehan ini sampai terasa biasa, seorang p-emikir yang lebih tenang, berakal, dan jauh kurang bingung daripada aku dalam menghadapi yang kututurkan tanpa senang hati ini. Barngkali dia tak akan melihat sesuatu pun selain rentetan sebab akibat yang sudah lumrah.
Sedari kecil aku terkenal suka meruntut dan berperikemanusiaan. Kelembutan hatiku ini amat kentara, hingga sering diolok-olok oleh teman-temanku.
Aku sangat menggemari bintang. Orang tuaku mengijinkanku memelihara pelbagai binatang di rumah, bersama merekalah ku habiskan sebagian waktuku. Aku tak pernah lebih bahagia kalau tidak memberi makan serta mengelus mereka. Tabiat ini tumbuh bersama umurku.
Maka sewaktu dewasa aku menyadari salah satu sumber terbesar kesalahanku. Pada siapa pernah menyayangi anjing yang setia lgi pintar, tak perlu aku terangkan betapa dalam dan mesra kepuasan yang kudapat dengan begitu. Dalam cinta binatang yang rela dan suka berkorban itu, ada sesuatu yang langsung merasuk ke hati seseorang yang kerapkali untuk menguji persahabatan kecil atau kesetiaan, yang hanya dihasilkan oleh manusia.
Aku kawin muda dan beruntung bahwa istriku punya kesamaan kesenangan. Sekali paham akan kesenanganku, ia pergunakan semua kesempatan untuk memberi piaraan yang indah-indah. Kami mempunyai burung, ikan mas, anjing yang manis, kelinci, monyet kecil dan seekor kucing. Yang terahir ini adalah hewan yang yang sangat besar dan lagi cantik, hitam sama sekali. Sedang kepintarannya mengagumkan. Mengenai kecerdasannya ini, istriku tak luput dari sedikit takhayul, sering mengingatakan pada mitos turun temurun yang yang menganggap kucing hitam sebagai juru tenung yang menyamar. Dia bukannya sungguh-sungguh percaya-aku sebut ini hanya oleh sebab pada saat ini aku ingat ihwalnya.
Pluto, demikian nama kucing itu-adalah teman bermainku yang paling aku saying, hanya aku yang memberinya makan. Diikutinya aku pergi. Di rumah, di halaman, bahkan dengan susah payah kucegah ia mengikutiku di jalanan. Dan itu terjadi selama bertahun-tahun. Selama ini kuakui dengan malu, perilakuku mengalami perubahan mendasar kearah buruk, disebabkan kegemaranku meminum-minuman keras.
Hari demi hari aku bertambah murung, lekas marah dan makin memperhatikan perasaan orang lain. Tak segan-segan lagi aku memakai kata-kata pedas pada istriku. Akhirnya aku memukulnya. Dengan sendirinya piaraanku pun ikut menderita oleh perilakuku ini. Aku tak hanya melalaikan mereka. Cuma Plutolah yang kurasa tak pantas di sakiti. Tapi binatang lain tak segan-segan aku menganiaya mereka. Bahkan si anjing, apabila mereka secara kebetulan atau karena patuh tiba di depan kakiku.
Penyakitku itu kian lama kian parah, alangkah jahatnya alcohol hingga pada akhirnya…akhirnya Pluto sendiri pun yang kini menjadi korban dank arena itu agak lekas tersinggung, Pluto sendiri menjadi korban kejahatanku.
Pada suatu malam tatkala aku pulang dengan sangat mabuk dari salah satu warung minuman dalam kota yang sering aku kunjungi. Bahwa kucing itu menghindari aku, lekas ku tangkap dia. Dalam ketakutannya menghadapi kegusaranku ia membuat luka kecil dengan giginya pada tanganku. Aku segera dikuasai setan. Aku lupa diri. Aku seperti kehilangan diriku yang asli, maka kejahatan yang amat keji, tersebab minuman keras, menggetarkan tiap ototku. Dari kantong kuambil pisau, kupegang binatang sial itu pada kerongkongannya. Dengan perasaan dingin kucongkel matanya sebelah.
Saat keesokan harinya aku siuman dan kesadaranku kembali, aku merasa setengah ngeri dan menyesal atas kejahatanku. Tapi perasaan ini hanya sementara, jiwaku tak bergerak. Sekali lagi aku mabuk, hingga lenyaplah segala penyesalan akan kejahatanku. Sementara itu si kucing berangsur sembuh. Sungguhpun lobang mata yang kopong itu seram nampaknya, namun ia sendiri agaknya tak lagi merasa sakit.
Ia berkeliaran seperti biasanya dalam rumah, tapi apabila dilihatnya aku, dengan sendirinya ia lari ketakutan. Cara hidupku yang dulu belumlah mati sama sekali dalam diriku, hingga kebencian kucing ini masih membuat sedih, tapi perasaan inipun lekas tersisih oleh kekesalan. Dansebagai puncak malapetaka datang sifat ke binatanganku yang mempercepat keruntuhahanku.
Peragaman jiwa ini tak disebut oleh filsafat. Namun aku yakin benar bahwa kebinatangan ini salah satu getar jiwa manusia yang sangat kuat, salahatu kecendrungan atau rasa asli yang tak dapat disimpulkan,yang membentuk  watak manusia. Siapa mengira bahwa seseorang bisa berates-ratus kali berbuat jahat atau bodoh,dengan tiada alasan atau kesadaran bahwa hal itu boleh di lakukan? Bukankah kita punyan kecendrungan memperkosa hukum yang tak tertulis, juga lantaran kita tahu bahwa itu adalah hukum?sudah kubilang sudah kubilang bahwa sifat kebinatanganku ini mempercepat keruntuhanku. Hasrat jiwa yang tak terajuk untuk menyiksa diri inilah untuk memperkosa fitrahnya sendiri untuk berbuat dosa karena inginkan dosa, hasrat ini mendorongku meneruskan penganiayaan atas hewan tak bersalah itu dan akhirnya membunuh.
Pada pagi hari kuikatkan tambang dikuduknya, lalu kugantung ia ke ranting pohon, kugantung ia dengan mata air bercucuran, serta hati penuh penyesalan. Kugantung ia oleh karena kutahu bahwa ia berbuat kejahatan-kejahatan besar, hingga sukmaku yang abadi itu kupertaruhkan, bahwa jika hal ini tak mustahil Tuhan yang maha pengasih dan penyayang tak akan dapat mengampuni.
Pada hari terjadinya kekejaman kutadi, malam harinya aku terbangun oleh teriakan yang menyebut kebakaran. Tirai-tirai diranjangku dimakan api. Seluruh rumah menyala-nyala dengan sangat susah, istriku, aku dan bujang dapat menyelamatkan diri dari maut. Kerusakannya sempurna. Seluruh kekayaanku ludes. Sesudahnya aku jatuh pada keputusasaan. Jika kucari hubungan sebab akibat malapetaka ini dan kekejamanku, itu akan membuktikan kelemahan jiwaku. Tapi hendak kusebut serangkaian kenyatan saja, dan aku tak mau membuang suatu mata rantai yang mungkin berarti, sungguhpun tak penting.
Sehari sesudah bencana itu kukujungi puing-puing reruntuhan. Semua telah runtuh. Kecuali satu. Yang satu ini tak amat tebal; berdiri dalam bekas kamar yang kurang lebih ada di tengah-tengah rumah. Pada tembok itu kemarin bersandang ranjangku di bagian kepala. Kapur di situ masih baru, hingga tak sedikit dapat bertahan terhadap api, maka inilah sebabnya tembok itu tak runtuh. Di depannya orang berhimpun berjejalan, dan banyaklah yang dengan teliti dan semangat mengamati bagian tertentu. Kata-kata aneh dan luar biasa serta lain-lain sebagian menimbulkan rasa keingintahuanku. Aku mendekat. Pada permukaan putih itu kulihat ada pahatan seekor kucing besar. Gambar itu sangat detil dan menakjubkan . dan sekitar kuduk binatang itu ada seutas tali.
Aku heran dan ngeri tak terhingga. Tapi kemudian aku teringat sesuatu. Kuingat kucing itu kugantung dalam taman di sebelah rumah. Waktu kebakaran diketahui orang, taman segera penuh oleh manusia. Tentunya ada seorang yang memotong talinya lalu melemparkan mayat kucing itu ke dalam kamarku melalui jendela bermaksud membangunkanku.. karena runtuhnya tembok-tembok lain, maka korban kekejamanku itu tertahan pada tembok kapur yang masih baru. Begitulah gambaran yang kulihat tadi, dibuat oleh kapur panas oleh amoniak dari mayat kucing itu sendiri.
Meskipun uraian tentang peristiwa itu masuk akal bagiku bahkan mungkin pula memuaskan hati nuraniku, namun tak luput meninggalkan kesan mendalam dalam otakku. Tapi tak semuanya benar. Aku hanya sanggup bersedih atas kematian binatang itu. Maka warung-warung kotorlah yang kini lebih sering kukunjungi. Aku pun mencari mata piaraan yang sejenis dan serupa sebagai penggantinya.
Suatu malam, ketika aku duduk dalam pondok yang terkenal buruk, perhatianku sekonyong-konyong tertarik oleh suatu benda hitam yang tertunduk di atas salah satu tempayan jenewer atau tuak yang merupakan perabot terpenting di dalam kamar. Aku telah bermenit-menit memandang ka atas tempayan itu, maka heranlah aku bahwa benda hitam itu adalah kucing. Kuhampiri dan kujamah ia, ia binatang yang cukup besar, mirip Pluto kecuali satu hal, Pluto tak punya rambut putih sehelai pun di badannya, sedagkan di badan kucing iitu belang putih menutupi hampir seluruh bidang dadanya.
Waktu kuraba, ia bangkit mendengkur keras serta menggesek-gesekan kepalanya ke tanganku. Ia agaknya amat senang. Mahluk seperti inilah yang ingin kudapatkan. Aku segera menawarnya dari penjaga warung, tapi ternyata ia bukan pemilik kucing itu. Ia belum pernah melihat kucing itu sebelumnya. Aku terus membelainya dan ketika hendak berkemas mau pulang, hewan itu ingin mengikutiku. Kubiarkan ia begitu, pun sambil jalan sesekali aku membungkuk serta membelainya lagi. Setibanya di rumah ia segera menjadi kesayangan istriku. Akan diriku, aku segera bosan pada binatang itu, dan ini tidak seperti awal harapanku.
Tapi…entah bagaimana dan mengapa….kesukaannya yang terus terang akan diriku itu malahan mengganggu dan memuakkan hati. Sedikit demi sedikit perasaanku mulai terganggu dan kekesalanku memuncak sampai kebencian yang berkobar-kobar. Aku hindari kucing itu, sejenis perasaan malu ditambah kenangan akan kekejamanku dulu mencegahku untuk menganiaya dia. Pecan pertama kujaga agar tak kupukul atau kusakiti, tapi lambat laun, sedikit demi sedikit aku dipenuhi rasa ngeri yang sangat hebat, maka diam-diam kuhindari pertemuan dengannya. Seperti dia punya penyakit menular. Dan yang menambah kebencianku adalah saat aku sadar kucing itu punya satu mata mirip Pluto. Keanehan ini membuat istriku semakin saying padanya. Seperti sudah kusebut, dia ini punya perasaan halus, seperti sifatku yang dulu.
Tapi semakin aku muak padanya, semakin ia mesra padaku. Ia mengikutiku dengan kepatuhan yang sukar dibayangkan. Dimana aku duduk, dia meringkuk di bawah kursiku atau melompat ke pangkuanku. Jika aku bangkit, ia berjalan dekat kakiku atau dia menggaetkan cakarnya panjang tajamnya ke celanaku. Pada saat itu ingin rasanya kubunuh kucing itu dengan satu pukulan, tapi niat itu tidak jadi, sebagian besar karena kenangan atas kejahatanku dulu terutama…hendaknya segera aku akui….aku sangat takut dengan binatang itu.
Takut ini bukan takut pada suatu bencana yang terbentuk, walau sulit bagiku untuk menerangkan dengan cara lain, nyaris aku merasa malu…ya, bahkan dalam sel untuk hukuman mati ini aku merasa malu…. Mengakui bahkan takut dan ngeri yang membangunkan dalam diriku oleh binatang itu kian hebat oleh kemustahilan paling gila yang dapat dipikirkan akal manusia. Lebih dari satu kali saja menghalangi minat pada belang putih yang telah kusebut dan merupakan satu-satunya perbedaan yang nyata, antara binatang ini dan kucing yang sudah kubinasakan. Belang itu, meskipun besar namun pada awalnya kabur belaka. Tapi lambat laun dengan hampir tak kelihatan maka akhirnya belang itu berubah menyerupai garis lingkar, atau begitu yang kusebut hanya dengan menggigil, dan inilah sebab utama mereka kubenci. Momok ini dan ingin kubunuh, andaikata aku berani…. Kobaran itu membayangkan sesuatu yang menakutkan, menyeramkan ialah alat gantungan. O, lambang kengerian maut yang menyedihkan dan melecutkan, lambang hasaban dan ajal.
Tak pernahlah ada manusia yang menderita siksaan seperti aku ini karena hanya seekor binatang tak berakal… yang jenisnya kubunuh dengan acuh… binatang tak berakal saja sudah sanggup menyebabkan aku menderita sampai berlimpah-limpah, aku seorang manusia yang tercipta sanggup menuruti firasat Tuhan. Tak kenal lagi aku dengan kerestuan istirahat. Siang atau malam. Siang hari momok itu tak membiarkanku sendirian sedetikpun. Malamnya aku terjaga sejam demi sejam oleh mimpi-mimpi yang menakutkan, lalu kurasakan napas momok itu melanggar tubuh yang berat, suatu beban lahiriah yang aku tak sanggup menangkisnya….bermukim abadi dalam hatiku.
Tertekan oleh siksaan-siksaan ini, maka lenyaplah sisa-sisa kecil kebaikan budi dalam diriku, Cuma pikiran jahat yang tertinggal dalam diriku, jahat lagi durhaka.
Rasa tak senangku tumbuh menjadi benci terhadap segala hal dari semua umat manusia. Dan oleh letupan-letupan marahku yang tak terkendali ini, serta mencekamku hingga membabi buta. Maka sayanglah yang sering menjadi korban adalah istriku yang sabar dan tak pernah mengeluh itu. Pada suatu hari ia menemaniku untuk mengambil sesuatu buat keperluan rumah tangga, ia masuk ke kolong di bawah rumah tua yang terpaksa kami tinggali karena kami miskin.
Kucing itu mengikuti aku turun tangga sampai aku hamper tergelincir. Hal ini membuat darahku mendidih. Lupa akan ketakutan kanak-kanakku yang sampai kini mencegah tanganku. Aku angkat setangkai kapak. Aku tujukan pukulan pada binatang itu yang tentunya akan mampus seketika jika kena. Tapi pukulan itu ditahan istriku. Peleraian ini membuatku ngamuk lebih dari setan. Maka kusentakkan tanganku dari genggamannya, dan kukubur kapakku dalam kepalanya. Dia jatuh mati tanpa merintih.
Selesai pembunuhan keji ini aku segera menyembunyikan mayat dengan ketetapan hati. Aku sadar bahwa tak mungkin mayat itu kuangkat dari rumah siang atau malam tanpa diketahui tetangga. Kukaji berbagai pertimbangan, sekali itu kupikir hendak mencincangnya lantas membayarnya. Pada saat lain aku ingin menanamnya dalam lantai kolong. Kupikir itu lebih baik.
Membuangnya dalam sumur atau membungkusnya dalam peti, serta memanggulnya seperti barang dagangan dan menyuruh seseorang membawa keluar. Akhirnya, aku dapatkan jalan yang kuanggap paling jitu. Kuputuskan akan menanamnya ke dalam tembok, seperti konon dikerjakan oleh rahib-rahib pada abad pertengahan dengan korban-korban mereka. Untuk keperluan ini, tembok kolong itu sangat baik. Dinding-dindingnya tidak kokoh, pun baru dikapur dengan ramuan kasar yang tak jadi keras oleh kelembaban udara di situ. Kecuali di salah satu dinding ada bagian menjorok, dulu bekas cerobong asap tapi telah ditutup dan kini tak ada beda rupanya dengan tembok biasa. Tak kuragukan lagi, bahwa ditempat ini aku akan dengan mudah dapat mengeluarkan bata-bata, menyodokan mayat itu ke dalam, serta menempelkannya lagi hingga tak seorangpun akan melihat sesuatu yang mencurigakan. Dan perhitunganku tidak keliru. Dengan memakai linggis, dengan mudah kubongkar batu bata itu, maka setelah kusandarkan mayat itu pada tembok sebelah dalam, kutahan ia dengan sikap begitu. sedang tangan lainnya gampang kutekankan kembali susunan batu seperti semula. Setelah kubeli pasir dan kapur dengan hati-hati sekali, kubikin ramuan yang tak beda rupanya dengan yang lama. Maka dengan itu kutemboklah hasil kerjaku dengan teliti. Selesai itu aku merasa puas jitu benar. Tembok itu tak sedikitpun menampakkan pembongkarannya. Sisa-sisa di lantai kubuang sampai rapi kembali. Dengan bangga aku menengok sekeliling sambil berkata: SEKARANG AKHIRNYA SUSAH PAYAHKU TAK SIA-SIA.
Kemudian kucari kucing itu yang telah menjadi penyebab akan bencana ini. Kesudahannya aku berniat hendak membunuhnya. Andaikata dia dapat kutangkap saat itu, tak dapat kuragukan lagi nasibnya. Tapi agaknya binatang cerdik itu telah menjadi hari-hari oleh keganasanku yang hebat tempo hari.
Maka ia tak menampakkan hidungnya lagi dalam keadaan begini. Mustahil dapat digambarkan perasaan nyaman lagi segar yang dibangunkan dalam dadaku oleh hadirnya mahluk terkutuk itu, maka demikianlah, meski untuk satu malam saja sejak ia tak menginjak lantai rumahku, aku tidur nyenyak. Ya, aku tidur sungguh pun dengan beban pembunuhan dalam hati nurani.
Hari kedua dan ketiga berlalu dengan tiada mengantarkan penyiksaku. Sekali ini aku merasa merdeka. Dalam takutnya, si momok telah meninggalkan rumah untuk selama-lamanya. Tak akan kulihat lagi dia. Sempurnalah bahagiaku. Dosaku yang mengerikan itu hanya sedikit menggangguku. Pihak berwajib telah mengajukan beberapa pertanyaan yang dengan mudah kujawab. Bahkan ada pula penggeledahan. Tapi tentu saja tak diketemukan apa-apa. Kunantikan hari depan dengan ketegangan yang sangat. Hari keempat sesudah pembunuhan itu, tiba-tiba munculah polisi, maka mulai lagi pemeriksaan keras di rumah. Karena aku yakin bahwa tempat simpanan tak bakal ditemukan, maka hal ini sama sekali tak mengejutkan hatiku, agen-agen itu memintaku mengantar mereka. Tak ada sudut atau lobang yang tak ditilik mereka. Akhirnya untuk ketiga atau keempat kalinya mereka turun ke kolong bawah tanah. Otot0ototku tak seutaspun tak bergerak. Jantungku berdetak tenang seperti jantung orang tidur. Kulintasi kolong dari ujung ke ujung. Sambil bejalan tenang kian kemari, polisi itu puas benar dan sudah mau berangkat. Kegembiraanku amat kuat sampai tak terkendali. Keinginan melonjak-lonjak untuk untuk mengatakan sepatah kata sebagai alamat kemenanganku, agar lebih-lebih menguatkan lagi keyakinan mereka, bahwa aku tak bersalah.
“Tuan, saya dapat membersihkan diri dari syak wasangka tuan-tuan. Saya ucapkan terima kasih. Tunggu sebentar tuan-tuan. Ini, ya, ini adalah rumah yang kokoh sekali pembuatannya.”kataku saat mereka menaiki tangga.
Keinginanku tak tertahan untuk member kesan bahwa aku sama sekali tidak gelisah, maka itulah sebabnya omonganku tak karuan “Boleh dikatakan pembuatan rumah ini sempurna”.
“Tembok-tembok ini… tuan-tuan sudah mau pergi?. Tembok-tembok ini akan tetap bertahan walaupun ada gempa bumi.” Maka dengan begitu aku terbawa oleh keberanian yang gila. Aku memukul keras dengan tongkat yang kupegang pada bagian temboknya, dimana di belakangnya berdiri mayat istriku yang tercinta. Hendaknya Tuhan melindungi serta menyelamatkan aku dari iblis. Baru saja gema pukulan-pukulan tenggelam dalam kesunyian, maka aku pun dijawab oleh suara-suara kubur…. Oleh jerit yang semula sayup-sayup dan putus-putus…. Seperti tangis seorang anak, lalu cepat melantang jadi teriakan panjang, keras dan tak habis-habis. Bukan seperti suara manusia yang fitri, tapi suara mengaum pekik meratap-ratap, pekik kemenangan yang mengerikan, seperti hanya mungkin terlontar dari neraka, terpaku dari kerongkongan mereka yang terkutuk dan teraniaya. Bersama teriakan iblis-iblis yang gembira atas penderitaan korba-korban mereka.
Tak dapat dilukiskan apa yang kurasakan waktu itu, aku hamper pingsan, aku sempoyongan kea rah tembok di seberangnya. Sesaat lamanya kumpulan agen itu berdiri tak bergerak di atas tangga, terjerat oleh kejut dan kengerian. Saat berikutnya selusin tangan-tangan kuat sibuk membongkar tembok. Aku tergolek di lantai. Mayat yang setengah rusak dan diliputi darah kental itu berdiri tegak di depan penonton-penontonnya. Di atas kepala duduklah kucing yang menjijikan itu, dengan mulut menganga lebar dan matanya menyala-nyala. Dialah yang menyebabkan aku jadi pembunuh, dengan suara khianatnya kini menyerahkan diriku pada algojo. Si momok telah ikut kutembok.

Selesai

Read more »»