Daftar Isi

Senin, 10 September 2012

KIBLAT TANAH NEGERI


KIBLAT TANAH NEGERI (DRAMA)

Naskah Drama Panggung

Penulis
Gondhol Sumargiyono

Penyelaras
Sugita Hadi Supadma
M. Ahmad Jalidu


Perhatian !
Untuk menggunakan naskah ini harap menghubungi
M. Ahmad Jalidu
08175486266
masjali@yahoo.com
KIBLAT TANAH NEGERI

Introduksi
Suasana : tegang panas
Setting : Rumah Ki Gedhe Lemah kuning (lampu merah)
Musik : Sampak campur vocal + palaran
Waktu : malam hari
Pelaku : Ki gedhe lemah kuning

Palaran surat dari Unggul Pawenang (dibarengi tarian)

Sabdha Jati, aja ngaku Hyang Sukma
Mara sowano mring reki
Najan leresa ing batin
Nanging luwih kaluputan
Wong wadheh ambuka wadi
Telenge bae pinulung
Pulungi tanpa ling-aling
Kurang waskitha ing cipta
Lunturing kanthi nugraha
Tan saben uwong nampani.

Ki Gedhe Lemah Kuning (murka)
Jangankan hanya delapan! Beribu-ribu sesepuh, aku takkan sudi menghadap ke Unggul Pawenang. Aku bukan budak. Aku tidak sudi diperintah. Sejak mentari menampakkan sinarnya aku sudah hidup di antara langit dan bumi ini. Aku dan para sesepuh itu sama, hanya seonggok daging yang berupa bangkai yang tidak lama lagi akan busuk. Menjadi tanah. Tapi hari ini kalian kumalungkung para sesepuh. Beraninya mengundang aku yang sebenarnya sudah manunggal dengan Ywang Sukma. Ki Gedhe Lemah Kuning! (kepada utusan) Pulanglah!

Utusan
Saya akan pulang dan Ki Gedhe turut bersama saya.

Gajah Sora, Lembu Tanaya, dan Kebo Kenanga
Keparat!
Lancang!
Setan alas!
(Keitiganya menghajar dan mengusir utusan)
musik pembuka beranjak kembali
LAMPU BERUBAH

ADEGAN 1
Suasana : Pasewakan
Setting : Unggul Pawenang
Musik : Ladrang
Waktu : Pagi hari

Nila Ambara
Sinuwun, Unggul Pawenang saat ini diselimuti kabut gelap, sinar rembulan takut menampakkan cahaya terang. Unggul Pawenang tertutup awan hitam, sinuwun.

Panembahan Purwa
Apa? Unggul Pawenang diselimuti kabut gelap?

Nila Ambara
Benar sinuwun. Kabut itu semakin pekat seiring tersebarnya ajaran Ki Gedhe Lemah Kuning. Apalagi, hamba mendengar kabar bahwa Ki Gedhe Lemah Kuning ada dibelakang sepak terjang Kebo Kenanga. Banyak pemuda-pemuda yang membangkang pemerintahan Unggul Pawenang karena tergiur mengikuti ajaran Ki Gedhe Lemah Kuning.

Glathik Pamikat
Ananda Sultan, memang benar adanya. Suramnya bumi Unggul Pawenang ini disebabkan oleh Adhi Gedhe Lemah Kuning yang mampu memikat rakyat lantaran ajarannya. Sekarang dia sudah jarang bersama kami, manembah Sang Akarya Jagat di Lawang Kaswargan. Sungguh, ini di luar kebiasaan.

Panembahan Purwa
Oh, Ki Ageng, Aku serasa terkunci di peti besi, terkepung seeribu gunung. Pandanganku terhalang oleh tumpukan harta dan kemewahan, hingga masalah sebesar ini tidak kuketahui.

Gagak Rimang
KI Gedhe Lemah Kuning sudah medhar wewadining jagat kepada kawula Unggul Pawenang. Kawula yang masih tabu akan hal itu, sebab, alam pikiran dan angan-angan mereka masih dipenuhi rimbunnya semak belukar yang lebat. Mereka tidak sepenuhnya memahami kawruh yang kawedhar. Apakah nantinya justru tidak menjerumuskan dan merusak tatanan?

Nila Ambara
Sinuwun, bagi saya, tanpa memandang ajarannya, Ki Gedhe Lemah Kuning jelas-jelas sudah mengacaukan ketertiban negara. Saya tidak boleh tinggal diam, Sinuwun.

Panembahan Purwa
Lalu bagaimana menurut hemat Ki Ageng?

Bonang Panuntun
Ya… Adhi Gedhe Lemah Kuning memang sudah melangkah terlalu jauh. Kami berdelapan sudah berulang mengirimkan undangan, tetapi setiap utusan selalu kembali dengan jawaban yang tidak memuaskan, Adhi Gedhe Lemah Kuning tidak pernah bersedia sowan ke Unggul Pawenang.

(Panembahan Purwa terdian beberapa saat)

Nila Ambara
Maaf, Sinuwun. Keadaan ini semakin pelik sinuwun. Sudah menjadi tanggung jawab saya atas ketentraman rakyat Unggul Pawenang. Jika sinuwun berkenan, saya akan segera menyusul ke padhepokan Gedhe Lemah Kuning. Akan saya jemput beliau, secara halus ataupun dengan paksa.

Jalak Manitis
Nila Ambara! Jangan sampai yang keruh semakin keruh. Kita sedang mencari jalan untuk menemukan kejernihan, Nila Ambara. Sinuwun, rasanya itu juga menjadi tanggung jawab kami untuk mengingatkan Gedhe Lemah Kuning. Untuk sementara beri kami waktu untuk berikhtiar lagi.

Nila Ambara
Jangan bertaruh dengan waktu Ki Ageng!

Panembahan Purwa
Nila Ambara! (membentak)

Nila Ambara
Maaf, sinuwun.

(Wilutama masuk)

Wilutama
Hamba menghadap, Sinuwun.

Panembahan Purwa
Aku terima. Ada apa Wilutama?

Wilutama
Sinuwun, utusan Ki Ageng Glathik Pamikat sudah kembali dan memohon ijin untuk menghadap Sampeyan Dalem.

Panembahan Purwa
Baiklah. Segera persilakan dia masuk!

Wilutama
Sendika dhawuh, Sinuwun.

(Masuk Kidang Tlangkas bersama Wilutama)

Wilutama
Sinuwun, beliau Kidang Tlangkas, yang baru saja kembali dari padhepokan Ki Gedhe Lemah Kuning.
Panembahan Purwa
Bagaimana Kidang Tlangkas? Apakah Gedhe Lemah Kuning bersedia sowan ke Unggul Pawenang?

Kidang Tlangkas
Maaf, Sinuwun, Ki Ageng Glathik Pamikat, Saya tidak berhasil. Ki Gedhe Lemah Kuning menolak datang ke Unggul Pawenang. Dia bahkan menyatakan diri telah manunggal dengan Ywang Sukma. Menyatu dengan dengan Gusti Kang Akarya Jagat.

(Semua terkejut).

Glathik Pamikat
Celaka! Ini semakin mengkhawatirkan. Akan semakin banyak orang yang mengaku Tuhan seperti halnya Ki Gedhe Lemah Kuning.

Bonang Panuntun
Jika sudah begini, harus ada orang yang dapat meluruskan dan mengajak Ki Gedhe Lemah Kuning datang ke Unggul Pawenang untuk membahas masalah ini.

Podang Binorehan
Kita harus berbuat sesuatu Ki Ageng. Jika perlu, Kita yang datang langsung ke sana.

Nila Ambara
Hari ini juga hamba bersedia menjemputnya, Sinuwun.

Jalak Manitis
Sebentar Nila Ambara.

LAMPU BERUBAH


ADEGAN 2
Suasana : Sidang Para sesepuh
Setting : suatu tempat antah berantah
Musik : mencekam
Waktu : siang


Gagak Rimang
Bahayanya adalah jika para pengikut itu tidak mampu memahami dengan benar. Ini menjadi seperti ajaran yang sesat.

Glathik Pamikat
Aku setuju dengan pendapatmu, adhi Gagak Rimang. Akan sangat mengkhawatirkan apabila wewadining jagat, kawruh jatining urip lan kawruh sangkan paraning dumadi kawedhar untuk sembarang orang. Padahal, tiap orang belum pasti mampu menerima ajaran itu.


Jalak Manitis
Maaf, Ki Ageng, apalah gunanya mempersulit diri untuk mendapatkan ilmu. Tidak dapat dinafikan, ajaran itu sudah semestinya diketahui dan dipahami oleh mereka yang manembah kepada Gusti Kang Akarya Jagat.

Bonang Panuntun
Benar, Jalak Manitis. Memang benar. Namun untuk dapat menerima kawruh itu, bukanlah tanpa syarat. Sungguh, itu merupakan anugerah bagi mereka yang sudah mendapat hidayah. Tidak dapat diajarkan begitu saja seperti halnya ilmu wadag. Jika si penerima tidak kuat, justru akan kehilangan kiblat.

Podang Binorehan
Benar. Sebab ilmu yang diajarkan Ki Gedhe Lemah Kuning dapat menjadikan orang salah paham. Dia medhar kawruh, bahwa sesungguhnya kehidupan manusia di dunia ini ada karena kawruh budi, bukan dari Riptaning Gusti kang Murbeng Dumadi. Itu bisa ditafsirkan secara mentah, Sehingga akhirnya para pengikut itu tidak lagi manembah kepada sang Khaliq. Lupa kewajibannya. Apa keadaan seperti itu masih bisa membuat kita diam menunggu?

Gagak Rimang
Mereka akan menghilangkan syariat. Sungguh kerusakan yang parah.

Podang Binorehan
Di kemudian hari, murid-muridnya pasti akan lebih berani melanggar syariat. Yang haq dikatakan batil, dan yang batil dikatakan Haq. Halal dibilang haram dan sebaliknya. Peradaban akan hancur.

Jalak Manitis
Tetapi selama ini kita hanya mendengar. Kita belum benar-benar menyaksikan apakah ajaran itu benar-benar menyebabkan kerusakan negara?

Podhang Binorehan
Jalak Manitis! Apa kamu tidak mendengar Nila Ambara sudah matur bahwa Gedhe Lemah Kuning juga ada di balik sepak terjang Kebo Kenanga. Itu bukti pengaruh buruk ajaran Gedhe Lemah Kuning.

Glathik Pamikat
Ki Gedhe Lemah Kuning juga mengajarkan, bahwa manusia yang lahir ke dunia ini sebenarnya hidup dalam kematian. Bumi yang dipijak ini dianggapnya alam kubur. Ini benar-benar akan merusak syariat!

Gagak Rimang
Bagi mereka yang dangkal pemahamannya, lalu ambil enaknya saja, menyimpang dari ketetapan syariat. Mereka tidak butuh manembah marang Gusti, sebab anggapan mereka, kini telah ada di alam kubur.

Bonang Panuntun
Ya, benar. Mereka yang masih awam justru akan begitu mudah melanggar syariat, tidak mau lagi manembah Gusti di Lawang Kaswargan. Meniru perilaku Ki Gedhe Lemah Kuning. Padahal jika diibaratkan jalma itu buta, bisu, tuli, sebenarnya tingkah laku itu datang dari Hyang Manon. Bukankah di dalam Jitabsara sudah ditegaskan, bahwa diciptakannya manusia di dunia ini hanyalah untuk ngabekti marang Gusti. Bila seperti ini, lalu bagaimana jadinya?

Jalak Manitis
Lalu untuk apa pohon besar yang rimbun dan lebat jika buahnya tidak dapat dipetik dan dinikmati orang? Itu tidak bermanfaat. Juga apa gunanya pohon yang rindang, jika tidak mampu memberikan keteduhan bagi orang yang singgah di bawahnya?

Podhang Binorehan
Adhi Jalak Manitis! Belum saatnya kawula di Unggul Pwenang menerima kawruh tersebut. Walaupun benar adanya, tapi sesungguhnya salah bila kawruh itu kawedhar. Sebab akan berakibat fatal bagi mereka yang benar-benar belum siap menerimanya. Lalu, akan menggiring mereka keluar dari tuntunan Jamus Kalimasada. Apakah satu cawan kecil dapat menampung air sebelanga? Bila saat ini baru ada cawan, isi saja cawan itu hingga penuh. Tidak lebih.

Jalak Manitis
Apakah kita ini tidak berbeda dengan manusia lain Ki Ageng? Kita sama-sama manusia. Jika kita mampu, mestinya semua orang juga mampu. Gedhe Lemah Kuning memang telah sampai pada tahap makrifat, setelah melalui syariat, hakikat, dan tarekat.

Podang Binorehan
Tetapi murid-murid dan pengikutnya tidak bisa langsung menerima makrifat.

Jalak Manitis
Saya kira Gedhe Lemah Kuning juga tahu bagaimana mengajarkan ilmu pada muridnya. Jika Gusti yang dia sembah sama dengan Gusti yang kita sembah. Mestinya juga sama-sama bertujuan kemaslahatan bersama. Sama-sama guru, boleh saja berbeda cara mengajar.

Podang Binorehan
Adhi Jalak Manitis! Kamu membela Gedhe Lemah Kuning!

Jalak Manitis
Saya hanya berusaha Khusnudzon Ki Ageng. Saya takut kekhawatiran kita berkembang menjadi kedengkian. Ki Ageng sendiri yang mengajarkan untuk berbaik sangka. Kenapa Ki Ageng berbalik.

Podang Binorehan
Jalak Manitis! Sebenarnya apa kehendakmu?

Semua serentak
Ki Ageng! Sabar!... sabar…

Jalak Manitis
Saya hanya tidak ingin, menyelesaikan kerusakan dengan kerusakan.

Bonang Panuntun
Dan kita hampir saja ikut-ikutan rusak Jalak Manitis. Sabar…

Gagak Rimang
Lebih baik, kita menyusul ke sana dan berusaha membujuknya. Jika Nila Ambara sudah berangkat, saya khawatir keadaanya menjadi semrawut. Nila Ambara itu senopati, jangan sampai dia menggunakan cara-cara keprajuritan.

Podang Binorehan
Jika itu memang jalan satu-satunya kenapa tidak. Yang saya khawatirkan adalah Nila Ambara belum tentu mampu menghadapai kekuatan Gedhe Lemah Kuning.

Jalak Manitis
Maaf, Ki Ageng. Jika seperti itu yang ada di pikiran Ki Ageng, saya tidak setuju. Lebih baik saya berangkat sendiri…

Semua
Jalak Manitis!

LAMPU BERUBAH



ADEGAN 3

Suasana : Ki Gedhe Lemah Kuning medhar kawruh
Setting : Padhepokan Gedhe Lemah Kuning
Musik :
Waktu : Sore Hari
Pelaku : Gedhe Lemah Kuning, Gajah Sora, Kebo Kenanga, Lembu Tanaya dan murid-murid.

Gedhe Lemah Kuning
Camkanlah murid-muridku. Sesungguhnya bumi yang kita pijak ini adalah alam kubur. Di alam kubur, manusia masih juga gemar menumpuk harta dan segala yang tidak akan dibawanya kelak di alam kelanggengan, alam setelah kematian. Akibatnya, mereka menafikan keberadaan hidup yang sejati.

Gajah Sora
Maaf, guru. Dahulu pernah kau katakan. Manusia diturunkan ke alam padhang ini hanyalah layaknya bangkai, belum berujud manusia sejati.

Gedhe Lemah Kuning
Di alam padhang ini, manusia hanya menunggu saatnya maut menjemput. Manusia dilahirkan, hidup dan tumbuh, dan akhirnya hanya akan mati.

Lembu Tanaya
Guru. Jika ada manusia yang menginginkan hidup langgeng, bagaimanakah caranya?

Gedhe Lemah Kuning
Bila ada manusia yang punya keinginan untuk mendapatkan hidup abadi, dia harus memiliki ilmu kamukswan. Tapi apalah gunanya? Punya umur panjang, tapi tidak bisa sumarah, berserah diri kepada gusti. Tidak bisa hidup dengan ikhlas. Apalagi, wadhagnya akan kasat mata.

Kebo Kenanga
Lalu bagaimana seharusnya manusia hidup itu, Guru?

Gedhe Lemah Kuning
Manusia hidup harus berani mati. Bukan keterpaksaan mati seperti halnya manusia kebanyakan. Manusia harus mencari jalan kematian menurut kehendaknya sendiri. Bukan kematian yang disebabkan oleh sesuatu apapun, kecuali kehendaknya sendiri.

Kebo Kenanga
Mati oleh kehendaknya sendiri? Wah.. aku belum mengerti, Guru.

Gedhe Lemah Kuning
Kebo Kenanga, Manusia yang disebut mati atas kehendaknya sendiri adalah manusia yang dapat mengembalikan hutang-hutang selama hidupnya. Ialah dari apa saja yang telah dipinjamkan Gusti kepadanya, di antaranya badan wadhag dan nyawanya.

Lembu Tanaya
Jika begitu, manusia harus membayar hutang-hutang tersebut? Apa maksudnya, Guru?

Gedhe Lemah Kuning
Lembu Tanaya, badan wadhag atau raga harus kembali ke tanah, atas kehendak sendiri. Yang berasal dari air harus kembali menjadi air, dari udara menjadi udara, dari api menjadi api, dan roh kembali ke alam kamukswan. Yang tinggal hanya pribadinya sendiri.

Gajah Sora
Pribadinya sendiri? Apa artinya?

Gedhe Lemah Kuning
Wujud Pribadi itu sesungguhnya wujud kehidupan sejati. Wujud yang manunggal dengan Gusti. Pribadi manusia itu sesungguhnya manunggal klawan Ywang Sukma.

Kebo Kenanga
Bagaimana caranya mencari hidup sejati yang kaumaksudkan itu, Guru?

Gedhe Lemah Kuning
Dengan cara beribadah, manembah marang Gusti Kang Akarya Jagat.

Gajah Sora
Beribadah itu bagaimana Guru? Apakah harus di Lawang Kaswargan seperti orang kebanyakan?


Gedhe Lemah Kuning
Ibadah berangkat dari getaran kalbu. Hasrat dari wujud pribadinya. Dan ibadah itu tidak harus dilakukan di Lawang Kaswargan. Mencangkul sawah itu ibadah. Bercocok tanam itu bagian dari ibadah. Manembah marang Gusti. Bila dengan bersujud di Lawang Kaswargan sudah merasa dirinya manembah marang Gusti, namun perilakunya tidak mematuhi tatanan, melanggar hukum yang ada, merugikan sesama, itu sama dengan orang merugi.

(Nila Ambara Masuk. Para Prajurit menunggu di luar)

Nila Ambara
Kakang Gedhe Lemah Kuning…

Gedhe Lemah Kuning
Oh… Adhi Nila Ambara, silakan masuk. Ada perlu apakah gerangan hingga Adhi datang ke padhepokanku ini?

Nila Ambara
Maaf, kakang Gedhe Lemah Kuning, Aku diutus oleh para sesepuh dan sinuwun Panembahan Purwa…

Gedhe Lemah Kuning
Pastinya kau diperintah untuk membawaku sowan menghadap ke Unggul Pawenang. Benar Bukan?

Nila Ambara
Benar, Kakang. Mengapa Kakang menyebarkan ajaran yang belum saatnya diterima kawula di Unggul Pawenang?

Kebo Kenanga
Kakang Nila Ambara! Ki Gedhe Lemah Kuning tidak pernah mencari murid. Bukan sumur lumaku tinimba. Justru para kawula sangat ingin mendapatkan ilmu darinya. Kami ibarat semut yang mencari gula.

Lembu Tanaya
Mengapa pula para sesepuh dan Panembahan Purwa melarang orang menuruti hasrat hatinya sendiri. Hasrat hati adalah milik pribadi yang merdeka.

Gajah Sora
Langit dan bumi bukanlah milik sinuwun Panembahan Purwa. Semua isi langit bumi dan seluruh ilmu adalah milik Gusti untuk semua titahnya. Tidak ada yang berhak mengusainya sendiri.

Nila Ambara
Tapi Kakang Gedhe Lemah Kuning telah merusak ketentraman negara dengan kawruh yang diajarkannya. Atas dasar apa kakang Gedhe Lemah Kuning berani medhar wewadining jagat-sejatining urip.


Kebo kenanga
Kakang, cobalah kaupikirkan dan kaurasakan sungguh-sungguh! Di dadamu sebenarnya sudah tertanam kawruh seperti yang telah diajarkan oleh Guru. Cobalah sekali lagi! Jika Kakang bersedia membaca suratan yang tertulis di dasar hati, sudah tentu kau akan tanggap sasmitaning gaib. Dan kau pasti akan mengerti apa yang disebut kehidupan sejati. Gesang kang Sejati!

Nila Ambara
Gesang sejati itu hidup sebagai titah dan khalifah yang tunduk pada Gusti. Gesang sejati itu keseimbangan kaswargan dan kadonyan. Manembah Gusti dengan tertib tuma’ninah. Bukan menjadi Gusti bagi dirinya sendiri.

Gajah Sora
Tetapi…

Nila Ambara
Sekali lagi aku tegaskan! Gedhe Lemah Kuning telah melanggar tatanan syariat! Oleh sebab itu, mau tidak mau harus ikut aku menjelaskan hal ini ke Unggul Pawenang.

Gedhe Lemah Kuning
Aku tidak akan datang ke Unggul Pawenang! Tidak ada yang dapat dan boleh memerintahku. Aku bukan budak siapapun. Aku adalah utusan diri pribadiku. Hanya perintah pribadi sejati ini yang akan kuturuti. Pulanglah Nila Ambara.

Nila Ambara
Apa perlu kuulangi? Nila Ambara datang untuk menjemput Gedhe Lemah Kuning sowan ke Unggul Pawenang…

Lembu Tanaya
Dasar! Tamu tak tahu diri! (menghantam Nila Ambara…)

(Peperangan prajurit Nila Ambara dan murid padhepokan Gedhe Lemah Kuning tak terhindarkan…)



ADEGAN 4
Para sesepuh datang menghentikan peperangan

Jalak Manitis
Hentikan! Nila Ambara, tarik prajuritmu! Ini urusan para sesepuh dengan Adhiku Gedhe Lemah Kuning.

Gedhe Lemah Kuning
Salam hormatku para sesepuh. Ketahuilah, bukan kami yang menginginkan ini.

Podang Binorehan
Adhi Gedhe, Surya telah mulai merangkak ke barat. Sebentar lagi hari akan gelap. Jangan kau lanjutkan keinginanmu.
Gedhe Lemah Kuning.
Keinginan yang mana? Aku sekedar menuruti kehausan mereka pada ilmu kehidupan. Dan bukankah ilmu kehidupan laksana air bagi seluruh kehidupan.

Bonang Panuntun
Aku paham keinginanmu, Dhi. Tapi ilmu itu belum semestinya diajarkan pada kawula Unggul Pawenang untuk saat ini.

Gedhe Lemah Kuning
Ki Ageng, untuk apa mempersulit ilmu? Bukankah Ki Ageng sendiri juga merasa keberadaan kita adalah sebagai pancuran yang mengucurkan kawruh dari sendang kasejaten?

Podang Binorehan
Tapi bukan dengan mengajar sembarang kawruh! Jangan main gebyah uyah! Mereka belum mampu! Langkahmu itu bisa-bisa melenyapkan syariat! Tanpa syariat, hakikat itu sesat Dhi!

Gedhe Lemah Kuning
Bukankah ajaranmu isinya syariat! Lalu kenapa khawatir kehilangan syariat! Kita sama-sama punya murid. Kenapa tidak biarkan saja para kawula memilih dengan merdeka ajaranku atau ajaran Ki Ageng. Kenapa tidak berani?!

Podang Binorehan
Lemah Kuning!

Jalak Manitis
Adhi Gedhe Lemah Kuning…
Marilah Dhi, kedatangan kami adalah untuk berdamai dan mengajakmu turut bersama kami. Saling anyamlah sebab kita menjadi payung keselamatan jalan kawula, Dhi.

Gedhe Lemah Kuning
Kakang Jalak Manitis, aku paham maksudmu, tapi jalan kita memang sudah berbeda.

Jalak Manitis
Kamu menyebut Gusti yang sama dengan yang aku sebut. Mestinya sama Dhi… Kita tidak sebodoh ini, membiarkan anyaman tecabik, hingga koyak dan tak mampu lagi menjadi payung peneduh… kita bicara dan menyatukan hati serta langkah. Ajaran kita tak mengajarkan kerusakan…

Gedhe Lemah Kuning
Kita berbeda Kakang. Ajaranku juga tidak ingin merusak. Tapi …

Jalak Manitis
Bukalah hatimu, Dhi… pandanglah aku… kita tidak berbeda.
Masih ada samudra waktu untuk berbenah dengan qonaah dan hati yang ramah.



Gedhe Lemah Kuning
Terima kasih Kakang… Aku hormat padamu. Tapi biarlah aku tetap seperti ini. Tak ada gunanya berubah. Aku sudah sampai pada apa yang kuinginkan. Aku hidup manembah pada Gustiku, dan telah manunggal dalam diriku. Aku kini hanyalah mati di dalam hidup. Tak bisa lagi diusik.

Jalak Manitis
Dhi, kamu hidup di alam hidup Dhi. (dengan nada haru yang dalam)

Podang Binorehan
Oo… Jadi kamu sudah bisa hidup di dalam mati, mati dalam hidup?

Gedhe Lemah Kuning
Bisa.

Podang Binorehan
Seperti apa? Yang mati tak akan berbuat apa-apa. Tak ada takut, eman dan tak pula berkehendak lagi. Apa kamu juga bisa?

Gedhe Lemah Kuning
Bisa! Dan kali inipun akan kutinggalkan semua. Mustahil aku takut. Sehelai rambut terbelah sejuta, tiada gentar menghadapi maut. Meski jiwa raga bercampur tanah dengan bumi menyatu. Aku takkan menghindar. Takdir tiada kenal mundur yang menguasai segala kejadian. Orang mati tiada merasa sakit, yang merasa sakit itu hidup yang ada di dalam raga. Bila tugas jiwa telah tunai, maka alam Aning Anung tempat kembalinya. Alam yang tentram dan bahagia. Aman damai sejahtera. Selamanya tiada ketakutan terhadap bahaya.
Kehendak pribadiku…
Mengembalikan segala yang dari Gustiku…
Kutinggalkan alam raga
Pribadiku, kembali pada Ywang Mukswaku…

MUKSWA

The End of SELESAI…
Musik dan tarian penutup.
Penonton bersorak tanpa beranjak, berharap keindahan tak pernah usai…

Hepi besdey UNY.
Semoga semakin tua bijaknya, dan semakin muda gesitnya.

Read more »»  

Minggu, 09 September 2012

RAKYAT
 Karya : Hartoyo Andangjaya 
 hadiah di hari krida buat siswa-siswa SMA Negeri Simpang Empat, Pasaman 

Rakyat ialah kita jutaaan tangan yang mengayun dalam kerja
di bumi di tanah tercinta
jutaan tangan mengayun bersama
membuka hutan-hutan lalang jadi ladang-ladang berbunga
mengepulkan asap dari cerobong pabrik-pabrik di kota
menaikkan layar menebar jala
meraba kelam di tambang logam dan batubara
Rakyat ialah tangan yang bekerja

Rakyat ialah kita
otak yang menapak sepanjang jemaring angka-angka
yang selalu berkata dua adalah dua
yang bergerak di simpang siur garis niaga
Rakyat ialah otak yang menulis angka-angka

 Rakyat ialah kita
beragam suara di langit tanah tercinta
suara bangsi di rumah berjenjang bertangga
suara kecapi di pegunungan jelita suara bonang mengambang di pendapa
suara kecak di muka pura suara tifa di hutan kebun pala
Rakyat ialah suara beraneka

Rakyat ialah kita
puisi kaya makna di wajah semesta
di darat
hari yang beringat
gunung batu berwarna coklat
di laut
angin yang menyapu kabut
awan menyimpan topan
Rakyat ialah puisi di wajah semesta

Rakyat ialah kita
darah di tubuh bangsa
debar sepanjang masa
Read more »»  

Kamis, 06 September 2012


Lakon
ORDE MIMPI
Karya R Giryadi

BABAK I

DRAMA INI DIMULAI DENGAN SUARA BERDENTANG TANDA KEHIDUPAN DIMULAI. MUSIK RITMIS MENGIRINGI DENTANG YANG BERDENYUT SEPERTI DETAK NADI. LIGTHING PERLAHAN MENYALA MENYINARI ORANG-ORANG DALAM TABUNG BESAR. MULUT DAN MATA MEREKA TERTUTUP RAPAT. SEPERTI SEDANG MENJALANI SEBUAH PROSES KELAHIRAN. DI LUAR TABUNG BESAR, DUA ORANG SEDANG BERCAKAP-CAKAP SERIUS.

PAKARWAN:(Modar-mandir, gelisah)
Aku belum menemukan jawaban.

RIBAWAN
Apa perlu rumus-rumus?

PAKARWAN (Berpikir sejenak)
Sebenarnya tidak perlu. Tetapi aku ragu, kerena mereka penuh dengan rumus-rumus yang telah diformalasikan. Lihat kepala mereka terlalu besar. Di dalamanya segebok rumus-rumus hidup siap digunakan.

RIBAWAN
Jadi, masih diperlukan perhitungan yang tepat?

PAKARWAN
Bukan perhitungan tetapi kesepakatan. Jangan sampai kehadirannya menjadikan suasana kacau.

PAKARWAN
Tetapi mereka kan berdiri dari rumus-rumus. Kita siap mengendalikan.

RIBAWAN
Jadi apakah harus kita delete tanda formulasi?

PAKARWAN
Mana mungkin bisa? Tanda-tanda itulah yang mungkinkan mereka hidup. (Mencoba berpikir lagi) Ah….buntu!

MUSIK IRAMA DENGUS LABORATORIUM TERDENGAR PERLAHAN. KEDUA ORANG SEDANG MENGAMATI HASIL EKSPERIMENYA. MEREKA MEMBICARAKAN SEKUTU TETAPI TIDAK TERDENGAR. MEREKA BEGITU SERIUS. DAN DARI SUDUT LAIN DATANG SESEORANG YANG DIKAWAL ORANG BERPAKAIAN ANEH.

TUAN JABAT
Selamat apa saja!

KOOR
Selamat apa saja!

PAKARWAN
Oh, Tuan Jabat. Selamat datang di laboratorium Rekayasa Gene kami. Silahkan, silahkan. Kami sudah menunggunya sejak tadi. Mengenai pesanan itu, mohon diperiksa dulu.

TUAN JABAT (Melihat-lihat tabung besar)
Good, good. Apakah sudah bisa?

PAKARWAN (Diam sejenak. Klincutan)
E…..e…..begini ….e

RIBAWAN
Sudah, tuan…e…ee…tetapi

TUAN JABAT
Oh..no. Kok, pakai tetapi segela!

RIBAWAN
Be..be..be benar Tuan. Kita masih perlu waktu untuk berpikirlebih matang.

TUAN JABAT
Ah, teori

PAKARWAN
Tepat sekali, Tuan. Kita memang masih butuh teori untuk menterjemahkan kelahirannya. Kita masih punya sisa benyak generasi yang nggangur. Bahkan dari informasi pihak Badan Pemerhati Generasi (BPG), ternyata masih banyak yang ingin memperpanjang hidupnya. E..e kalau tidak salah, menurut mereka, Tuan termasuk di dalamnya. Benarkah, Tuan?

TUAN JABAT
Ah, kamu itu tahu saja.

RIBAWAN
Menurut kabar angin. Kalau itu benar, Tuan sedang merehap rumah dan mengganti segala perabotannya. E, termasuk kursi kesayangan Tuan. Katanya sekarang kursi Tuan semakin tinggi. Begitukah?

TUAN JABAT
Wah, wah, wah. Ternyata kabar itu lebih santer dari kenyataan yang salah alami. No, no, saya merenofasi beberapi bagian saja. Itu kan, hanya menuruti istri dan anak-anak saja. Wah, wah, wah semakin tinggi kekuasaan semakin tinggi banyak angin yang menamparinya…haa…haaa..haa. I don’t now, mengapa mereka begitu menginginkanya?

RIBAWAN
Ingin menduduki kursi itu?

TUAN JABAT
Bukan, ingin membelinya. (Mereka bersam-sama tertawa cekikikan). Ah, lupakan saja. Terus, bagaimana ini, apakah perlu ada surat keputusan.

PAKARWAN
Tidak perlu formal-formalnya begitu. Mereka sudah dilengkapi dengan sistem pengendali otomotis yang menyatakan kelahirnya. Pada saatnya mereka akan keluar sendirinya sesuai dengan rencana kita. Yang perlu kita siapkan saat ini hanya, kesediaan kita menerima mereka di tengah-tengah kita.

TUAN JABAT
Teori lagi!

PAKARWAN
Kerena mereka terdiri dari rumus-rumus baru. Bisa-bisa kita habis oleh rumus-rumusnya. Kita tidak bisa berimprovisasi saja. Kita herus lebih pintar darinya.

TUAN JABAT
Apakah itu, yang menyebabkan keterlambatan kelahiran mereka.

RIBAWAN
Mungkin. Atau memang kita belum siap?

PAKARWAN
Bukan, kita belumterlalu membutuhkan kehadiranya.

TUAN JABAT
Itu ketakutan kita.

PAKARWAN
Bisa juga begitu.

TUAN JABAT
Ah, sudahlah jangan risau. Apakah kalian lupa dengan dua mesin disampingku ini. He, kalian ngomong. Jangan diam saja. Masak ngomong saja menunggu perintah.

KOOR (M16DAN AK47)
Siap Tuan!

TUAN JABAT
Ayo ngomong!

M16
Siap melaksankan tugas!

AK47
Siap melaksanakan tugas!

TUAN JABAT
Apa? Tugas apa ?

KOOR (M16 DAN AK47)
Siap, keamanan Tuan!

TUAN JABAT
Saya kira kalaian sudah mendengar sendiri. Saya tidak perlu berlama-lama di sini. Saya masih ada tugas jawabnya. Saya pergi dulu. Selama apa saja.

KOOR
Selamat apa saja!

TUAN JABAT, M16, AK4 OUT STAGE. PAKARWAN DAN RIBAWAN SALING PANDANG, SEPERTI MEMBUAT KESEMPAKATAN, KEMUDIAN OUT STAGE. LIGHTING PERLAHAN MEREDUP. MESIK MENGIRING KERAS SEPERTI BENDA YANG BERGESEK-GESEKAN, BERBENTURAN. MUSIK BERHENTI, KETIKA MENDENGAR SUARA DARI SPIKER BERKOAR-KOAR.

SPIKER
Perhatian! Perhatian! System Pengendalian Pusat (SP2) memerintahkan agar mengendali-mengendali cabang siaga penuh. Gene 1, 2, dan akan membuka sisitem sementara. Kepada gene1, 2, dan kita akan masuk tanda formulasi plus (+), tanda kehidupan dimulai. (Tekan tombol) Selamat datang!

KETIGA GENE YANG BERADA DALAM TABUNG PLASKTIK, MULAI BERGERAK PERLAHAN-LAHAN. TUBUHNYA OTOT-OTOT MULAI MEREGAK, KAKU, DAN KEJANG –KEJANG. KEJANGAN TUBUHNYA SEMAKAIN LAMA SEMAKIN KERAS DIIKUTI SUARA MENGERANG-NGERANG , SUARA JERIT, DAN TANGIS.

SPIKER
Perhatian, kepada seluruh Sistem Pengendalian Cabang (SPC), kita menuju formula samadengan (=). Kepada masyarakat luas, mohon memperhatikan datangnya generasi baru gene 1, 2, dan 3. Semua cabang sudah siaga. Okey! Berpisah untuk meluncur melaksanakan tugas. Hitungan mundur : 10,9,8,7,6,5,4,2,1, go…!
Ketiganya meluncur melalui papan luncur. Musik berdendang keras. Lighting berkilat-kilat. Mereka meluncur cepat sekali, hingga bertemu pada sudut yang ditetentukan. Mereka saling pandang, saling mengamati, saling meraba seluruh tubuh. Mereka ingin saling sapa. Tetapi mulutnya tidak mengeluarkan suara. Mereka mengunakan bahasa isyarat yang tidak ada artinya. Dan membuat mereka bertambah bingung akhirnya mereka tidak meneruskan bicara. Tiba-tiba dikejutkan oleh suara dari spiker.

SPIKER
Halo, halo, SP2 memanggil. (Ketiga orang yang sedang melamun terperanjat, kemudian mencari sumber suara). E, maaf. Eror, eror, ada gangguan teknis. Maaf kita lupa menekan tombol kode bahasa. Tunggu sebentar, ada sesuatu (Sumber suara menjauh dan terdengar lirih. Speker tendengar sedang bercakap-cakap dengan seorang perempuan) –sebentar sayang, saya sedang serius, jangan ganggu saya. Nanti sajalah puaskan dirimu, kalu sudah selesai semuanya- (Suara kembali terdengar jelas) SP2 memanggil! Kode sudah ditekan, silahkan dicoba!

MEREKA MULAI MENGGERAKANA MULUTNYA. KATA YANG MULAI DIUCAPKANNYA ADALAH: AKU, SAYA, DAN KAMU. MASING-MASING MENYEBUT DIRINYA DAN SALING MENYEBUT YANG LAIN.

ORANG I
Aku…..aku…. aku..(menunjuk dua temanya)

ORANG II
Aku? (menunjuk dirinya) Aku…A-k-u.

ORANG III (Menunjuk dirinya)
Aku…A-K-U

ORANG I TIDAK MENGERTI, DUA TEMANYA JUGA MENYEBUT SAMA: AKU. KEMUDIAN DARI SPIKER TERDENGAR SUARA. MEREKA TERKEJUT DAN MENCOBA BERSAMA-SAMA MENDEGARKANYA.

SPIKER
Benar dan bagus. Kalian sudah mengenal kata. Untuk itu dari pengendalian dari pengendalian kata-kata yang telah dibuat sesempurna dan sebaik mungkin. Untuk itu gunakan bahasa itu sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya. Bahasa itu akan kalian gunakan untuk percakapan sehari-hari, agar kalian saling mengenal.
E..mohon perhatian, selain kalian akan diberi tanda pengenal yang disebut nama masing-masing, maka kata AKU harus ditanggalkan. Yang harus kalian gunakan adalah gene 1 mempunyai nama Pekerti. Ingat Pa-ker-ti. Gene 2 mempunyai arti Panarut. Ingat Pa-nu-rut, dan gene 3 mempunyai nama Panrimo. Ingat Pa-nri-mo.
Kali terakhir, larangan yang harus dipatuhi adalah (1). Dilarang berbicara terlalu keras .(2). Dilarang berpikir yang aneh-aneh. (3). Dilarang melihat sengaja maupun tidak sengaja. (4). Dilarang mengajukan pertanyaan dan usul.
SP2 akan mengambil tindakan preventif bila salah satu larangan kalian langgar. Disana ada M-16 dan Ak4 Kalau mereka tidak bisa mengatasi, maka akan diambil tindakan penangan khusus dengan merubah formula tanda kurang(-) bila memperlambat aktifitas anda dan tanda bagi (:) akan mengentikan aktifitas anda. Demikian mohon diperhatian dan selamat menempuh hidup baru.

(Sooosssssssss, suara spiker mengilang)

PAKERTI
He, jangan pergi! (sesaat, ia tidak sadar kalau sudah bisa berbicara. Mulutnya diraba seakan tidak seakan tidak percaya) Apa yang terjadi. Apa artinya ini? He, jangan pergi! Lo..apa ini? lagi-lagi aku..

PANURUT (Memandang dengan penuh heran)
Apa itu? (Ia terkejut dengan kalimat yang diucapkan).

PANRIMO (Plenggang-plenggong, tidak mengerti apa-apa. Ia mendekati kedua orang temannya. Yang sedang meraba-raba mulutnya.ia ikut meraba mulutnya dan juga meraba mulut tamanya)
Kenapa kamu? (Terkejut).

MEREKA SALING PANDANG. KEMUDIA SALING MERABA MULUTNYA SENDIRI DAN MULUT TEMANNYA. SESEKALI BURUSAHA MELIHAT DALAM MULUT DENGAN RASA KAGUM, CEMAS, DAN TAK MENGERTI MEREKA DUDUK TERMENUNG.

PAKERTI (Menunjuk)
Siapa kalian?

PANRIMO
Kalian itu loh? (Tidak sadar)

PANURUT
Apa maksudmu!? (Berteriak)

PANRIMO.
Apa? (Juga tidak mengeti)

PEKERTI
A-p-a, Apa.

PANURUT (Manggut-manggut)

PANRIMO
Kenapa? (Memandang dengan heran)

PENURUT (Mengelengkan kepala)

PANRIMO
Lho…? (Tambah tidak mengerti)

MEREKA KEMBALI SALING MEMANDANG DENGAN EKSPRESI TAK MENETU. DAN TAK SEORANG PUN MENGERTI APA MAKSUDNYA. MEREKA SALING TATAP BAHKAN SALING MERABA WAJAH MEREKA MASING-MASING DAN JUGA SALING MERABA TUBUH MEREKA. PADA PUNCAKNYA, MEREKA MERASA GELI. GERAKAN TUBUHNYA KEJANG-KEJANG. MENGGELIAT-MENGGELIAT. TERTAWA KECIL. CEKIKIKAAN. DAN MELEDEHKAN TAWA MEREKA.

KOOR.
Haaa, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha. (Terpingkal-pingkal).

PEKERTI.
Cukup, cukup, berhenti! (Berteriak)

PENURUT
Apa lagi itu? Hik…hik..Hik..ha..ha haaaaaaaa!

KOOR (Tertawa terbahak-bahak. Semakin keras. Semakin terpingkal-pingkal).

TUAN JABAT. (Dari dalam, muncul tiba-tiba)
Pekerti. Panurut. Panrimo! (Mereka berhenti tertawa, memandang kagum kepala Tuan Jabat dan dua pengawalnya) O, ternyata kalia sudah ada disini. (Mereka saling memandang, tidak mengerti). Maafkan saya dan dua pengawal setia saya ini, datang tidak tepat pada waktunya. (Tak kuat menahan tawa. Akhirnya tertawa bersama. Tetapi tiba-tiba mereka berhenti)

M-16 DAN AK-47 (Bersama-sama mengokang senjata)

TUAN JABAT
Pengawal janangan terlalu agresif. Biarkan mereka. Mungkin ada kesalahn. O, ya , saya lanjutkan. Jalanan macet, lagi pula informasi yang saya peroleh kurang akurat. Jadi maklum, tetapi untunglah akhirnya kita bisa bertemu. (Memandangi ketiganya) Oh, sungguh hasil yang memuaskan.

Tentunya kalian sangat beruntung dan bahagia terlahir di sini. Tempat ini begitu tentram dan damai. (Pause) Lo, kenapa kalian tampak murung. Jangan diam saja. Ayo coba katakan kegembiraanmu Pakerti. O, ya, siap yang namanya Pakerti. (Tidak ada yang mengangkat tangan). Lho? Yang namanya Panurut yang mana? (Tidak ada yang mengangkat tangan). Lho?! Panrimo yang mana? (Juga tidak ada yang mengangkat tangan). Lho!!!?? (Lebih keras).

Tidak apalah, tetepi berbahagialah, karena kamu mamasuki era baru kehidupan. Tidak gemen-gemen lo. Kalian sudah merdeka. Ini merdeka betul, tidak hanya dibibir saja. Lihat di sana ada gedung bertingkat. Ah, nanti kalian akan tahu, bagaimana rasanya merdeka. (Pause) Kenapa? O, ini? Jangan takut, mereka juga manusia seperti kalian. Ayo, pengawal mendekatlah, kenalkan mereka.

(M-16 DAN AK-47 menjulurkan tangan, tetapi mereka tetap diam, tidak mengerti maksudnya). Balaslah salamnya. Begini (Mengangkat tangan masing-masing, kemudian saling bersalaman). Ini namanaya M-16 dan yang satunya namanya AK-4 Mereka berdua bertugas sebagai pengawal dan juga penjaga keamana. (Pause) Apa kalian sakit to, kok diam saja?

KOOR
Apa??

TUAN JABAT
Apa? Jadi kalaian…?

KOOR
Apa….?

TUAN JABAT
Oh, Tuhan. Pasti ada yang tidak beres ini. No….berbahaya ini. Jangan kawatir. Pengawal! Lakukan sesuatu!

KOOR PENGAWAL
Siap, melaksanakan tugas!!(Bersama-sama mengokang senjata)

TUAN JABAT
Stop! Stop! Jangan terlalu reaktif to. Ini belum tingkat yang membahayakan. Maksudku bawalah mereka, dan karantina dulu. Jangan boleh menemui orang lain dulu. Mereka masih telanjang. Belum mengerti apa-apa.

KOOR PENGAWAL
Siap melaksanakan perintah! (Menggiring ketiga manusia baru)(Meraka bersama-sama menolak ajakan pegawal)

PEKERTI
Apa? (Tidak mau dibawa pergi)

TUAN JABAT
Tidak, apa-apa. Jangan takut. Kalaian hanya akan dibawa ketempat yang lebih aman. Ayo, pengawal bawa mereka!

TANPA MEMBANTAH SEKATAPUN, MEREKA MENURUT DIGIRING PENGAWAL. OUT STAGE. MUSIK TERDENGAR LIRIH, MENGGIRINGI LAGU KEBISUAN. BLACK OUT


BABAK 2

LAGU KEBISUAN
Aku dilahirkan di padang sunyi.
Ilalang-ilalang menari-nari bercumbu dengan bulan.
Burung-burung meniup seruling, mendayu, seperti angin.
Tubuhku berlumur lumpur sawah.
Hidupku seperti pagi diirama desir air ngarai dan lembah-lembah.
Inilah nyanyiaku.
Simponinya teruntai oleh tetes keringatku.
Ibu…oh, ibu ku. Tanah dan air ku.

STAGE LENGGANG. BLACK OUT. TIRAI PUTIH TURUN, LIGHTING MENGARAH PADA SUDUT PANGGUNG. TEPAT MENGENAI TEMPAT ARI-ARI DITANAM, TERDIRI KURUNGAN KECIL DAN LUMPU TEPLOK. DISANA SUDAH BERDIRI SEORANG PEREMPUAN SEDANG MENGGENDONG BONEKA BAYINYA. IA MENIMANG-NIMANGNYA. IRAMA MUSIK MENGGANTUNG SEDIH.

PARTIWI
Cepat besar ya, nak. Cepat bisa berlari dan bicara. Kamau harus kuat seperti Gatutkoca. Kamu harus perkasa seperti Bima. Dan kamu harus cerdik seperti Bathara Ksena. Siapa lagi Ibu yang diharapkan, kecuali kamu anak ibu satu-satunya. Cepat besar ya, nak. Biar cepat bisa menggarp sawah dan mencarikan rumput sapi-sapi kita. Siapa lagi, ayahmu setiap hari bekerja sendirian. Kau harus cepat besar. Nanti Ibu sekolahkan sampai sarjana, biar tidak dibodohi orang lain. Cepat besar nak, jaman sudah maju. kita sudah merdeka. Dimana-mana orang bekerja, membangun negeri ini. Cepat besar nak, tanah kita menanti uluranmu. (Menimang-nimang lagi).

NENEK (Dari dalam, bersama Kakek membawa buku besar)
Partiwi..Partiwi..Partiwi, di mana kau, Nak. Oh, Partiwi sudahlah. Tak baik begitu. Masukalah, tak baik dilihat orang lain. Lihatlah mereka seakan mengejek kita. Tak apalah. Tetapi kau jangan menyesali nasibmu seperti itu. Pada suatu saat nanti alam pasti , merubah nasib kita. Percayalah, ia mempunyai kekuatan yang maha dasyat. Kamu jangan menyesal. Kalau sekarang kita hanya bisa melahirkan bayi saja, dan tak bisa membesarkan, terimalah itu sebagai takdir.

PARTIWI.
Tetapi takdir tidak harus seperti ini…

NENEK.
Kenapa kamu menyesali takdir?

PARTIWI.
Sawah kita luas. Tanah kita subur, akankah digarap oleh generasi yang menyesal. Setiap hari minta ditimang-timang, minta dinana bobokan, minta disuapin, minta dimandikan. Kapan ia lekas dewasa?

NENEK.
Anakku, alam tak akan membiarkan dirinya terlunta-lunta. Pada suatu saat mereka berbicara, dan yakinlah ia akan berbicara lebih keras. Alam mengerti akan dirinya. Nenek sudah sering diombang-ambingkanya. Nenek dan Kakek adalah prasasti alam yang sewaktu-waktu membelamu. Janganlah kelewat menyesal.

PARTIWI (Menimang-nimang lagi)
Cepat besar, Nak. Cepatlah kau bisa berlari. Jaman seperti roket.

NENEK dan KAKEK (Geleng-geleng kepala, sambil membuka-buka buku besaar)

KAKEK.
Kau harus kembali buku besarmu ini, Partiwi.

PARTIWI.
Kau harus mencoba kembali buku besarmu ini, Partiwi

PARTIWI
Aku sudah berulang kali membaca, tetapi selalu gagal.

KAKEK
Tidak, kau tidak gagal. Kau harus ulangi sekali lagi! Kau tidak boleh menyerah.

PARTIWI.
Cepat besar, Nak. Lihatlah matahari sudah tinggi. Jangan tidur dipangkuan ibumu. Kini saatnya kau bangkit, mengakat cangkul dan sabit. Jangan sampai tanah ini direbut orang lain. Kau harus menjaganya. Cepatlah besar, nak. Jangan membisu saja. Dengarkan Ibumu….ya…

NENEK
Partiwi, air matamu menetes?

KAKEK
Kita belum pernah lihatnya sesedih ini.

NENEK.
Jangan menangis Partiwi, malu dilihat tetangga.

KAKEK
Kita ini keluarga besar. Kau harus bisa menghadapi kesedihan ini. Kemarin-kemarin, kau tidak menangis. Bahkan begitu tabah. Lihatlaha catatan buku harian ini (Membuka buku besar) Tak ada kata tangis disni. Ayo, Partiwi kita harus mengadapi semua ini.

PARTIWI
Apakah Kakek dan Nenek lupa, bahwa kemarin memang tidak ada yang harus ditangisi?

KAKEK
Saya tahu.

NENEK
Saya pun juga tahu

PARTIWI.
Buku besar kita ini tidak pernah mengisi kata hatiku. Dulu aku tidak menangis kerena, yang tertanam dalam perutku adaalah bunga-bunga yang wangi. Disana akau dibuatkan taman begitupun aku. Tetapi sayang….(Pause)

KOOR
Tetapi sayang?

PARTIWI (Menangis, sesenggukan)

KAKEK
Lho….menangis lagi.

NANEK
Tetapi apa, Partiwi?

PARTIWI
Itulah yang tidak pernah kita cacat. Kita sudah terlalu dininabobokan oleh taman dan kebun kita. Tetapi kita tak pernah tahu, selama ini perutku telah dibuangi sampah dan bangkai-bangkai tak berguna!

TERDENGAR SUARA BEL BERDENTANG-DENTANG

KAKEK
Kelihatan ada yang datang? (Menghapiri pintu besar out stage)

NENEK
Lembaran baru kita akan tulis, Partiwi!

PARTIWI
Sudah beribu kali kita menulisnya.

Kakek masuk bersama tuasn jabat. AK-47, M-16, Partiwi, panrimo dan panurut

KAKEK
Mari, silahkan masuk Tuan….

TUAN JABAT
Kami menghadap Juru Catat.

KAKEK
Denagn senang hati. Kabar apa kiranya yang dibawa, kok kelihatan gembira sekali.

TUAN JABAT
Begitulah kiranya. Hari ini kita harus bergembira, menyambut kehadiran generasi baru, hasil produksi dalam negeri. Wah, hasil yang menggaumkan. 60% kandungan lokal selibihnya rekayasa belaka. Oh, maaf bila tampaknya begitu mendadak. Biasa era Teknologi. Kita hasur segera mengejar itu.

KAKEK
Tuan Jabat, to the point, saja

TUAN JABAT
O…o…o., baik. Tepatnya, meraka adalah generasi baru yang telah kita ciptakan untuk memimpin generasi ini. Dalam buku besarmu, bahwa era baru kita untuk ingat menjadi negara yang disegani. Catat itu! Oya..mari. Lihatlah mereka! (Kakek membatu) Canggih dan bermutu. Ini bukan lagi kerajinan tangan atau dari bim sala bim. Tetapi benar-benar dari kemajuan ilmu pengetahuan kita yang berkembang pesat. Apa kalian tidak bangga.
Catatlah! Biar suatu saat nanti, kita bisa membukanya bersama-sama. Lho, lho… Partiwi kok diam saja toh. Jangan mbesengut begitu. Mbok ya ikut bergembira. Ini hari gembira, tidak sewot begitu! Negara-negara besar saja belum tentu bisa berbuat begini. Ini harus kita sambut dengan lapang dada. Siapa lagi kalau bukan mereka yang membaangun negeri besar ini kalau bukan generasi baru. Bukan begitu, Partiwi?!

KAKEK.
Tuan….kiranya, Partiwi masih belum berkenan.

TUAN JABAT
Ah…mokal, impossible. Kemarin-kemarin ia bergembira. Ah, sudahlah. O…ya, mereka adalah Panurut, Panrimo, Pakerti. Sangat sederhana sekali. Partiwi, aku berbuat ini demi kepentingan kita bersama. Kita harus menyiapkan generasi yang canggih. Dan itulah mereka. Partiwi, tersenyumlah. Aku ingin melihat kau bahagia.

PARTIWI
Tuan Jabat, indah sekalui kelihatannya. Seandainya ini bukan mimpi, aku tidak akan bersedih.

TUAN JABAT
Oh…mimpi ?

PARTIWI
Tuan Jabat, mimpi yang kemarin hanya menjadi sampah dalam perutku. Tidakkah kau mengerti itu. Dan mimpi itu dalam buku besar hanya menjadi lembaran hitam. Lihatlah janin yang terkapar ini , beribu-ribu bahkan berjuta-juta kau terlantarkan. Tidak lihatkah engkau. Buanglah mimpi besarmu itu Tuan Jabat !

TUAN JABAT
No… impossible. Juru Catat ! Adakah itu tertera dalam buku besarmu.

KAKEK (Membuka Buku Besar , Mencari-Cari Kemudian Menggelengkan Kepala)

TUAN JABAT
Nah.. You now ? Mana mungkin ini mimpi ?

PARTIWI
Tuan Jabat! Anda boleh tidak percaya. Silahkan, itu hak Tuan. Catat itu Kek. Saya, Partiwi akan undur dari mimpi ini. Saya sudah tak sanggup lagi. Selamat tinggal.

PARTIWI OUT STAGE. MUSIK MELANTUN LIRIH. TUAN JABAT DAN KETIGA GENERASINYA BERGEMING. KAKEK DAN NENEK TIDAK BERKATA-KATA. LIGHTING TEMARAM BIRU.

KAKEK
Saya tak pernah melihat Partiwi semurka ini. Pertanda Tuan Jabat. Ini pertanda. Tuan Jabat harus menahan diri.

NENEK
Partiwi sudah terlalu lelah. Tuan Jabat harus paham itu. Sudah terlalu banyakn yang dikorbankan. Tuan Jabat harus paham. Dalam buku besar ini , kami sudah terlalu sering membuat catatan kesedihan dan kami tidak bisa menutup-nutupi.

TUAN JABAT
Sudalah. Jangan meracu begitu Juru Catat. Aku bosan dengan petuah-petuah. Sekarang aku butuh persetujuanmu, bukan petuahmu ! (Duduk di kursi goyang)

KAKEK
Kami hanya bisa mencatat Tuan. Itulah tugas kami. Kalau Tuan ingin membuat dan melahirkan generasi baru lagi, itu hak Tuan. Silahkan. Kami nanti yang mencatatnya. Biarlah Partiwi, nanti kami yang membujuk. Bukankah Partiwi selalu menurut jika Tuan memaksa. Kalau semua ini Tuan anggap baik dan benar.

PARTIWI ON STAGE DENGAN MEMBAWA SEKERANJANG BAYI. IA MENEBARKAN (MENANAM BAYI-BAYI ITU) KE TANAH DENGAN PENUH TAKJIM.

KAKEK
Sebagai pemimpin tidak boleh ragu-ragu. Dalam kondisi perang komando harus tegas. Tuan Jabat adalah orang nomor satu disini, sebagai pusat komando. Mengapa harus berunding segala. Toh segala sesuatu demi kepentingan Tuan. Beribu bahkan berjuta manusia disekitar Tuan yang telah Tuan buat sebagai budak-budak tuan, yang sekarang sudah afkiran, tidak ada salahnya tuan mencoba semua itu.
Tuan harus berani. Nantri kami yang mencatat. Partiwi akan mengerti. Ketika waktu bergerak maka pikiran manusia akan melesat menyusulnya.

NENEK
Tetapi sasmita Partiwi tidak setuju itu harus Tuan Jabat perhatikan. Itu berarti Partiwi tahu waktu. Paham akan siklus alam. Mungkin Partiwi hanya hanya ingin proses semacam ini mbok yao dibatasi. Perut Partiwi mengembung hanya oleh bangkai sia-sia. Sepanjang hari ia hanya menimang-nimang kekalahannya. Manusia memang serakah , terkadang singapun dibuat malu olehnya.
Tetapi Tuan Jabat, Semuanya berpulang kepada Tuan. Mungkin, sasmita Partiwi itu hanya sebagai ujian saja. Seperti biasanya. Silahkan Tuan. Kami hanya bisa mencatat.

KOOR (Kakek Dan Nenek)
Silahkan Tuan, kami hanya bisa mencatat.

BERULANG-ULANG SAMPAI SUARA MENGHILANG. PARTIWI TERUS MENARI. TUBUH BAYI BERSERAKAN KESELURUH RUANG. TIRAI-TIRAI TURUN, SEPERTI PILAR-PILAR GEDUNG BESAR.
SUASANA HENING. HANYA TERDENGAR DENGKUR TUAN JABAT YANG TAMPAK LELAH DAN RENTA. TIBA-TIBA DENTANG JAM BERBUNYI, ENTAH BERAPA KALI. TUAN JABAT TERPERANJAT, SEPERTI BANGUN DARI TIDUR.

TUAN JABAT
Pakerti, Panurut, Panrimo….!!!

M-16 DAN AK-47
Siap melaksanakan tugas ! (KOOR)

TUAN JABAT
Lo, kemana Pakerti, Panurut, dan Panrimo ?

M-16
Siap ! Tidak tahu yang Tuan maksud.

AK-47
Siap ! Idem. Tuan !

TUAN JABAT
Idem, idem. Idem bagaimana to kamu itu. Tiga manusia yang kamu kawal tadi lo. Pakerti, Panurut dan Panrimo ?

KOOR
Siap, tidak tau Tuan !

TUAN JABAT
Goblok jadi mereka kamu biarkan liar begitu. Saya kan sudah bilang jaga mereka semua. Mereka harus terus diawasi. Kalau tidak…Wah pengawal goblok. Bisanya hanya tunggu perintah. Apakah kamu tidak bisa berpikir. Kamu ini manusia. Bukan kerbau cunguk, kalau tidak dikeluh tidak bergerak. Mau jadi apa kalian. Perang itu pakai otak bukan otot saja. Pengawal goblok. Kemana mereka ! ?

RIBAWAN (Dari Luar) Hallooo. Eny body home ? Oh, Selamat apa saja Tuan Jabat. Kiranya Tuan Jabat sudah bangun . Kebetulan sekali. Berhari-hari saya menunggu tuan bangun tidur. Kata Tuan Pakarwan, Tuan tidak boleh diganggu. Wah, begitu sibuknya pejabat, sampai tidurnya berhari-hari.

TUAN JABAT
Bicaralah yang lebih sopan. Katakan apa perlunya?.

RIBAWAN
Okey. Tanggal pelunasan hutang-hutang sudah waktunya Tuan Jabat.

TUAN JABAT
Tagihan? Aku belum dapat hasilnya, dari kerjamu itu.

RIBAWAN
Tapi ini sudah jatuh tempo, Tuan.

TUAN JABAT
Diroll over dulu saja.

RIBAWAN
Enak saja. Dulu kan Tuan sendiri yang maksa-maksa. Saya kan juga hasil pinjaman. Ini juga sudah jatuh tempo. Enak saja kalau ngomong. Memangnya duit, Emakmu.

TUAN JABAT
Kamu jangan ngomong begitu. Saya belum punya uang. Kalau memang butuh sekarang, ambilah barang-barangku.

RIBAWAN
Saya butuh uang kontan, Tuan!

RIBAWAN MENCENGKERAM LEHER TUAN JABAT KEMUDIAN MELEMPAKAN KE KURSI GOYANG. TUAN JABAT MARAH BESAR. DENGAN BAHASA ISYARAT IA MENGOMANDO M-16 DAN AK-4 MEREKA MENGOKANG SENJATA DAN MENGARAHKAN KE RIBAWAN


TUAN JABAT
Kalau yang kamu maksud uang aku tidak punya. Tetapi kematian yang aku punya. Tunggulah di neraka, nanti aku lunasi.

MEMBERI ISYARAT TEMBAKAN. SUARA TEMBAKAN BERUNTUH MERUBUHKAN TUBUH RIBAWAN. MUSIK BERDERAP-DERAP. SUARA GENDERING, TEROMPET, DAN TERIAKAN ORANG-ORANG MEMBAHANA.PAKARWAN MASUK DENGAN TERGOPOH-GOPOH.


PAKARWAN
Gawat tuan! Gawat! Pengendali pusat telah dikuasai massa. Mereka mengobrak-abrik sistem pengendali. Mereka begitu buas. Kami Kualahan. Mereka seperti banteng ketaton sistem pengendali sudah tidak berfungsi lagi. Gawat tuan!.

TUAN JABAT (Melirik dua pengawal)
Selesaikan dengan caramu sendiri. Laksanakan !

KOOR
Siap melaksanakan tugas ! (Out Stage).

PERANG BESAR TERJADI. ORANG-ORANG MENGAMUK, MEMBAKAR, MEMBUNUH, MENJARAH APA SAJA. TAK ADA YANG BISA MENCEGAH. SUARA RENTETAN TEMBAKAN TERDENGAR DIMANA-MANA. SATU PERSATU ORANG-ORANG YANG BERINGAS BERJATUHAN. SEPI!

M-16 dan AK-47 (On stage)
Siap. Tugas tugas telah dilaksanakan1

TUAN JABAT
Good! Sekarang, kau harus bekerja keras lagi Pakarwan. Jangan mengecewakan aku. Buatkan yang lebih canggih. Aku ingin yang lebih Panurut, yang lebih Panrimo, juga yang lebih Pakerti. Kita harus mempersiapkan yang lebih matang. Kau harus mengerti Pakarwan dan Pengawal, hanya engkau yang aku percaya. Maka laksanakan tugas ini sebaik-baiknya. Kamu mengerti Pakarwan ?

PAKARWAN
Berpuluh-puluh tahun yang lalu kita bersepakat, berjalan bersama-sama demi masa depan kita bersama. Tetapi jalan kita selalu berseberangan. Saya telah merasa mengkhianati kesepakatan itu.Orde-orde yang kita bangun selalu kandas di tengah jalan. Berpuluh-puluh tahun yang lalu, kita bersepakat. Tetapi sekarang, tidak!?

TUAN JABAT
Artinya, kau menolak? (Pause) Okey. Kalau itu pilihanmu, silahkan!

PAKARWAN
Saya sudah terlalu tua untuk berpikir.

TUAN JABAT
Tugas pemikir adalah berpikir. Bukan begitu, Pakarwan ?

PAKARWAN
Benar. Tetapi saya ingin memikirkan kehidupan saya.

TUAN JABAT
Lho, Selama ini kamu berpikir untuk siapa ?

PAKARWAN
Saya telah mencurahkan tenaga dan pikiran saya untuk semua yang ada di sini.

TUAN JABAT
Jangan mbulet, Pakarwan.

PAKARWAN
Ya, saya ingin istirahat

TUAN JABAT
Jelasnya kamu sudah tidak mau lagi bekerja sama dengan aku. Okey, kalau itu maumu. Silahkan tuan Pakarwan yang aku hormati. Aku mengucapkan terimakasih atas jasa-jasamu selama ini. Maafkan jika aku banyak kesalahan. Sekali lagi aku ucapkan terimakasih, semoga kau bisa menikmati hari tuamu. Selamat tinggal, sampai bertemu.

PAKARWAN OUT STAGE. TUAN JABAT MEMBERI ISYARAT KEPADA DUA PENGAWAL. DUA PENGAWAL MEMBUNTUT PAKARWAN. TUAN JABAT MENYEKA PELUHNYA DAN MENYALAKAN ROKOKNYA. TIBA-TIBA TERDENGAR SUARA TEMBAKAN.

KOOR
Siap. Tugas telah dilaksanakan ! (Out stage)

TUAN JABAT
Habis sudah. Aku harus memulainya dari nol lagi. Kalau hadirin sekalian ingin mendaftar jadi karyawan saya silahkan tulis lamaran. Alamatnya, terserah anda alamatkan kemana saja. Kemanapun ingin mengabdi kepada tanah airnya. Rela berkorban untuk tanah airnya.

Aku butuh orang-orang yang bener-bener ingin mengabdi kepada tanah airnya.Rela berkorban untuk tanah airnya. Aku butuh orang-orang, bukan para pengkhianat. Silahkan kalau ada hadirin yang berminat, tulislah lamaran. Daripada Ijazah sarjana tuan-tuan tidak berguna dan habis dimakan ngengat.

Ini kesempatan emas. Ada yang ingin yang melamar. Anda mungkin (Menunjuk salah seorang penonton) O, Tidak. Hanya lulusan SD katanya. Ya sana pergi jadi buruh-buruh, di negeri orang. Tetapi ingat, kirimlah uang keluargamu yang di sini, jangan mayat.
Oh tuan yang dipojok sana mungkin. Lulusan apa? Sarjana pendidikan. Well, Anda bisa mengajar? Tidak! Terus bagaimana dengan ijazah Anda ? Digadaikan !? Masya’Allah.
Ayo-ayo siapa yang ingin melamar pekerjaan menjadi pegawaiku. Lowongan! Lowongan!. Lowongan! Lowongan! Lowongan! Lowongan! Tidak berijazah tidak apa-apa. Lowongan! Lowongan! Siapa mau lowongan. Lowongan, lowongan!. (Seperti bernyanyi) Lowongan tuan lowongan. Aku butuh orang bukan pengkhianat. Lowongan. Anda mungkin (Kepada penonton. Tak ada jawaban. Out stage)

STAGE REMANG-REMANG. PARTIWI MEMUNGUTI BONEKA-BONEKA PLASTIK DAN MEMASUKANNYA KE DALAM KERANJANG. KAKEK DAN NENEK TERSEOK-SEOK MEMBAWA BUKU BESAR. KEMUDIAN IA MEMBUKA LEMBARAN BUKU BESAR ITU DAN MENULIS SESUATU. KAKEK MENULIS DENGAN PENUH PERASAAN.

KAKEK
Kesaksian: Hari ini, hari yang ke 10590, kami menulis kesaksian di atas lembar hidup dengan tinta kejujuran. Bumi dan langit adalah saksinya. Waktu adalah hakimnya. Halaman tiga puluh lembar terakhir dari kehidupan Tuan Jabat: Tercatat, mimpi-mimpinya telah berakhir, tetapi kerakusan masih mengejarnya. Dihari terakhirnya ia lari dari kursi goyangnya, yang selama ini untuk memuja mimipi-mimpinya. Ia lari meninggalkan kekalahan yang menyedihkan. Ia terus berlari mengejar mimpinya.
Bila hadirin sekalian bertemu, terimalah dengan wajar. Jangan lupa sedikit menyanjungnya, maka ia akan bergembira seperti anak kecil. Hari ini Tuan Jabat telah mencari dirinya yang dulu, hilang entah kemana. Dan hari ini kerajaan mimpinya, hanya tinggal lembaran hitam, yang perlu Anda ketahui. Di sana tercatat prasasti besar : Kekuasaan Bukan Dunia Imajinasi dan Bukan Dunia Rekayasa. Sekian.

PARTIWI MENYANYI LAGU BUAIAN. LIGHTING PERLAHAN MEREDUP. SUARA LONCENG, ENTAH BERAPA KALI. LIHTING BLACK OUT. PENONTON TEPUK TANGAN

Surabaya, 1994
R Giryadi
(Sutradara teater)

NB :
Naskah ini, kali pertama ditulis tahun 1994 dan dikembangkan terus sampai tahun 199 Diketik ulang dengan sedikit perubahan tahun 200 Sampai sekarang naskah ini belum pernah dipentaskan.
Jika ada yang berminat mementaskan, silahkan mementaskan tanpa dipungut royalty (Asal untuk kepentingan teater, bukan komersial).
3. Naskah ini bisa dikembangan dengan berbagai pendekatan.
Bahkan naskah ini memungkinkan dikembangkan dialog-dialognya.
bagi kelompok yang mementaskan hanya diwajibkan memberitahukan hasilnya dengan mengirimkan, data apapun (catalog, berita, resume, foto) kepada penulis.


Read more »»  

KONGRES UNGGAS


NASKAH TEATER REMAJA
KONGRES UNGGAS
JUARA II
LOMBA PENULISAN NASKAH TEATER REMAJA TAMAN BUDAYA JAWA TIMUR
2006




PELAKU

1. NY. ANGSA
2. NY. BABON
3. NONA BEBEK
4. NY. KUTILANG
5. NY. KASUARI
6. NY. BANGAU
7. NONA ITIK
8. NONA MERPATI
9. NONA ITIK
10. GAGAK
11. KAKAK TUA
12. SAWUNG JAGO
13. SWAN SONG
14. PELIKAN
15. JOKO PERKUTUT
16. NYI CENDRAWASIH
17. NYI KUNTIL









BABAK I

RUANG TAMU MEWAH SEBUAH BANGUNAN BESAR MILIK NY. BANGAU. DISINI AKAN DILANGSUNGKAN PERTEMUAN RUTIN PARA UNGGAS; ARISAN. YANG SUDAH TERLIHAT DATANG LEBIH DULU NY. KUTILANG, NY. BABON DAN NONA BEBEK. DITEMANI TUAN RUMAH, MEREKA SEDANG ASYIK NGRUMPI NONA ITIK, PUTRI NY. BANGAU, SIBUK MELAYANI PARA TAMU. NYI KUNTIL, PENGAWAL NY. KUTILANG, DUDUK MENYENDIRI DI SALAH SATU SUDUT RUANG ITU DENGAN ANGKERNYA, SAMBIL MELAHAP HIDANGAN YANG DISAJIKAN. TIDAK LAMA KEMUDIAN, MUNCUL NY. ANGSA BERSAMA NONA MERPATI PUTRINYA, DIIRINGI PENGAWAL SETIANYA JAKA PERKUTUT.

ANGSA
Sedang membicarakan apa, kok kedengarannya meriah banget.

BABON
Itu lho Jeng Bebek aneh-aneh saja. Dia bilang jago-jago kita tambah gila saja. (TERTAWA). Padahal, sejak dulu yang namanya jago itu memang gila. Apalagi kalau melihat perempuan-perempuan muda, cantik dan agak menggoda. (tertawa)

ANGSA
O, begitu

BABON
Iya, Jeng Bebek juga mengatakan, para jago kita tingkat kegilaannya sudah sangat tinggi. Mana ada gila kok tinggi. Lantas, cara mengukurnya bagaimana. (tertawa). Kata Jeng Bebek lagi, penjajahan dan kesewenang-wenangan para pejantan terhadap para betina sudah keterlaluan. (tertawa lagi, sambil tersedak-sedak)

KUTILANG
Lho, benarkan, Tante. Pejantan-pejantan kita tambah brutal dan tidak menghargai para betina sama sekali. Kalau punya pangkat, kedudukan dan uang, mereka akan kawin dimana-mana. Tidak peduli perasaan para betina yang dikawini. (berhenti sejenak). Kalau tidak punya pangkat, kedudukan atau uang, tapi merasa sedikit tampan, ya mengobral janji di mana-mana. Nah, kalau tidak punya semua itu, ya main perkosa.

BABON
Tapi tidak semua pejantan seperti itu. Buktinya suami saya, Mas Sawung Jago, biarpun punya derajat dan uang, tidak pernah ngobral nafsu dimana-mana.

ANGSA
Saya kok setuju dengan Tante Babon. Tidak semua pejantan kita seperti itu. Masih banyak yang memiliki moral bersih.

BEBEK
Ah, itu hanya menghibur diri.

BABON
Lho, menghibur diri bagaimana. Itu kan kenyataan. Buktinya, masih ada pejantan seperti suami saya, suami Jeng Kutilang, Jeng Bangau, Jeng Kasuari dan Jeng Angsa.

BEBEK
Jumlah itu belum bisa dijadikan bukti. Nyatanya hampir setiap hari koran-koran, radio dan televisi menyajikan berita kebrutalan para pejantan kita.

BABON
Ah, itu kan memang kerjaan wartawan dan lahan penghidupan media massa. Kalau tidak menyajikan hal semacam itu, ya tidak akan ada yang beli koran, dengarkan radio atau nonton televisi.

ANGSA
Ya, tidak begitu, Mbakyu. Apa yang dimuat koran, diberitakan di radio dan ditayangkan di televisi, pasti berdasarkan sebuah fakta. Mereka tidak mungkin berani menyiarkan berita kalau tidak benar.

BEBEK
Mungkin saja. Siapa sih yang tidak tahu prinsip media massa. Yang penting kan laku dijual. Nggak peduli benar atau salah, merugikan atau menguntungkan orang lain, pokoknya bisa dijual. Lagi pula, masyarakat kita kan memang paling senang baca berita seperti itu.

BANGAU
Waduh, ngobrolnya kok jadi serius begitu. Sudah. Ayo, dimakan lagi hidangannya. Kalau terlalu dingin, nanti nggak enak lho.

SEMUA DIAM UNTUK BEBERAPA SAAT. MEREKA ASYIK MENIKMATI HIDANGAN YANG DISODORKAN OLEH TUAN RUMAH. PEMBICARAAN MEREKA DIALIHKAN KE HAL-HAL YANG LAIN. RINGAN YANG PENTING NGRUMPI. DI SUDUT LAIN, JOKO PERKUTUT ASYIK MELADENI NONA MERPATI DAN NONA ITIK BERSENDA GURAU, YANG SESEKALI DILIRIK OLEH NY. ANGSA

KASUARI
Kalau saya pikir-pikir, pendapat Jeng Bebek itu benar. Tapi ucapan Tante Babon juga betul.

BABON
Eeee, lha … gimana sih Jeng Kutilang ini. Mana mungkin mendukung saya, kok juga mendukung Jeng Bebek. Itu tidak tegas namanya. Plin-plan. Iya kan, Jeng. (tertawa sinis sambil memandang berkeliling, mencari dukungan)

BANGAU
Benar. Kita tidak boleh mendua. Dalam setiap persoalan, kita seharusnya hanya mendukung salah satu pihak. Tidak bisa keduanya. Bisa runyam nanti.

KASUARI
Yang saya maksudkan begini. Jeng Bebek benar karena semua media massa, baik cetak maupun elektronik, selalu menyajikan kebrutalan para pejantan kita. Sementara Tante Babon benar, karena memang tidak semua pejantan bermoral bejat.

ANGSA
Saya setuju dengan pendapat terakhir. Kita memang tidak boleh seenaknya sendiri. Menyamaratakan, atau istilah ilmiahnya menggeneralisir setiap persoalan. Segala sesuatunya harus kita teliti dan kemudian kita analisis. Dus, kita tidak boleh mengungkapkan statement secara ngawur. Asal bicara.

BABON
Lha, benarkan apa yang saya katakan. Kita tidak bisa seenaknya sendiri, mengatakan semua pejantan kita sudah bejat moralnya, padahal yang melakukan hanya seekor pejantan. Wong suami saya tidak begitu, kok.

ANGSA
Jeng Babon juga tidak bisa menyalahkan Nona Bebek, hanya karena suami Jeng tidak begitu. Berarti yang bejat hanya seekor dan yang baik juga hanya satu ekor. Tidak bisa dijadikan dasar analisis.

BABON
Jeng Angsa ini aneh. Saya dinilai salah, tapi juga benar. Jeng Bebek juga dinilai begitu. Lantas, yang terbaik bagaimana. Kan tidak mungkin salah semua atau benar semua. Pasti hanya satu yang salah dan satunya benar.

ANGSA
Dalam dunia keilmuwan, hal itu bisa saja terjadi. Salah semua atau benar semua.

BABON
Wah, ini gimana, to. Saya kok jadi bingung. Malah jadi tidak nyambung. Benar semua atau salah semua. Ah, tidak tahu saya.

BANGAU
Iya. Saya juga jadi bingung. Mungkin Jeng Angsa bisa menjelaskan, sehingga kami jadi mudheng.

ANGSA
Begini lho Jeng. Pendapat atau ucapan yang disampaikan, tapi benar berdasar fakta atau penelitian, belum bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Jadi, bisa benar atau salah semua. (semua yang hadir manggut-manggut, meski ada beberapa yang tidak mengerti sama sekali). Nah, untuk mengetahui apakah pendapat atau ucapan itu benar atau salah, maka harus diadakan penelitian. Dus, berarti butuh waktu yang cukup panjang dan dana yang agak besar.

BABON
Wah, kok jadinya malah ruwet. Masak hanya dari omong-omong harus begitu panjang dan lama penyelesaiannya. Kalau saya, tinggal setuju atau tidak.

BEBEK
Ya ndak bisa hanya sesederhana itu kalau masalahnya menang luas dan besar. Apalagi menyangkut sekelompok kaum. Cara yang terbaik yang seperti yang dikemukakan Jeng Angsa. Harus lewat penelitian. Paling tidak ya harus lewat forum musyawarah nasional atau bahkan musyawarah internasional.

BANGAU
Waduh, waduh. Kok jadi tambah ruwet begitu.

BABON
Iya. Pembicaraan sederhana kok tiba-tiba jadi ruwet begitu, sampai harus mengadakan penelitian dan musyawarah segala.

ANGSA
Itu kalau nyonya-nyonya di sini mau menguji kebenaran dari apa yang sudah diperbincangkan tadi secara ilmiah. Kalau tidak, kita hanya bicara dan berdebat terus, tanpa tahu ujung pangkalnya dan tidak mengerti mana yang benar, mana yang salah. Apa kita mau disini seharian hanya untuk memperdebatkan hal yang tak kita ketahui.

BABON
Ya jelas tidak mau saya. Kami kan masih punya kegiatan lain. Paling tidak ya sebagai ibu rumah tangga dan istri.

BANGAU
Kalau saya tidak jadi masalah. Kalau semuanya mau tinggal disini lebih lama dan berbincang-bincang, silahkan. Tapi seperti kata Tante Babon tadi, bagaimana dengan aktivitas kebabonan kita.

KASUARI
Saya setuju dengan pendapat Jeng Angsa. Kita harus melakukan penelitian untuk menjernihkan persoalan ini. Kalau Jeng Bebek bagaimana.

KUTILANG
Melakukan penelitian, akan sia-sia saja. Di samping memakan waktu lama, juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sementara, hasilnya sulit diyakini kebenarannya. Kalau saya lebih setuju mengumpulkan betina dari seluruh dunia dan mengadakan musyawarah untuk membuat resolusi.

BANGAU
Wow, mengumpulkan betina dari seluruh dunia?

BABON
Ck … ck … ck, itu ide gila. Lalu biaya untuk menyelenggarakan acara itu cari di mana?

BEBEK
Kita bebankan pada negara. Selama ini, kalau para pejantan mengadakan acara pasti membebankan seluruh biaya pada negara. Kalau sekali-kali kegiatan para babon dibiayai negara, kan tidak ada jeleknya.

KASUARI
Bagaimana nyonya-nyonya, apakah semuanya setuju dengan gagasan, Jeng Bebek. (tidak langsung terdengar jawaban. mereka masing-masing sibuk berbicara sendiri-sendiri). Bagaimana nyonya-nyonya setuju?

KOOR
Setuju …………………………

BABAK II

SEBUAH RUANGAN BESAR ATAU LAPANGAN YANG CUKUP RINDANG. MASIH TAMPAK LENGANG. TAPI RUANGAN ITU SUDAH DITATA SEDEMIKIAN RUPA UNTUK KEPERLUAN MUSYAWARAH ATAU SEMINAR INTERNASIONAL. TAMPAK JOKO PERKUTUT, NYI CENDRAWASIH, NYI KUNTIL. DI BERANDA, TAMPAK TANTE BABON, DENGAN PAKAIAN YANG SERONOK, BERSAMA SAWUNG JAGO SUAMINYA.

BABON
Mas, sana ikut nimbrung, kumpul sama jago-jago teras kita. Jangan hanya menyendiri di belakang. Setidak-tidaknya kamu masih trah dalam. Masih dialiri darah biru. Masak kumpul sama jago kampung yang tidak berprestasi.

SAWUNG JAGO
Habis, saya kan tidak terdaftar sebagai panitia. Dalam susunan yang kalian buat nama saya kan tidak ada. Lha kok saya disuruh kumpul sama jago-jago teras. Saya kan malu.

BABON
Meski kamu tidak tercantum dalam daftar panitia, saya kan termasuk panitia inti. Panitia yang ngurusi konsumsi.

SAWUNG JAGO
Orang seksi konsumsi kok panitia inti.

BABON
Lho, apa acara ini nanti bisa berlangsung sehari penuh kalau tidak ada konsumsinya. Yang penting konsumsi.

SAWUNG JAGO
Sudahlah. Tidak usah macem-macem. Pokoknya saya hadir. Ada dalam acara ini. Soal kumpul dengan siapa, ndak masalah.

MUNCUL NY. KASUARI, NY. ANGSA, NY. BANGAU, NONA ITIK, NONA MERPATI DAN NONA BEBEK

KASUARI
Jeng Babon sudah datang.

BABON
Lho, ya jelas dong.

KASUARI
Bagaimana konsumsinya, Jeng?

BABON
Pokoknya beres. Hanya saja, pencuci mulutnya belum terbayar.

ANGSA
Lantas, yang kerja hari ini sudah disiapkan konsumsinya atau belum.

BABON
Lha, ya belum. Kan kemarin anggarannya tidak masuk ke anggaran saya. Mereka kan sudah mengajukan anggaran sendiri.

NONA MERPATI
Saya dan Nona Itik sudah berembug dengan Mas Joko Perkutut. Kami yang ngurus konsumsinya. Untuk jago lainnya, diurusi Nyi Cendrawasih dan Nyi Kunti.

NONA ITIK
Iya. Mas Joko Perkutut tidak senang kalau dibuatkan konsumsi seperti jago kebanyakan. Maklum, dia kan mahasiswa. Jadi segalanya harus serba spesial. Yang melayani juga harus spesial. Kami menyediakan diri sebagai sukarelawan.

ANGSA
Kalian berdua ini memang lancang. Sejak dulu, Joko Perkutut kan jadi urusan saya. Ada-ada saja. (pergi sambil marah-marah. yang tinggal hanya sawung jago).

SAWUNG JAGO
Babon, dari dulu bisanya hanya petok-petok, dan Joko Perkutut, nasibmu baik benar. Waktu aku mengincar Angsa, kamu datang merebut. Kini, ketika aku sedang mengincar Merpati dan Itik, kamu lagi-lagi nimbrung. Masih muda mau seenaknya. Ya yang tua, ya yang muda. (tiba-tiba kakak tua dan gagak masuk sehingga mengagetkan sawung jago)

KAKAK TUA
Kakang Sawung Jago malah sudah sampai disini. Saya yang dipilih jadi penerima tamu malah datang belakangan. Maaf, lho Mas.

SAWUNG JAGO
Tidak apa-apa. Tadi sekalian mengantar istri saya, jadi ya agak pagi berangkatnya.

KAKAK TUA
O, iya. Bagaimana kabarnya, Mas. Lama tidak bertemu, kan sehat-sehat saja?

SAWUNG JAGO
Yah, lumayan meski tambah kurus.

KAKAK TUA
Ah, kakang Sawung Jago ini ada-ada saja. Kok lama ndak kelihatan itu kemana saja, Kang?

SAWUNG JAGO
Namanya juga usaha, jadi ya tidak sempat kemana-mana. Apalagi pada era globalisasi seperti sekarang ini, kita harus kerja makin keras.

GAGAK
Memang benar. Saya juga lihat sendiri cara kerja Kakang Sawung Jago. Pakai kejar-kejaran segala. Apa pengusaha sekarang juga diajari perang-perangan, kok kakang kemarin sepertinya serius mengejar musuh. (sawung jago tidak menjawab. matanya melotot memandang. maksudnya mau marah, tapi tidak jadi. setelah mendengus kesal, lantas pergi meninggalkan kakak tua dan gagak yang tersenyum sinis). Kakang Sawung Jago itu aneh. Sudah punya istri resmi dan beberapa simpanan, kok ya masih senang mengejar ayam-ayam dara. Kemarin Itik dan Merpati yang dapat giliran dikejar-kejar mau diperkosa. Untung keduanya cukup lincah dan gesit, sehingga tidak tertangkap oleh si tua bangka itu.

KAKAK TUA
Yah, begitulah yang namanya jago. Lebih-lebih kalau masuk klasifikasi pejantan. Bedanya, ada yang bisa lebih menjaga diri. Melihat situasi dan kondisi. Tapi ada juga yang tidak mau menjaga diri. Ujas-ujus, grusa-grusu. Tidak angon situasi. Berbeda dengan kamu. Tidak usaha dikejar-kejar, para betina akan datang sendiri.

ACARA PERTEMUAN DIMULAI

BEBEK
Saudara-saudara betina. Kita tahu bahwa para jago dimana-mana senang wayuh. Ini berarti mereka tidak menghormati para betina. Kenapa mereka tidak menghargai kita, karena salah kita sendiri. Yaitu mau menerima perlakuan sewenang-wenang mereka. Padahal kita bisa mencari makan sendiri. Bahkan mencarikan makan anak-anak kita. Tapi kenapa kita malah diperlakukan sewenang-wenang oleh para jago, yang tidak pernah mempedulikan anak-anaknya. Ini benar-benar keterlaluan. (terdengar tepuk tangan riuh). Kita berbeda dengan yang namanya manusia wanita. Mereka kebanyakan tidak bisa cari makan sendiri, sehingga sangat tergantung pada manusia laki-laki. Maka wajar kalau manusia wanita rela disewenang-wenang manusia laki-laki. Apalagi di dunia manusia ada peribahasa surga dan neraka ikut laki-laki. Tapi di dunia kita, tidak ada peribahasa semacam itu. (terdengar tepuk tangan lagi). Agar mengetahui wewenang, dan para jago tahu yang namanya keadilan, maka para betina di seluruh dunia harus bersatu dalam sebuah wadah, yang nantinya akan menetapkan aturan main bersama penguasa, dan menyampaikan resolusi. (tepuk tangan meriah lagi. tiba-tiba ny. angsa tampil berbicara)

ANGSA
Saudara-saudara. Menyambung langsung apa yang baru saja disampaikan Nona Bebek, saya sampaikan beberapa catatan penting. Pertama, kita harus menyusun sebuah resolusi yang isinya antara lain jago satu hanya boleh memiliki atau mengawini seekor betina, jago dan betina punya hak sama dalam perceriaan. Kedua, kita harus secara aktif mengadakan pendidikan, melakukan penyuluhan dan pelatihan tentang hak, tanggungjawab, wewenang, serta tugas para betina maupun jago dalam pergaulan hidup sehari-hari. Ketiga, kita harus selalu mengkampanyekan bahwa betina bukan hanya sekedar pabrik telur yang bisa diperlakukan sewenang-wenang. Para betina punya harga diri yang patut diakui para jago. Dengan demikian, masing-masing bisa saling menghargai satu sama lain. Tidak perlu menang-menangan. (tepuk riuh)

SWAN SONG
Kami memahami betul apa yang disampaikan kedua betina terdahulu. Kami pun dulu tak terhindar dari keadaan dan situasi semacam itu. Tapi itu masa lalu. Kini kami mulai memasuki kehidupan yang sangat bebas. Maklum, kami dari negara yang sudah sangat modern. Perkawinan bukan lagi hal yang penting. Kami bebas melakukan hubungan. Betina bisa melayani selusin jago, begitu pula sebaliknya, tanpa harus memikirkan pernikahan. (terdengar gerutuan dan makian). Harap jangan berisik. Ingat, kami dari masyarakat modern. Jadi soal tata tertib, unggah-ungguh dan semacamnya adalah nonsens. Terlalu usang dan ketinggalan zaman. Kami justru punya usulan, membuat resolusi buat manusia yang memperlakukan bangsa kami dengan semena-mena. Sama sekali tidak hewani. Masak kaum betina kami selalu dikurung secara bergerombol dalam satu kandang dan tidak pernah diberi seekor pun jago, tapi setiap hari diharuskan bertelur. Hal itu terus berlangsung sampai kematian menjemput mereka. Ini benar-benar tidak adil dan harus dihentikan.

PELIKAN
Saya setuju dengan Swan Song tadi. Bikin resolusi yang memprotes sistem manusia memelihara ayam. Soal wayuh, memang perlu dipertimbangkan kembali. Seandainya dalam sebuah kelompok ayam ternyata jumlah jagonya lebih banyak dibanding betinanya atau sebaliknya, bagaimana. Kita perlu mencontoh wayang. Drupadi itu suaminya lima, yaitu Pandawa. Karena dinegaranya memang kekurangan wanita dan terlalu banyak pria. Sementara Kresna istrinya tiga, karena di Drawati kekurangan pria dan terlalu banyak wanita. Usulan betina lokal baru bisa dijalankan kalau situasinya seperti di Madura dan Awangga, dimana jumlah wanita dan pria seimbang. Dengan kata lain, wayuh hanya diperbolehkan bukan karena kebutuhan seks semata, seperti yang dianut ayam ras, tapi karena keadaan yang memaksa.

KASUARI
Untuk menyatukan para betina di seluruh dunia, disepakati berdirinya perkumpulan betina se dunia yang diberi nama KONGRES UNGGAS SE DUNIA, yang disepakati 1. Jago tidak boleh wayuh, 2. Betina tidak boleh wayuh, 3. Jago boleh menceraikan betina, 4. Betina bisa menceraikan jago, 5. Manusia dilarang membudidayakan ayam seenaknya sendiri, 6. Betina yang dipelihara oleh manusia untuk tujuan penghasil telur, harus tetap diberi jago yang jumlahnya sama banyak dengan jumlah betina. Begitu pula yang dipelihara untuk diambil keturunannya. Bagaimana pada semua yang hadir, apakah pembentukan wadah dan isi resolusi disetujui. (terdengar jawaban koor setuju).

BLACK OUT

BABAK III

FADE IN
TERAS SEBUAH RUMAH, MALAM BULAN PURNAMA, NY. KUTILANG DUDUK TERMENUNG SEORANG DIRI. TIBA-TIBA DATANG JENG BABON. MEREKA BERDUA NGOBROL. TAMPAK ASYIK. SEMENTARA SUASANA TAMPAK LENGANG DAN SEPI.

BABON
Ngalamun, ya Jeng?

KASUARI (agak terkejut).
Ah, enggak kok. Mari Mbakyu, silahkan duduk. Dari mana, kok jam sekian masih di luar. Malah sampai disini.

BABON
Tidak dari mana-mana. Saya memang sengaja kemari untuk ngobrol. Di rumah sepi sekali.

KASUARI
Sama, Mbakyu. Rumah saya sekarang juga sering sepi. Apa Sawung Jago sering pergi?

BABON
Yah, begitulah, Jeng. Maklum, namanya saja wiraswasta. Jadi ya sering pergi. Katanya untuk meningkatkan usaha.

KASUARI
Dan Mbakyu mempercayainya.

BABON
Ya jelas, dong. Sejak adanya Perkumpulan Betina Mardika dan resolusi yang dihasilkan beberapa waktu lalu, buat apa tidak mempercayai suami yang terus keluar rumah untuk mengembangkan usaha. Lagi pula, sejak sebelum musyawarah yang baru lalu dilaksanakan, suami saya merupakan tipe jago yang setia. Dia tidak pernah menyeleweng, meski pergi dari rumah sampai berhari-hari.

KASUARI
Saya juga dulu punya pandangan yang sama dengan Mbakyu. Kalau suami saya pamit keluar rumah sampai menginap, kadang beberapa hari, saya tidak pernah menaruh curiga. Paling-paling untuk meningkatkan karier. Tapi setelah musyawarah besar beberapa waktu lalu, saya jadi sering mikir. Jangan-jangan suami saya sudah kelurahan penyakitnya manusia. Bilangnya nglembur, ndak tahunya kencan dengan betina lain.

BABON
Weh … weh … weh, Jeng Kasuari kok jadi begitu. Jangan-jangan malah sampeyan yang sudah ketularan penyakit manusia perempuan. Curigaan saja kerjanya. Tidak pernah percaya sama manusia lain. Termasuk pada suaminya sendiri. Amit-amit, Jeng. Mbok ya yang semeleh, gitu. Jangan terlalu curiga. Kalau suami kita beri kepercayaan penuh, tidak-tidaknya kalau mereka nyeleweng.

KASUARI
E … namanya jago kok diumbar. Ya entek omah, entek ngalas, Mbakyu. Para jago itu ndak bisa dilair-batini. Dikasih kesempatan, ya nglonjak.

BABON
Ah, apa seburuk itu namanya jago, Jeng?

KASUARI
Ya bukan hanya para jago yang punya watak buruk seperti itu. Para betina juga banyak yang senang bermuka dua.

BABON
Walah, istilah apalagi itu. Bermuka dua.

KASUARI
Artinya, di muka orang banyak sangat berapi-api membela dan memperjuangkan hak kaumnya. Tapi di belakang, selingkuh.

BABON
Masak ada betinayang punya watak seperti itu. Jeng Kasuari ini kok ada-ada saja. Senangnya kok guyon.

KASUARI
Tidak, Mbakyu. Saya tidak guyon. Ini serius. Dan betina seperti itulah yang sering ngrusak tatanan. Merekalah yang sering memancang para jago untuk nyleweng.

BABON
Jangan-jangan … (agak gelisah, tapi kemudian menghibur diri sendiri).
tapi saya percaya sama kesetiaan suami saya, kok. jago lain bisa saja mudah digoda, tapi suami saya tidak.
(ny. kasuari tersenyum kecut. tiba-tiba nyi kuntil dan nyi cendrawasih datang dengan sikap tak menentu. marah, gelisah, kecewa campur jadi satu. seperti tak mengetahui keberadaan kasuari dan babon).

NYI KUNTIL
Wah, gawat. Kacau. Tidak berperi kebinatangan.

NYI CENDRAWASIH
Ya. Merusak tatanan. Gajah midak rapak.

KASUARI
E … e … e, ini ada apa. Datang-datang kok kayak orang ayan. Bengak-bengok ndak karu-karuan. Kalian ini ada apa. (nyi kuntil dan nyi cendrawasih terkejut, was-was dan takut).

NYI KUNTIL
Eh … oh … ah, nggak ada apa-apa kok Nyonya. Cuma anu … e … anu …

KASUARI
Cuma apa. Anu apa. Ayo ngomong yang benar.

BABON
Iya. Mbok kalau bicara itu yang jelas, tegas. Tidak plinthat-plinthut seperti itu. Ada apa, ayo.

NYI CENDRAWASIH
Wong cuma anu, kok. Apa itu, anu dheng … ah, bingung aku. Mbok kamu saja yang menjelaskan.

KASUARI
Sudah, ayo. Salah satu dari kalian harus bicara terus terang dan yang sebenarnya.

NYI KUNTIL (setelah berusaha sekuat tenaga, akhirnya bisa juga bicara).
Begini, Nyonya. Kami berdua kebetulan sedang jalan-jalan. Ketika sampai di taman kota, kami lihat pemandangan yang nganeh-anehi.

BABON
Nganeh-anehi bagaimana. Mbok bicara to the point saja, gitu lho.

NYI KUNTIL
Kami melihat suami Nyonya berdua bersama Nona Bebek dan Nona Merpati, di tempat remang-remang, di taman kota.

KASUARI
Itu kan biasa. Mereka mungkin sedang jalan-jalan sekeluarga. Menikmati malam terang bulan yang indah ini.

BABON
Iya. Begitu saja kok didramatisir. Senangnya kok bikin dheg-dhegan.

NYI CENDRAWASIH
Tapi mereka berkelompok secara terpisah-pisah.

KASUARI
Lho, yang namanya keluarga itu kan ya berkelompok-kelompok. Biasakan.

NYI KUNTIL
Bukan begitu, Nyonya. Mereka berkelompok dua-dua. Berpasangan!

KASUARI
Apa …! Mereka berpasangan di taman kota?

NYI KUNTIL + NYI CENDRAWASIH
I … I … ya …

KASUARI
Wah, gawat. Kita harus menyelidikinya ke sana, Mbakyu.

BABON
Iya, benar.

KASUARI
Ayo. Nyi Kuntil dan Nyi Cendrawasih, tunjukkan tempatnya.

NYI KUNTIL + NYI CENDRAWASIH
Baik, Nyonya.

MEREKA BERGEGAS PERGI KE TAMAN KOTA UNTUK MENYELIDIKI KEBENARAN UCAPAN NYI KUNTI DAN NYI CENDRAWASIH

BLACK OUT – FADE IN LCD

TAMAN KOTA MALAM HARI TERANG BULAN. SUASANANYA REMANG-REMANG. DI ANTARA RERIMBUNAN TANAMAN TAMAN, TAMPAK ENAM PASANG AYAM SECARA SILUET SEDANG BERCUMBU RAYU. SAWUNG JAGO BERPASANGAN DENGAN NONA BEBEK, GAGAK DENGAN NONA ITIK, JOKO PERKETUT DENGAN ANGSA, NAGATUMURUN DENGAN NONA ITIK DAN KAKAK TUA DENGAN BANGAU. DARI KEJAUHAN, TAMPAK
NY. KASUARI, NY. BABON, NYI KUNTIL DAN NYI CENDRAWASIH BERINDAP-INDAP MENDEKATI YANG SEDANG PACARAN. MENELITI TIAP-TIAP PASANGAN DENGAN TELITI DAN CERMAT. SETELAH MENGETAHUI KEBENARAN DARI KATA-KATA NYI KUNTIL DAN NYI CENDRAWASIH,

NY. KASUARI SERTA NY. BABON BERTERIAK HISTERIS LALU JATUH PINGSAN. SEMUA PASANGAN YANG SEDANG PACARAN TERKEJUT, BINGUNG DAN LARI BERSERABUTAN. ADA YANG SAMPAI BERTABRAKAN DENGAN PASANGAN ASLINYA. SITUASI BENAR-BENAR KACAU. SUARA TERKEJUT BERBAUR DENGAN JERIT KESAKITAN. SEKEJAP KEMUDIAN PANGGUNG KOSONG. TINGGAL NY. KASUARI DAN NY. BABON YANG PINGSAN, SERTA NYI KUNTIL DAN NYI CENDRAWASIH YANG BERDIRI BENGONG. KEDUANYA NAMPAK GEDHAG-GEDHEG TIDAK HABIS PIKIR.

Nyi Kuntil
Begitulah ayam. Sama persis dengan manusia. Senang main cinta belakang, suka melanggar ketentuan dan kesepakatan yang sudah dicanangkan.

Nyi Cendrawasih
Mereka senang bikin resolusi, mengkampanyekan hak azasi dan mempropagandakan disiplin rasional, tapi kemudian mereka langgar.

Nyi Kuntil
Memang mengherankan. Beribu peraturan dikeluarkan dan ratusan kesepakatan disetujui, tetap saja terjadi penyelewengan, pelanggaran dan semacamnya. Memang aneh yang namanya ayam dan manusia itu.


T A M A T

Read more »»